Hukum FaceApp dalam Islam; Benarkan Mendahului Takdir Allah?

Hukum FaceApp dalam Islam; Benarkan Mendahului Takdir Allah?

PeciHitam.org – Tahun lalu, aplikasi FaceApp sempat booming dan trending di mana-mana. Berkat kemampuan aplikasi tersebut yang dapat mengedit foto baik lebih tua maupun lebih muda dari aslinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ada pula fitur untuk mengubah gender atau jenis kelamin, dari foto laki-laki ke perempuan dan sebaliknya.

Fitur atau kemampuan yang dimilikinya inilah yang menjadikan orang penasaran, bagaimana wujudnya ketika lebih muda, jika lebih tua, jika ia laki-laki ataupun perempuan. Ya, menuruti rasa penasaran inilah yang menimbulkan kepuasan yang dapat menghibur para penggunanya.

Banyak sekali orang yang menanyakan bagaimana hukum FaceApp dalam Islam? Ada pula yang bahkan sudah menyatakan keharaman aplikasi tersebut karena mengubah ciptaan Allah, mendahului takdir dan sebagainya. Lalu benarkah demikian?

Jika pada tahun lalu, viral karena fitur mengubah foto muda menjadi tua, kemudian banyak yang menyebutnya “mendahului takdir”.

Benarkah takdir bisa didahului?

Takdir merupakan istilah untuk keputusan Allah yang telah ditentukan oleh-Nya di Lauh Mahfud dan tak ada seorang pun yang mengetahuinya selain Allah.

Hal ini dalam Islam disebut juga sebagai qadha’. Jadi, takdir dalam makna tersebut memang sudah ada sebelum alam semesta ini diciptakan.

Apakah bisa mendahului takdir?

Jawabannya tentu tidak mungkin. Adapun yang mengetahui secara pasti waktu kejadian sebuah takdir hanya Allah. Eksekusi sebuah takdir ini disebut juga sebagai qadar. Takdir dalam makna ini juga tak bisa dan tak mungkin didahului siapa pun.

Apabila Allah telah menakdirkan seseorang mati pada tanggal sekian, bulan dan tahun sekian pada jam sekian, misalnya. Maka sudah dapat dipastikan ia tidak mungkin dapat memajukan atau memundurkan sepersekian detik pun.

Jadi, takdir dalam arti qadha atau dalam arti qadar tak mungkin didahului. Hal tersebut di atas merupakan sesuatu yang disepakati seluruh ulama.

Kemudian pada tahun ini, FaceApp viral karena fitur pengubah gendernya. Foto seorang laki-laki diubah menjadi perempuan hanya dengan sekali klik. Setelah viral tersebut, muncullah kelompok yang menyatakan keharaman aplikasi tersebut karena mengubah ciptaan Allah, katanya. Benarkah?

Baca Juga:  Hukum Forex dalam Islam Itu Boleh? Tunggu Dulu, Ini Syarat-Syaratnya!

Kalau diprediksi bagaimana?

Aplikasi tersebut memprediksi foto seseorang jika gendernya berubah maka akan seperti A. Sama halnya ketika sebuah aplikasi memprediksi langit akan hujan nanti sore.

Prediksi tersebut kadang tepat kadang pula meleset. Bisa juga diibaratkan prediksi seorang dokter yang menangani pasiennya akan sembuh atau akan tambah parah seminggu lagi, dan sebagainya.

Jelas, tidak. Ini hanya memprediksi saja alias mengira-ngira sesuai sunnatullah yang berlaku. Di Jawa ada istilah titen. Istilah titen tersebut merupakan sebuah istilah yang mewakili sebuah pengamatan yang panjang dari para pendahulu (nenek moyang) hingga saat ini dan biasanya memang tepat dan bisa juga meleset.

Hukum FaceApp dalam Islam

Hukumnya tak mengapa dan sama sekali tak ada masalah selama tidak disertai keyakinan bahwa prediksinya akan terjadi meskipun melawan kehendak Allah.

Seandainya hal semacam ini diharamkan, maka jadwal shalat yang terpampang di masjid-masjid pun akan haram semua. Sebab ia memprediksi kejadian masuknya waktu shalat di masa depan yang belum terjadi.

Nah, kalau mengubah foto muda menjadi lebih tua atau mengubah foto laki-laki menjadi perempuan (mengubah gender foto) apakah mendahului takdir serta mengubah ciptaan Allah?

Pembaca pasti sudah paham bahwa jawabannya tidak. Tak ada kaitan secara langsung antara bahasan takdir, mengubah ciptaan Allah, dan editing foto dalam hal FaceApp ini. Hal tersebut hanyalah kegiatan penyuntingan foto biasa.

