Hadits Shahih Al-Bukhari No. 104 – Kitab Ilmu

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 104 – Kitab Ilmu ini, menjelaskan tentang penjelasan yang sama pada bab sebelumnya yaitu larangan keras berdusta dengan membawa nama Rasulullah saw, karena hal tersebut akan membuat pelakunya dimasukkan kedalam neraka. Larangan ini sangat jelas dan terang bagi mereka yang selalu mengada-adakan kedustaan atau membuat hadis palsu dan menyandarkannya kepada Rasulullah saw. Maka sangat keras ancaman yang diancamkan kepada mereka. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Ilmu. Halaman 385-387.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ جَامِعِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ لِلزُّبَيْرِ إِنِّي لَا أَسْمَعُكَ تُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا يُحَدِّثُ فُلَانٌ وَفُلَانٌ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أُفَارِقْهُ وَلَكِنْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Jami’ bin Syaddad] dari [‘Amir bin ‘Abdullah bin Az Zubair] dari [Bapaknya] berkata, “Aku berkata kepada [Az Zubair], “Aku belum pernah mendengar kamu membicarakan sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana orang-orang lain membicarakannya?” Az Zubair menjawab, “Aku tidak pernah berpisah dengan beliau, aku mendengar beliau mengatakan: “Barangsiapa berdusta terhadapku maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka.”

Keterangan Hadis: Zubair dalam hadits ini adalah Ibnu Al Awwam (Zubair bin Awwam).

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 642-643 – Kitab Adzan

كَمَا يُحَدِّث فُلَان وَفُلَان (Sebagaimana si fulan dan si fulan lainnya meriwayatkan hadits). Diantara nama kedua orang ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah. adalah Abdullah bin Mas’ud.

لَمْ أُفَارِقهُ (Aku tidak pernah berpisah dengannya), artinya tidak pernah berpisah dari sisi Nabi saw. Dalam riwayat Ismaili ditambahkan kata مُنْذُ أَسْلَمْت artinya bahwa Zubair tidak pernah berpisah dari sisi Nabi sejak dia masuk Islam. Dengan kata lain sebagian besar waktunya dihabiskan bersama Nabi. Karena Zubair ikut hijrah ke Habasyah dan tidak ikut hijrah bersama Nabi ke kota Madinah. Kata ini diucapkan Zubair dalam rangka menjawab pertanyaan ayahnya, karena Zubair selalu bersama Nabi dan sebagaimana lazimnya dia selalu mendengar hadits-hadits Nabi dan akan menyampaikan kembali hadits-hadits tersebut kepada orang lain, akan tetapi dia tidak melakukan hal tersebut untuk menjaga makna hadits yang disampaikan. Oleh karena itu, kata sambung yang dipakai adalah ولكن  (tetapi).

Zubair menyebutkan hadits dengan jalur sanad v ang berbeda. Dan ayah Hisyam bin Urwah dan Abdullah bin Zubair berkata, Aku tidak banyak meriwayatkan hadits.” Maka kutanya kepadanya kenapa seperti itu, kemudian Zubair berkata, “Wahai anakku, aku dan Nabi terikat persaudaraan yang sangat dekat, bibi Nabi adalah ibuku, istri Nabi Khadijah adalah bibiku. Ibu Nabi Aminah binti wahab dan nenekku Halah binti Wahab keduanya adalah anak perempuan dari Manaf ‘ bin Zahrah, istriku dan istri Nabi Aisyah keduanya adalah bersaudara, akan tetapi aku pernah mendengar Na bi bersabda . . . “

Baca Juga:  Tingkatan Hadits, Definisi dan Pembagiannya

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ (Barangsiapa yang melakukan kebohongan atas namaku) Matan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, Ismail dan Zubair tanpa menggunakan kata مُتَعَمِّدًا (dengan sengaja), sedang Ibnu Majah dan Ismaili dari Muadz dari Syu’bah menambahkan matan sanad dengan kata مُتَعَمِّدًا Lain halnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi dengan jalur sanad yang lain namun lelap bersumber dan Zubair dengan menggunakan lafazh, مَنْ حَدَّثَ عَنِّي كَذِبًا (Barangsiapa berbohong dengan meriwayatkan sesuatu dariku), dalam matan hadits ini tidak menyebutkan kata الْعَمْد (dengan sengaja).

Untuk berpegang teguh pada hadits ini, Zubair memilih untuk tidak terlalu banyak meriwayatkan hadits. Sikap Zubair inilah yang kemudian menjadi dalil pendapat yang benar untuk mengartikan kebohongan dengan menyampaikan sesuatu yang tidak sebenarnya, baik disengaja atau sebab kesalahan.

Walaupun kesalahan dalam menyampaikan sesuatu itu tidak berdosa menurut konsensus ulama, namun Zubair tetap khawatir akan sering terjebak dalam kesalahan, sedang dia tidak merasakan kesalahan tersebut Walaupun dia tidak berdosa karena kesalahan, tapi dia bisa menjadi berdosa jika terlalu sering melakukan kesalahan.

Semakin banyak beliau menyampaikan, maka semakin besar kemungkinan terjadi suatu kesalahan; dan orang yang mempunyai kredibilitas tsiqah (dapat dipercaya) sulit dilihat kesalahannya, maka orang lain akan mengamalkan apa yang disampaikannya.

Selanjutnya, barangsiapa yang takut banyak melakukan kesalahan, maka tidak ada jaminan akan terbebas dari dosa jika ia dengan sengaja memperbanyak menyampaikan sesuatu. Oleh karena itu, Zubair dan sejumlah sahabat lainnya tidak banyak meriwayatkan hadits. Kalaupun mereka meriwayatkan hadits dalam jumlah yang banyak, hal ini karena keyakinan mereka akan kebenaran yang disampaikannya atau karena mereka sudah lanjut usia sehingga ilmu mereka sangat dibutuhkan untuk dijadikan rujukan (tempat bertanya), sehingga merekapun tidak mungkin menyembunyikan ilmu.

Baca Juga:  Maksud Hadis "Persiapkanlah Lima Perkara Sebelum Datang Lima Perkara" Menurut Imam Al-Ghazali

فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ (Disediakan tempatnya). Kata perintah ini mempunyai makna berita, peringatan, sindiran atau doa bagi orang vang melakukan kebohongan. Artinya, Allah akan menyediakan suatu tempat bagi mereka (neraka).

Menurut Al Karmani, kata perintah ini lebih cenderung menunjukkan arti yang sebenarnya. Artinya barangsiapa yang berbohong atas nama Nabi, maka dia harus memerintahkan dirinya untuk mengambil tempat di neraka.

Telah diriwayatkan dari Ahmad dengan jalur sanad shahih dari Ibnu Umar (dibuatkan rumah untuknya di neraka). Ath-Thibi mengatakan, “Matan hadits ini mengandung isyarat untuk sengaja melakukan dosa dan balasannya. Dalam arti jika orang tersebut telah berniat untuk berbohong, maka dia juga telah berniat untuk menerima ganjarannya, yaitu masuk neraka.”

M Resky S