Gus Muwafiq; Biografi Lengkap dan Pandangan Beliau Tentang Islam Indonesia

Gus Muwafiq; Biografi Lengkap dan Pangandan Beliau Tentang Islam Indonesia

PeciHitam.orgPerawakan tinggi besar dengan rambut gondrong selalu menyertai style Ulama ini. Pembicaraan dan pembawaan beliau yang lugas berwawasan kebudayaan dan kebangsaan tinggi. Ya, sebuah penggambaran sederhana bagi Gus Muwafiq.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tema pembicaraan dalam setiap ceramah yang sangat dekat dengan budaya masyarakat Nusantara, menjadikan beliau sangat mudah diterima. Kesederhanaan hidup mendorong beliau tidak neko-neko dalam berpenampilan walaupun Gus Muwafiq adalah Dai kelas Nasional.

Pemikiran yang dekat dengan kebudayaan sangat membantu menggambarkan islam sebagai Agama yang rahmatan lil alamin. Islam yang selalu digambarkan Gus Muwafiq adalah Islam santun, tidak Kereng (galak/ menakutkan).

Profil Gus Muwafiq

Gus Muwafiq bernama asli K.H. Ahmad Muwafiq adalah seorang ulama dengan retorika dan pengetahuan yang mumpuni. Beliau kelahiran kota Pelabuhan Lamongan 02 Maret 1974, 46 tahun yang lalu.

Beliau pernah menjadi ndereke KH Abdurrahaman Wahid sejak sebelum menjadi Presiden RI. Dan pada saat menjadi RI-1 beliau diangkat menjadi asisten pribadi Gus Dur sampai lengsernya.

Gus Muwafiq bertempat tinggal di daerah Jombor Kabupaten Sleman Yogyakarta. Perantauan yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN, sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, mantap dengan dakwah yang santun berwawasan budaya.

Beliau juga pada saat kuliah aktif dalam organisasi mahasiswa PMII sebagai orator handal bahkan pernah menjadi Sekjend Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara.

Dakwah dengan pendekatana budaya menjadikan materi ceramah sangat dekat dengan pola pikir serta kehidupan masyarakat kebanyakan di Nusantara.

Islam, Budaya dan Gus Muwafiq

Nusantara sebagai Negara Bhineka dengan berbagai macam suku bangsa membawa berkah yang tidak ternilai. Sisi lain, keragaman juga berbanding dengan banyaknya pemikiran yang muncul dan berkembang ditengah masyarakat dan memiliki massa kecil atau besar.

Ditengah keragaman ini, Islam berkembang pada masa Dakwah Walisongo dibawah otoritas kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Islam menjadi agama popular menggantikan Hindu-Budha yang lebih dulu ada.

Baca Juga:  Gus Muwafiq: Jangan Ngaku Umat Rasulullah Jika Tak Bisa Jaga Keamanan Negara!

Bergantinya pola keagamaan ini sering digambarkan, sirna kertaning bumi, hilang berganti dengan yang baru tanpa meninggalkan jejak.

Penggambaran dakwah Islam walisongo yang mempergunakan media kebudayaan, kesenian dan pendekatan yang Humanis mengilhami Gus Muwafiq melakukan hal sama. Beliau selalu menyasar pemikiran para walisongo sebagai dalil bahwa dakwah santun sangat mujarrab.

Islam dan budaya menjadi dua hal yang tidak perlu dipertentangkan. Beliau selalu berkata, Islam digarap, Jowo digowo (Islam dijalankan dan Budaya jawa disertakan). Ungkapan bahwa Islam bisa mewarnai budaya sangat tepat dalam hal ini.

Pandangan Gus Muwafiq Tentang Islam Indonesia

Pemikiran Gus Muwafiq mengerucut pada sebuah nilai yang didambakan setiap orang, ekspresi keagamaan jangan disalah-salahkan. Membangun ekspresi berislam ala Indonesia bukanlah sebuah paktik heretik.

Ekspresi Islam-Indonesia yang tetap berpijak dan berakar pada tradisi leluhur (tentu yang tidak bertentangan dengan Islam) menjadi jawaban tentang dakwah Islam yang berterima dengan cepat.

Islam yang damai, santun, menghargai pluralitas, penuh kerukunan dan persatuan, dalam bingkai Negara Bnineka seperti Indonesia. Ketidak-setujuan Gus Muwafiq bila Indonesia disebut sebagai negeri kafir atau negeri thaghut hanya karena tidak bersistem formal “Islam”.

Sesungguhnya Indonesia sendiri sudah “Islami” berkat akar budaya Islam sudah tertanam di Nusantara sejak zaman Walisongo.

Beliau mencontohkan Indonesia justru negeri paling syari, setidaknya karena ada banyak konsep dan istilah yang diambil dari bahasa Arab, seperti istilah rakyat (رعية), masyarakat (مشاركة), dan wilayah (ولاية), yang mengandung makna mendalam.

