Hukum Memakan Kelamin Hewan yang Halal Dagingnya, Bolehkah?

hukum memakan kelamin hewan

Pecihitam.org – Ketika Idul Adha tiba, maka banyak dari umat Islam melakukan ibadah Qurban. Nah, beberapa waktu menjelang Idul Adha ini ternyata sempat beredar di beberapa media sosial postingan berupa gambar bagian-bagian hewan kurban yang haram dimakan. Salah satunya adalah alat kelamin hewan. Lantas bagaimana sebenarnya hukum memakan kelamin hewan seperti kambing?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam memahami hal ini ternyata para ulama ahli fiqih punya pandangan yang berbeda-beda. Menurut ulama madzhab Hanafi, mereka berpendapat setidaknya ada tujuh bagian yang diharamkan dari hewan yang halal dimakan seperti kambing, yaitu darah yang mengalir, alam kelamin, dua testis, kelamin betina, ghuddah, kemih, dan kandung empedu.

مَا يَحْرُمُ أَكْلُهُ مِنْ أَجْزَاءِ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُولُ سَبْعَةٌ : الدَّمُ الْمَسْفُوحُ وَالذَّكَرُ وَالْأُنْثَيَانِ وَالْقُبُلُ وَالْغُدَّةُ وَالْمَثَانَةُ وَالْمَرَارَةُ

Artinya, “Sesuatu yang haram dimakan dari bagian anggota tubuh hewan yang boleh dimakan ada tujuh, yaitu darah yang mengalir, alat kelamin, dua testis, kemaluan kambing betina, ghuddah, kemih (kandung kencing), dan kandung empedu,” (Lihat Ibnu Abidin, Hasyiyatu Raddil Mukhtar, Beirut, Darul Fikr, 1421 H/2000 M, juz VI, hal. 311).

قَوْلُهُ وَالْغُدَّةُ) بِضَمِّ الْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ كُلُّ عُقْدَةٍ فِي الْجَسَدِ أَطَافَ بِهَا شَحْمٌ ، وَكُلُّ قِطْعَةٍ صُلْبَةٍ بَيْنَ الْعَصَبِ وَلَا تَكُونُ فِي الْبَطْنِ كَمَا فِي الْقَامُوسِ

Artinya, “Pernyataannya (pengarang); al-ghuddah, dengan diharakati dhammah huruf ghain-nya, maknanya adalah setiap gumpalan yang tumbuh di dalam tubuh yang diliputi oleh lemak atau setiap bagian yang keras yang terdapat di antara urat dan tidak berada dalam perut. Hal ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Al-Qamus (karya Fairuz Abadi, pent),” (Lihat Ibnu Abidin, Hasyiyatu Raddil Mukhtar, Beirut, Darul Fikr, 1421 H/2000 M, juz VI, halaman 749).

Ketujuh bagian yang haram dimakan tersebut didasarkan pada hadits Rasulullah Saw riwayat Mujahid yang menyatakan bahwa Nabi Saw tidak menyukai alat kelamin kambing, dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kemih, kandung kencing, dan darah. Berikut haditsnya:

Baca Juga:  Dimanakah Letak Akal Manusia, Dalam Hati atau Otak?

وَرُوِيَ عَنْ مُجَاهِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الشَّاةِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَيَيْنِ وَالْقُبُلَ وَالْغُدَّةَ وَالْمَرَارَةَ وَالْمَثَانَةَ وَالدَّمَ فَالْمُرَادُ مِنْهُ كَرَاهَةُ التَّحْرِيمِ بِدَلِيلِ أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَ الْأَشْيَاءِ السِّتَّةِ وَبَيْنَ الدَّمِ فِي الْكَرَاهَةِ ، وَالدَّمُ الْمَسْفُوحُ مُحَرَّمٌ

Artinya, “Diriwayatkan dari Mujahid Ra. bahwa ia berkata, Rasulullah tidak menyukai (kariha) kelamin kambing, dua testis, kemaluan kambing (betina), ghuddah, kandung empedu, kandung kencing, dan darah. Yang dimaksud tidak menyukai dalam konteks ini adalah makruh tahrim. Kecendrungan untuk memahami makruh di sini sebagai makruh tahrim karena terkumpulnya di antara enam hal dengan darah dalam hadits tersebut, sedangkan darah yang mengalir itu hukumnya adalah haram,” (Alauddin Al-Kasani, Bada’ius Shana’i fi Tartibis Syara’i, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, 1982 M, juz V, hal. 61).

