Gus Dur dan Gagasan Pluralisme yang Menyejukkan

gus dur dan pluralisme

Pecihitam.org – Memasuki bulan Desember tentu saja beberapa tahun lalu kita ditinggalkan oleh sosok Gus Dur seorang Guru Bangsa yang membawa ide-ide segar dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Gagasan-gagasan itu lahir secara kultural dan murni dari buah pemikiran Gus Dur yang kerap kali dianggap kontroversial. Padahal, jika kita melihat buah pemikirannya kita bisa rasakan bahkan kita bersama merindukan gagasan-gagasan Gus Dur yang menyejukkan.

Pemikiran Gus Dur tentang prulalisme selalu menjadi hal yang penting untuk kita tanamkan dalam kepala kita. Penghargaan terbesar Gus Dur terhadap perbedaan ialah selalu memandang kesetaraan antara pemeluk agama, kepercayaan diakui keberadaannya.

Mengingat pada saat Gus Dur mengembalikan kebebasan beragama yang dimiliki oleh masyarakat Tionghoa dan masyarakat agama lain. Dari sini penghargaan Gus Dur dari menghargai perbedaan ketika saudara yang Tionghoa bisa kembali mendapatkan haknya di negerinya sendiri, Indonesia.

Baca Juga:  Gus Dur dan Warisan Pribumisasi Islam

Mereka bebas merayakan peringatan imlek, kegiatan keagamaan dan adat istiadat Tionghoa secara terbuka di Indonesia tanpa merasa terancam. Sudah seharusnya, keberadaan agama lain di Indonesia diakui dan dihargai keberadaannya.

Mengingat, Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa yang sudah final dengan penghargaannya terhadap keberadaan agama, etnis dan berbagai suku yang ada.

Gus Dur pernah menganalogikan istilah Pluralisme ini sebagai sebuah rumah besar yang terdiri atas banyak kamar dan banyak setiap orang memiliki kamar yang menjadi tempat istirahatnya sendiri-sendiri.

Saat berada di dalam kamar, setiap orang yang ada di dalamnya dapat menggunakan kamarnya serta berhak melakukan apapun di dalam kamar mereka.  

Namun, ketika berada di ruang tamu atau ruang keluarga, maka setiap penghuni kamar wajib melebur untuk menjaga  kepentingan bersama serta wajib bekerja sama merawat, menjaga dan melindungi rumah tersebut ketika terjadi serangan dari luar. 

Baca Juga:  Ulama adalah Ujung Tombak dalam Menangkal Radikalisme dan Kelompok Anti Pancasila

Tidak peduli dari mana asal kamarnya, mereka wajib untuk bersatu melawan penyerang yang mengancam keamanan rumah tersebut.

Dari analogi yang digambarkan Gus Dur ini, jangan menjadikan agama di ruang publik semakin ekslusif dan selalu ingin benar sendiri. Setidaknya menjadi umat beragama baik beragama apapun selalu meleburkan diri dalam ruang publik.

Gagasan inilah yang seringkali disebut sebagai titik balik gagasan pluralisme yang digaungkan Gus Dur. Nampak dari situ, Gus Dur dan pluralisme ini tidak bisa terpisahkan, keduanya selalu berdampingan berjalan sebagai poros pemahaman tentang pluralisme yang utuh.

Dari Gus Dur lah titik-titik perbedaan yang membuat gesekan pemahaman beragama ini dicari titik pangkal persamaan yang dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi perbedaan.

Baca Juga:  Kesaksian Gus Mus: Gus Dur yang Tak Punya Dompet

Tawaran-tawaran pemikiran Gus Dur ini seharusnya selalu kita rawat bersama dan kita ejawentahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cerminan sosok seperti Gus Dur yang toleran menghargai perbedaan ini sudah seharusnya menjadi pilar sekaligus visi-misi terhadap misi kemanusiaan yang kerapkali menjadi ancaman.

Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun bangunan besar yang bernama Toleransi tersebut.

Sebab, dari toleransi tersebut akan menjadi sebuah nilai yang tidak ternilai yakni tercipta harmonisasi kehidupan beragama. Wallahu’alam bisshowab

Arief Azizy

Author at Pecihitam.org
Peneliti di Pusat Studi Psikologi Sosial UIN Sunan Kalijaga
Arief Azizy
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG