Hadits Shahih Al-Bukhari No. 76 – Kitab Ilmu

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 76 – Kitab Ilmu ini, menjelaskan eutamaan menambah dan menuntut ilmu, walaupun harus menghadapi kesulitan dalam memperolehnya, dan perinlah untuk bersikap tawadhu’ (merendahkan diri) bagi seseorang terhadap orang yang menuntut ilmu kepadanya. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Ilmu. Halaman 332-335.

حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ خَالِدُ بْنُ خَلِيٍّ قَاضِي حِمْصَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ أَخْبَرَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ تَمَارَى هُوَ وَالْحُرُّ بْنُ قَيْسِ بْنِ حِصْنٍ الْفَزَارِيُّ فِي صَاحِبِ مُوسَى فَمَرَّ بِهِمَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فَدَعَاهُ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ إِنِّي تَمَارَيْتُ أَنَا وَصَاحِبِي هَذَا فِي صَاحِبِ مُوسَى الَّذِي سَأَلَ السَّبِيلَ إِلَى لُقِيِّهِ هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ شَأْنَهُ فَقَالَ أُبَيٌّ نَعَمْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ شَأْنَهُ يَقُولُ بَيْنَمَا مُوسَى فِي مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ أَتَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنْكَ قَالَ مُوسَى لَا فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى مُوسَى بَلَى عَبْدُنَا خَضِرٌ فَسَأَلَ السَّبِيلَ إِلَى لُقِيِّهِ فَجَعَلَ اللَّهُ لَهُ الْحُوتَ آيَةً وَقِيلَ لَهُ إِذَا فَقَدْتَ الْحُوتَ فَارْجِعْ فَإِنَّكَ سَتَلْقَاهُ فَكَانَ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَّبِعُ أَثَرَ الْحُوتِ فِي الْبَحْرِ فَقَالَ فَتَى مُوسَى لِمُوسَى { أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ } قَالَ مُوسَى { ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا } فَوَجَدَا خَضِرًا فَكَانَ مِنْ شَأْنِهِمَا مَا قَصَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Qasim Khalid bin Khali] -seorang hakim di Himshi-, dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Harb] berkata, Telah menceritakan kepada kami [Al Auza’i] telah mengabarkan kepada kami [Az Zuhri] dari [‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud] dari [Ibnu ‘Abbas] bahwasanya dia dan Al Hurru bin Qais bin Hishin Al Fazari berdebat tentang sahabat Musa ‘Alaihis salam, Ibnu ‘Abbas berkata; dia adalah Khidlir ‘Alaihis salam. Tiba-tiba lewat Ubay bin Ka’b di depan keduanya, maka Ibnu ‘Abbas memanggilnya dan berkata: “Aku dan temanku ini berdebat tentang sahabat Musa ‘Alaihis salam, yang ditanya tentang jalan yang akhirnya mempertemukannya, apakah kamu pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan masalah ini?” [Ubay bin Ka’ab] menjawab: Ya, benar, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Musa di tengah pembesar Bani Israil, datang seseorang yang bertanya: apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih pandai darimu?” Berkata Musa ‘Alaihis salam: “Tidak”. Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa ‘Alaihis salam: “Ada, yaitu hamba Kami bernama Hidlir.” Maka Musa ‘Alaihis Salam meminta jalan untuk bertemu dengannya. Allah menjadikan ikan bagi Musa sebagai tanda dan dikatakan kepadanya; “jika kamu kehilangan ikan tersebut kembalilah, nanti kamu akan berjumpa dengannya”. Maka Musa ‘Alaihis Salam mengikuti jejak ikan di lautan. Berkatalah murid Musa ‘Alaihis salam: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan”. Maka Musa ‘Alaihis Salam berkata:.”Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Maka akhirnya keduanya bertemu dengan Hidlir ‘Alaihis salam.” Begitulah kisah keduanya sebagaimana Allah ceritakan dalam Kitab-Nya.

Keterangan Hadis: Dalam pembahasan ini tidak disebutkan sesuatu yang menerangkan secara jelas bahwa hadits ini termasuk hadits marfu ‘. Akan tetapi Imam Muslim telah meriwayatkan hadits Abu Hurairah yang dianggap marfu’ olehnya, yaitu “Barangsiapa yang menempuh jalan demi menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. “Namun Imam Bukhari tidak meriwayatkan hadits ini, karena adanya perbedaan pendapat dalam sanadnya.

