Sikap Nahdlatul Ulama Tentang Hubungan Antara Muslim dengan Non Muslim – Bagian 1

Sikap Nahdlatul Ulama Tentang Hubungan Antara Muslim dengan Non Muslim - Bagian 1

PeciHitam.org – Tanggung jawab moral dan spiritual Nahdlatul Ulama terhadap bangsa dan Negara bukan hanya terwujud dalam pemikiran politik kebangsaan namun sampai akar relasi antar warga negaranya. Indonesia adalah Negara majemuk yang didalamnya terisi berbagai agama, suku dan ras berbeda.

Ikatan bangsa dan negara dalam alam pikir NU terwujud dalam kerangka Ukhuwah Wathaniyah. Pun isu relasi islam dan non-muslim tidak luput dari arus utama pemikiran NU.

Perlu prinsip yang jelas sebagai pegangan NU khususnya dan Umat Islam di Indonesia pada umumnya, untuk menghindari fraksi dan gesekan penyebab ketidak-harmonisan antar warga negara.

Prinsip relasi islam dengan non-muslim harus dipegangi sebagai kaidah persaudaraan berbangsa dan bernegara yang majemuk seperti Indonesia.

Dalil Prinsip Relasi Islam dengan Non-Muslim

Sunnatullah adanya keberagaman pemeluk agama di dunia, khususnya di Nusantara adalah realitas yang harus diterima. Komposisi agama di Dunia memang menempatkan Islam sebagai agama dengan pemeluk terbesar kedua.

Namun tidak menjadi pembenaran untuk mengambil sikap permusuhan kepada umat beragama lainnya selama mereka tidak mengambil sikap permusuhan.

Allah SWT sendiri memberi garis tegas bahwa keberagaman adalah qudrah dan perbuatanNya yang  harus disikapi dengan bijaksana;

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Artinya; “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat” (Qs. Huud: 118)

Kekuasaan Allah SWT yang absolut adalah fakta, dan jika Dia menghendaki adanya homogenitas antar manusia sungguh sangat mudah. Namun faktanya, Allah SWT menghendaki perbedaan untuk bisa melihat orang yang  mau menyikapi dengan benar adanya perbedaan atau mengambil sikap permusuhan atas nama perbedaan.

Perbedaan yang Allah SWT ciptakan bukan hanya sekedar ras dan suku, tetapi juga perbedaan Agama berada di bawah qudrah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan terhadap qudrah Allah SWT memberi wawasan filosofis untuk memahami perbedaan Agama adalah Sunnatullah.

Oleh karenanya ada konsep dakwah dalam Islam guna mengajak manusia yang lalai untuk kembali kepada Allah. jika tidak ada perbedaan dan semua orang taat kepada Allah SWT, maka tidak akan ada konsep dakwah dan penurunan Nabi-Rasul.

Prinsip Relasi kepada Non-Muslim

Prinsip utama dalam bergaul dan berhubungan kepada non-muslim adalah sikap keberadilan kepada orang lain. Tidak boleh mengambil sikap permusuhan kepada orang non-muslim atau muslim sendiri kecuali mereka masuk golongan  orang yang dzalim.

Prinsip sikap adil kepada orang lain dijelaskan dengan gamblang dalam ayat  Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 8;

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya; “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil” (Qs. Al-Mumtahanah: 8)

Prinsip ini dipegang  erat oleh kalangan Nahdliyyin sebagai prinsip pola relasi Muslim dan Non-Muslim. selama non-Muslim bisa bekerja sama dalam membangun peradaban, maka mereka termasuk min Jihhatil Wathaniyah wa Basyariyah, saudara dalam kerangka kemanusiaan dan kebangsaan.

Musuh terbesar dalam menjalankan sikap adil kepada siapapun baik muslim atau non muslim adalah ego sektoral dan rasa superior dibanding lainnya.

Ditengah era modern sekarang ini, NU menjadi role mode dalam menjalankan prinsip relasi muslim dan non muslim guna menjamin keamanan dan ketentraman.

Bagi Nahdlatul Ulama, musuh utama adalah sikap tidak adil atau dzalim yang mana bisa saja menghinggapi orang Islam maupun non-muslim. Allah SWT berfirman;

فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ

Artinya; “jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim” (Qs. Al-Baqarah: 193)

Konsep ini terus dikembangkan oleh NU dan semua eleman dibawahnya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang  aman untuk mendorong terciptanya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG