Hakikat Ilmu dan Agama dalam Wadah Bernegara

ilmu dan agama

Pecihitam.org – Pada umumnya setiap manusia membutuhkan suatu pengetahuan yang bisa bersumber dari berbagai macam aspek, salah satunya melalui pengalaman dan ilmu. Manusia diciptakan dari lima indera di mana masing-masing mampu memberikan pengetahuan yang berbeda-beda.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Begitupun dengan ilmu, melalui ilmu maka manusia mampu membawa akal maupun rasionalitasnya kepada kondisi yang lebih tersistematis.
Hal ini sama seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ilmuwan bernama Einsten yang membahas mengenai relasi antara ilmu dan agama.

Ilmu sebagai suatu usaha merekonstruksi posterior dari eksistensi melalui suatu proses konseptualisasi. Proses konseptualisasi ilmu ini bisa melalui hubungan-hubungan regulatif dari berbagai pengalaman sensual yang berupa hasil dari penginderaan.

Sedangkan agama dipandang sebagai suatu proses penyadaran diri (refleksi diri). Itulah yang membuat agama berhubungan dengan tujuan-tujuan dan evaluasi-evaluasi sebagai pondasi, emosi dan pikiran yang mampu mempengaruhi tindakan manusia.

Agama berkaitan dengan sikap manusia kepada Tuhan, terhadap alam semesta maupun dengan sesama manusia. Hal inilah yang membentuk konsep berpikir Einstein dengan jargonnya mengenai ilmu dan agama yakni “ilmu tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa ilmu buta”.

Baca Juga:  Menjawab Tuduhan Tak Beradab Ustadz Badrussalam Terhadap Imam Ghazali

Menyadari hakikat dari ilmu maupun agama, seharusnya jika masyarakat Indonesia mampu mengerti dan memahami kedua hal tersebut maka tidak akan menimbulkan berbagai perdebatan dan konflik. Hal ini disebabkan karena ilmu hanya dapat memastikan “apa”, sedangkan agama membahas mengenai “apa yang seharusnya” seperti halnya mengevaluasi pemikiran dan tindakan manusia.

Sebenarnya ada yang digaris bawahi dari pernyataan-pernyataan Einstein mengenai agama. Bahwa meskipun dia tidak menyatakan untuk meyakini Tuhan yang personal yang mampu mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia. Namun religiusitasnya terlihat melalui suatu penghormatan dalam mengungkap dirinya dengan pemahaman yang lemah mengenai realitas.

Einstein menegaskan bahwasannya moralitas sebagai tanggung jawab dari kepentingan terbesar bagi setiap manusia, sehingga bukan lagi sekedar untuk Tuhan.

Hal ini mengartikan bahwa kebaikan maupun keburukan yang dilakukan oleh manusia seharusnya berasal dari pilihan keputusannya sendiri sehingga harusnya mampu menanggung segala resiko yang akan dihadapinya.

Dan bukan berarti saat manusia mengalami suatu kesulitan justru dapat dengan seenaknya menyalahkan Tuhan yang dipandangnya mempengaruhi segala pikiran dan tindakan manusia.

Baca Juga:  Gus Dur dan Kesusastraan Pesantren

Manusia yang bijak adalah manusia yang mampu membawa dirinya kepada kondisi di mana eksistensinya tidak terlepas dari esensinya. Hakikatnya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang diberi akal dan ruh, dijalankan sesuai dengan fungsi dan tugasnya sebagaimana seharusnya menjadi manusia sempurna (Insan Kamil) sebagai cermin dari Tuhan.

Pola Pikir Menghadapi Konflik Agama di Indonesia

Kemunculan berbagai konflik agama yang terjadi di Indonesia, sebenarnya bisa didasarkan pada konsep moralitas dari Einstein. Manusia sudah seharusnya menyadari akan hakikat dirinya sebagai ciptaan Tuhan, dan mampu mempertanggung jawabkan segala pilihan begitupun mau menerima segala resiko dari pilihan dan keputusan yang diambilnya.

Moralitas dapat tercipta dengan baik jika dibarengi dengan eksistensi cinta di dalam diri manusia. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang tidak dapat diucapkan dengan bahasa, sebab cinta adalah rasa bukan rasio (logika). Karena keberadaannya sudah ada sejak manusia lahir ke dunia ini sehingga bahasa tidak dapat membicarakan cinta secara jelas.

Baca Juga:  Kontesasi Wacana Keislaman di Tengah Pandemi Corona

Moralitas yang dibarengi dengan cinta mampu mengatasi berbagai konflik agama yang ada di Indonesia, sebab agama datang dari hati nurani manusia sebagai cerminan dari keberadaan Tuhan.

Isu-isu keberagaman dalam agama di Indonesia memberikan nuansa berbeda bagi kondisi politik terutama hal-hal yang berkaitan dengan Pancasila.

Masyarakat Indonesia seharusnya tetap selalu menekankan toleransi sebab di Indonesia identik dengan multikulturalisme dan pluralisme. Dan tidak seharusnya agama diposisikan lebih tinggi dari Tuhan sehingga tidak akan ada saling menghakimi satu sama lain.

Bhineka Tunggal Ika tidak akan sekedar menjadi simbol negara, justru secara esensial akan dijadikan sebagai pondasi utama dalam bernegara terutama dalam mengaplikasikan sila Pertama dalam Pancasila.

Indriani Pratami
Latest posts by Indriani Pratami (see all)