Ia juga tidak sependapat dengan pihak-pihak yang menuduh bahwa cinta Tanah Air adalah bidah heretik dan tidak sesuai dengan syariat Islam. Menurut pendapat dia, kelompok-kelompok yang ingin mewujudkan negara Islam tetapi merusak Tanah Air, meskipun mereka membawa segepok dalil, sesungguhnya tidak paham esensi Islam.

Gus Muwafiq sangat mendambakan terciptanya kerukunan, terjalinnya silaturahmi, dan kuatnya ikatan persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang.

Tiga pokok persaudaraan harus selalu dipupuk dalam kerangka sebagai muslim sejati. Persaudaraan sesama Manusia (الاخوة البشرية), persudaraan sesama anak bangsa (الاخوة الوطنية), persaudaraan sesama islam (الاخوة الاسلامية).

Baca Juga:  Ceramah Gus Muwaffiq Tidak Salah, Tapi Otakmu yang Belum Nyampai

Logika Penistaan dan Basyariah Nabi

Gus Muwafiq sebagai Ulama dengan jam terbang tinggi dan komitmen terhadap Islam berwawasan Budaya, Islam Rahmatan Lil Alamin, bukan tidak luput dari kritikan.

Bahkan beberapa menyebutkan kontroversial. Akibat kejadian akhir tahun lalu beliau dengan berbesar hati tabayyun dan memohon maaf kepada khalayak tentang tindakan beliau yang alfa.

Kebesaran hati yang disambut para pembenci dengan menggalang massa untuk melakukan aksi. Beberapa yang tersulut memang benar-benar melakukan aksi untuk mengutuk serta menyeret dalam kerangka hukum.

Melihat pada pokok permasalahan tentang sifat Nabi Muhammad SAW yang sempurna kiranya tidak ada seorang muslimpun akan menghina beliau.

Beliau oleh Allah SWT disifati dan dianugerahi sifat-sifat kesempurnaan sebagai manusia. Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah sendiri, Nabi Muhammad SAW disifati dengan 4 sifat wajib, shidiq, amanah, fathonah dan tabligh. Disamping sifat-sifat pribadi yang jauh dari sifat jelek, maksum.

Akan tetapi Nabi Muhammad SAW juga mempunyai sifat Basyariah sebagaimana manusia kebanyakan. Beliau tetap makan, minum, pernah lupa, marah dengan kadar tepat, memiliki istri dan sifat kemanusiaan lainnya. Kesempurnaan Nabi SAW tidak akan melebihi sifat kesempurnaan Allah SWT.

Terlepas dari konteks beliau meminta maaf dan sudah bertobat sebagai saran dari para Ulama sepuh NU, perkataan dalam kajian fiqh mempunyai dua bentuk. Yaitu Lafadz Sharih (Jelas) dan Kinayah (butuh Penjelasan dan motif Niat).

Perkataan yang jelas Lafadz Sharih menghina kepada Nabi Muhammad SAW, misal dengan membandingkan beliau dengan benda atau sesuatu yang tidak pantas.

Sedangkan Gus Muwafiq bisa dikategorikan dalam bentuk lafadz kinayah yang pasti akan membutuhkan “MOTIF” dan niatan menghina atau tidak.

Dalam penggunaan istilah sharih atau kinayah memang manusia sering salah paham, bahkan dalam hal akidah. Allah SWT menjelaskan kepada Adam AS tentang pengetahuan di dunia;

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين

Baca Juga:  Gus Muwafiq Dipolisikan FPI, GP Ansor: Urus SKT Saja Tidak Beres!

Artinya; “Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Ayat di atas menerangkan bahwa Allah SWT mengajarkan kepada Adam AS tentang Istilah, pengetahuan dan Ilmu. Istilah-istilah dalam pengajaran Allah SWT kepada Adam semua bersifat benar. Sedangkan kita sering kali mengubah istilah yang telah Allah tetapkan.

Sebagaimana salah pengertiannya orang Arab Jahiliyyah tentang Latha, Uzza, Hubal. Mereka menggambarkan Latha, Uzza dan Hubal dengan patung dan disembah. Mereka mensifati patung dengan berbagai sifat ketuhanan dan mereka mulai menyembah patung. Inilah awal kemusyrikan orang Arab Jahiliyah. Firman Allah SWT;

إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

Artinya; Itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka (Qs. An-Najm: 23)

Sifat Basyariah Nabi Muhammad SAW sendiri disematkan Allah SWT kepadanya untuk menghentikan pensifatan manusia kepada Nabi dengan sifat-sifat ketuhanan.

Dalam kerangka ini, Gus Muwafiq menerangkan sifat Basyariah Nabi dengan kata-kata yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW. Semoga Allah segera menyelesaikan semua kerancuan ini. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq