Hadits Tentang Dakwah dan Cara Berdakwah yang Baik, Para Dai Jangan Sembrono!

Hadits Tentang Dakwah Dan Cara Berdakwah Yang Baik, Para Dai Jangan Sembrono!

Pecihitam.org – Pemahaman akan pentingnya dakwah Islamiyah terletak pada keikhlasan, kebersihan dalam motivasi dan ketulusan hati di jalan Allah. Yang selalu mengajak kepada manusia untuk melakukan kebaikan dengan landasan al-qur’an dan sunnah-Nya. Terkait landasan al-Qur’an dan hadits tentang dakwah akan dijelaskan di bawah ini, namun sebelum itu kita perlu mengetahui apa itu dakwah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dakwah merupakan aktifitas manusia yang selalu di lakukan dalam mengarungi samudra kehidupan. Dakwah di jalan Allah merupakan dakwah tertinggi, karena merupakan bentuk risalah Nabi dan Rasul-Nya yang menjadi petunjuk dan pelopor kebaikan. Sebagaimana kita telah diperintahkan oleh Allah SWT, untuk selalu berdakwah kepada manusia dengan cara-cara yang baik, yaitu berdakwah dengan perbuatan, lisan dan tulisan.

Dakwah adalah meyeru manusia agar menempuh jalan kebaikan dan menghindari jalan kesesatan (Amar Ma’ruf Nahi Munkar). Dalam pengertian ini mencakup pengertian Tablig (mengajak ke jalan Allah), Jihad (berjuang menegakkan ajaran Allah), Amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kepada kebaikan, melarang melakukan kejahatan), menasehati dan berwasiat.

Oleh karena itu dakwah merupakan proses “al-Tahawwul Waal Taghayyur” (trasformasi dan perubahan) dari sesuatu yang tidak baik menuju yang baik atau dari sesuatu yang sudah baik menuju yang lebih baik lagi.

Pemahaman akan pentingnya dakwah Islamiah terletak pada keikhlasan, kebersihan dan motivasi dan ketulusan hati para da’i di jalan Allah SWT. Yang selalu mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dengan landasan al-Quran dan sunnahnya.

Baca Juga:  Barokah; Sebuah Konsep dan Nilai Luhur Kepesantrenan

Ilmu dalam dakwah merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar sebagai mana imam Bukhari berkata : “ Ilmu dulu sebelum berbicara dan berbuat”. Berkenaan dengan hal tersebut, maka keberhasilan aktifitas dakwah di pengaruhi oleh berbagai hal, di antaranya adalah pemahaman yang benar.

Setiap Ahlus Sunnah sejati pasti menyadari pentingnya mengkaji hadits- hadits Nabi SAW, dari segi riwayat maupun dirayah, sebab secara bahasa saja, Ahlus Sunnah berarti orang-orang yang mengikuti Sunah Nabi SAW.

Dan karena begitu luasnya lingkup dan cakupan ilmu ini, sehingga diperlukan jenjang tahapan untuk menjembatani seseorang agar dapat mengantarkannya kepada tingkat minimal dari kewajiban seorang Muslim terhadp Sunnah-sunnah Nabinya.

Adapun berkenaan tentang dakwah, adalah sebuah aktivitas yang terutama bersentuhan dengan manusia dan kemanusiaan. Seringkali ia menyajikan kepada pelakunya serangkaian permasalahan yang pelik dan rumit, serumit kemanusiaan itu sendiri.

Oleh karenanya, dibutuhkan da’i yang berwawasan luas dan memiliki pemahaman yang dalam akan berbagai perangkat yang dibutuhkan; perangkat lunak maupun perangkat kerasnya.

Dakwah berorientasi pembangunan dan perbaikan masyarakat. Namun seringkali karena kedangkalan wawasan da’inya ia tidak berhasil memberikan kontribusi apapun, tidak juga perwujudan maslahat yang riil. Bahkan terkadang keberadaannya justru memperkeruh suasana dan merusak tatanan masyarakat.

Baca Juga:  Ayat, Doa Sebelum Belajar dan Syarat Pencari Ilmu

Dalam kondisi seperti itu kita jumpai orang menolak dakwah bukan karena benar- benar ingkar, tapi semata karena buruknya akhlak sang da’i, atau dangkalnya pengetahuan dia tentang kaidah-kaidah dakwah.

Adapun di antara ayat Al-Qur’an yang berkaitan tentang dakwah di antaranya yaitu :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ  وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang meyeru kepada kebajikan, meyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali-Imran : 104).

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantalah mereka dengan cara yang baik. Sesunguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia- lah lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk”(QS. An-Nahl : 125).

بَلغُوا عَنى وَلَوآیَةَ

Artinya: “sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”(HR,Bukhari).

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأْجْرِ مِثَلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يـَنـْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجَوُو رِهِمْ شَ يْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَ لَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإثْم مثلُ اثآم مَنْ تَبِعَهُ لاَيـَنـْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَا مِهِمْ شَيئًا

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 185 – Kitab Wudhu

Artinya: “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, ia berhak pemmperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia mendapat dosanya sepaerti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikipun dari dosa mereka”. (HR. Muslim, Malik, Abu Daud, dan Tirmizi).

Berdasarkan firman Allah SWT dan hadits tentang dakwah di atas maka jelaslah bahwa Islam tidak mengharuskan secepatnya berhasil dengan satu cara atau metode saja,namun berbagai cara dapat dilakukan sesuai objek dakwah dan kemampauan masing-masing pelaksanaan dakwah.

Oleh karena itu, seorang da’i harus memahami hadits tentang dakwah dan tujuannya bahwa sesungguhnya dakwah merupakan tugas para rasul Allah yang mulia. Mereka adalah para utusan Allah kepada mahluk-Nya, yang meyampaikan pada mereka perintah Tuhannya dengan petunjuk yang jelas. Kemudian tugas ini diwarisi oleh para ulama dan aktivis dakwah yang ikhlas.

Mochamad Ari Irawan