Adapun motivasinya hanyalah sebagai hiburan, ingin melihat bagaimana sih bentuknya, seperti orang kurus digambar agak gemuk, yang jelek digambar agak rupawan, yang botak digambar berambut lebat, yang berjerawat digambar tanpa jerawat, yang laki-laki digambar menjadi perempuan dan seterusnya. Ini semua hanyalah kegiatan menggambar saja yang notabenenya hanya sebuah media entertain (hiburan) bagi para penggunanya.

Lain halnya jika tujuannya menipu dan merugikan orang lain, maka jelas perilaku semacam ini diharamkan. Namun jika tujuannya hanya iseng, mengisi waktu luang dan tak merugikan orang, maka mubah seperti kegiatan lainnya.

Baca Juga:  Perbedaan Pendapat Dikalangan Ulama Terkait Hikmah Sebagai Pembentukan Hukum

Penyuntingan foto semacam aplikasi FaceApp ini jelas tidak mengubah takdir apa pun. Kita sama-sama tahu, yang berubah hanyalah foto dalam bentuk digital. Bukan tubuh asli penggunanya.

Andaikan jika mau disangkut pautkan dengan takdir, maka berarti ditakdirkan bahwa si Fulan mengubah gambar dirinya dari kondisi A ke kondisi B pada tanggal dan jam sekian, dan itulah yang akan terjadi pada saat yang ditentukan.

Takdir tersebut tak ada yang berubah atau didahului. Bila menuakan tampilan di foto dipaksa untuk dianggap mendahului takdir, maka apakah memudakan tampilan di foto dianggap mengakhirkan takdir? Tentu tidak relevan sama sekali bukan?

Lantas, jika orang yang ngotot mengharamkan tersebut kemudian menyodorkan ayat al Quran berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)

Bagaimana tanggapannya? Dalam terjemahnya disebutkan “jangan mendahului Allah dan Rasul”.

Iya, memang menyebutkannya. Namun ayat tersebut bukan untuk itu. Ayat di atas sama sekali tak bisa dijadikan dalil bahwa mendahului takdir itu dimungkinkan, bahkan ayat tersebut sama sekali tak berbicara dalam konteks takdir (qadha’ dan qadar). Konteksnya adalah soal memprioritaskan Allah dan Rasulullah dalam berbagai hal.

Di zaman seperti sekarang ini, dimana teknologi sudah sangat berkembang, namun Islam hanya menjadi konsumen. Di sisi lain, pemahaman agama para penganutnya masih segitu-segitu saja. Lalu apa yang selama ini kita lakukan?

Perlu kami jelaskan kembali, manipulasi foto merupakan hal yang biasa dilakukan, dan dilakukan siapapun bahkan kadang tidak disadari penggunanya. Adanya software pada camera ponsel sekarang memfasilitasi hal tersebut.

Kamera smartphone saat ini juga sudah dilengkapi algoritma seperti autobalancing, yang berguna agar wajah tampak lebih jelas. Smartphone kita juga bisa memanipulasi wajah yang gelap akan tampak lebih cerah. Apakah proses yang memanipulasi sebagian pixel foto ini termasuk tashwir?

Teknologi manipulasi gambar atau image processing memang dapat digunakan untuk apa saja. Yang positif bisa membuat foto yang diambil dalam kondisi kurang cahaya, menjadi seindah aslinya bila cukup cahaya.

Baca Juga:  Pendapat KH Masdar Farid Tentang Perlunya Melihat Hukum dari Mashlahatnya

Sedangkan Aplikasi semacam FaceApp ini hanyalah sebuah software prediksi sebagai hasil algoritma deep learning, maka tentu akan terasa lucu dan amat berlebihan jika menyamakan hal tersebut seperti tebakan dukun ramal, yang seolah mendahului takdir dan sama sekali tidak menggunakan dasar ilmiah tetapi bisikan jin atau khayalan belaka.

Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) yang tersemat dalam setiap smartphone yang beredar saat ini, kehadirannya sering disikapi berlebihan oleh sebagian kelompok agama yang kagetan dan seperti bangun dari goa.

Cukup sudah hal-hal semacam ini kita debatkan. Marilah kita terima dan manfaatkan kemajuan teknologi ini dengan sebaik-baiknya. Bukannya seperti seolah-olah amat anti dengan hal tersebut.

Malulah kita yang seringkali, di masa sekarang ini hanya mengagung-agungkan masa keemasan Islam di zaman dahulu. Namun terpuruk dan seolah tak mau menerima kemajuan teknologi di masa ini.

Mohon maaf, jika artikel kali ini menyinggung para pembaca sekalian. Semoga hal ini dapat memacu kita agar dapat bersaing kembali memajukan peradaban di era sekarang atau di masa yang akan datang. Ash-Shawabu Minallah.

Mohammad Mufid Muwaffaq