Namun menurut Imam ana Nawawi dalam kitab Al-Majmuk Syarah al Muhadzdzab, hadits riwayat dari Mujahid di atas dianggap yang dhoif (lemah). Sehingga konsekuensinya hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum.

Baca Juga:  Salah Dalil dalam Mengharamkan Tahlilan, Catatan untuk Ustadz Salafi

Iman Nawawi kemudian mengemukakan pandangan Al-Khaththabi yang mengtakan bahwa sesuai dengan ijma’ para ulama bahwa darah jelas haram hukumnya. Sedangkan keenam bagian yang disebutkan bersama darah hukumnya dimakruhkan bukan diharamkan.

فَصْلٌ) عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ (كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يَكْرَهُ مِنَ الشَّاةِ سَبْعًا الدَّمَ وَالْمَرَارَ وَالذَّكَرَ وَالْاُنْثَيَيْنِ وَالْحَيَا وَالْغُدَّةَ وَالْمَثَانَةَ وَكَانَ أَعْجَبُ الشَّاةِ إِلَيْهِ مُقَدَّمَهَا) رَوَاهُ الْبَيْهَقِىُّ هَكَذَا مُرْسَلًا وَهُوَ ضَعِيفٌ قَالَ وَرُوِىَ مَوْصُولًا بِذْكْرِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَهُوَ حَدِيثٌ قَالَ وَلَا يَصِحُّ وَصْلُهُ قَالَ الْخَطَّابِىُّ اَلدَّمُ حَرَامٌ بِالْاِجْمَاعِ وَعَامَّةُ الْمَذْكُورَاتِ مَعَهُ مَكْرُوهَةٌ غَيْرُ مُحَرَّمَةٌ

Artinya, “(Fasal), diriwayatkan dari Mujahid ia berkata, ‘Rasulullah SAW tidak menyukai tujuh bagian dari kambing yaitu darah, kandung kemih, alat kelamin, dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kencing. Dan bagian kambing yang paling disukai Rasulullah saw adalah hasta dan bahunya’. Demikianlah hadits ini diriwayakan Al-Baihaqi secara mursal dan masuk kategori hadits dha’if. Al-Baihaqi berkata, ada juga yang diriwayatkan secara maushul (bersambung sanadnya atau muttashil) dengan menyebutkan Ibnu Abbas RA yaitu sebuah hadits…namun sayangnya kebersambungan tersebut tidak bisa diterima. Al-Khaththabi berpendapat bahwa darah itu haram sesuai dengan ijma’ para ulama, sedangkan semua yang disebutkan bersama darah dalam hadits tersebut adalah dimakruhkan bukan diharamkan.”

Senada dengan pandangan di atas dalam keterangan yang terdapat dalam kitab At-Taj wal Iklil, Ibnu Habib dari kalangan Madzhab Maliki, juga menyatakan kelamin hewan yang halal dimakan tidak sampai dihukumi haram.

Baca Juga:  Kado Berupa Uang Saat Acara Khitanan, Apakah Menjadi Milik Ayah atau Anak?

وَرَوَى ابْنُ حَبِيبٍ اسْتِثْقَالَ أَكْلِ عَشْرَةٍ دُونَ تَحْرِيمِ الْأُنْثَيَانِ وَالْعَسِيبُ وَالْغُدَّةُ….

Artinya, “Ibnu Habib meriwayatkan tentang menganggap beratnya (istitsqal) memakan sepuluh (bagian tubuh hewan yang halal) tetapi tidak diharamkan, yaitu dua testis, alat kelamin, ghuddah…”

Maka dari semua keterangan di atas, setidaknya kita bisa mengambil dua pandangan mengenai hukum memakan kelamin hewan yang halal dagingnya. Pertama, dari kalangan madzhab Hanafi menyatakan haram. Sedangkan pandangan kedua dari kalangan Madzhab Syafi’i dan kalangan ulama Madzhab Maliki menyatakan tidak haram namun makruh. Wallahua’lam bisshawab.

Lukman Hakim Hidayat