Jabir bin Abdullah di sini adalah Jabir bin Abdullah Al Anshari, salah seorang sahabat yang terkenal. Sedangkan Abdullah bin Unais adalah Abdullah bin Unais Al Juhani, sekum kaum Anshar.

Hadits yang dicari Jabir tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab “Adab”. Sedangkan Ahmad bersama Abu Ya’la juga meriwayatkannya dalam kitab Musnad dari jalur Abdullah bin Aqil; Bahwasanya dia mendengar Jabir bin Abdullah mengatakan, “Aku diberitahu oleh seseorang tentang saru hadits yang didengar oleh Abdullah bin Unais dari Rasulullah, maka aku membeli seekor unta kemudian aku membulatkan tekad untuk pergi. Aku habiskan saru bulan dalam perjalanan hingga tiba di Syam, lalu aku bertemu dengan Abdullah bin Unais.

Aku berkata kepada penjaga pintu, “Katakan kepadanya bahwa Jabir datang dan menunggu di depan pintu” Kemudian Abdullah bin Unais berkata, “Apakah dia Ibnu Abdullah?” Aku berkata, “benar.” Kemudian dia keluar dan memelukku, dan aku berkata, “Aku mendapatkan sebuah hadits yang berasal darimu dan aku khawatir akan meninggal dunia sebelum mendengarnya langsung darimu.” Maka Abdullah bin Unais berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Allah mengumpulkan manusia di hari kiamat dalam keadaan tanpa sehelai baju (telanjang). ” Kemudian dia menyebutkan hadits di atas.”

Hadits Jabir ini merupakan dalil usaha untuk mencari dan mendapatkan hadits dari sanadnya yang paling atas, karena Jabir telah mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Unais melalui orang lain, maka ia tidak puas kecuali pergi sendiri menemuinya dan mendengarkan langsung dari Abdullah bin Unais tanpa perantara orang lain.

Adapun riwayat dari Ibnu Mas’ud dalam Kitab Fadha’ilul quran. kita dapat menemukan perkataan Jabir, “Seandainya ada orang yang lebih mengetahui Al Qur’an daripada aku maka aku akan pergi menemuinya.” Al Khatib mengeluarkan riwayat dari Abu ‘Aliyah, dia berkata, “Ketika kami mendengar hadits dari sahabat-sahabat Rasulullah, maka kami tidak puas hingga kami pergi menemui mereka dan langsung mendengarkan dari mereka.

Ada yang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apabila ada orang yang ingin menuntut ilmu apakah dia harus menuntutnya kepada orang yang banyak ilmunya atau pergi merantau?” Ahmad berkata. “Sebaiknya dia pergi dan menulis ilmu tersebut dari para ulama di berbagai daerah. ” Dalam hadits ini digambarkan bagaimana antusiasnya para sahabat Rasulullah untuk mendapatkan sunnah-sunnah beliau. Disamping itu juga diperbolehkan merangkul orang yang datang jika tidak ada keraguan.

أَنَّهُ تَمَارَى هُوَ وَالْحُرّ (Sesungguhnya dia berbeda pendapat dengan Al Hurr). Dalam riwayat Ibnu Asakir, lafazh هُوَ ditiadakan dan dianeksasikan kepada subjek tanpa ada penguat {ta’kid) dan huruf pemisah (fashl), dan ini diperbolehkan menurut sebagian orang. Pembahasan hadits ini telah dikemukakan dalam dua bab sebelumnya, dan tidak ada perbedaan antara dua riwayat tersebut kecuali perbedaan sedikit yang tidak sampai merubah maknanya.

Riwayat ini menjelaskan keutamaan menambah dan menuntut ilmu, walaupun harus menghadapi kesulitan dalam memperolehnya, dan perinlah untuk bersikap tawadhu’ (merendahkan diri) bagi seseorang terhadap orang yang menuntut ilmu kepadanya. Adapun yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah kepada Nabi-Nya, “Mereka itulah orang-orang yang lelah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. “(Qs. Al An’aam (6): 90)

M Resky Syafri
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG