Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah? Inilah Jawabannya

Hukum Membatalkan Puasa Sunnah

Pecihitam.org – Puasa merupakan salah satu ibadah utama yang bisa dilakukan seorang hamba. Dalam pelaksanaannya, puasa ada yang wajib dan ada yang sunnah. Puasa sunnah yang lazimnya dilakukan pada hari-hari di dimana kebanyakan orang tidak menjalani puasa, kadang menjadi dilema bagi orang yang berpuasa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Misalnya ketika ia sedang menjalani puasa dan bertamu ke rumah temannya, kemudian dihidangkan makanan. Dalam hal ini, bolehkah ia membatalkan puasa sunnah yang sedang ia jalani dalam rangka menghargai dan menjaga perasaan temannya?

Pada dasarnya, seseorang memang tidak diperkenankan untuk memutus atau membatalkan ibadah yang sedang dilakukannya. Tapi bagi rang yang berpuasa sunah ketika bertamu dan disuguhi makanan, maka sunah membatalkan puasanya kalau sekiranya tidak makan menyinggung perasaan tuan rumahnya.

Namun kalau tuan rumah bisa memahami dan tidak menyinggung perasaaannya, maka lebih utama tidak membatalkan puasanya. Tapi menurut Imam Syafi’i secara muthlaq sunah untuk membatalkan puasanya.

يندب الأكل في صوم نفل ولو مؤكدا لارضاء ذي طعام بأن شق عليه إمساكه ولو آخر النهار للأمر بالفطر و يثاب على ما مضى و قضى ندبا يوما مكانه فإن لم يشق عليه إمساكه لم يندب الفطر بل الإمساك أولى. وأطلق الإمام الشافعي والعراقيون الحكم فيندب الأكل عندهم مطلقا

Baca Juga:  Sudah Berbuka Puasa, Tapi Ternyata Belum Masuk Waktu Magrib, Batalkah Puasanya?

Disunahkan untuk makan ketika berpuasa sunnah walaupun sunnah muakkad untuk membuat senang orang yang memberikan makanan sekiranya jika ia tetap berpuasa akan menyinggung perasaanya walaupun di akhir siang ,karena ada adanya perintah untuk berbuka.

Dan ia tetap mendapat pahala atas waktu yang telah dilewati dan dianjurkan untuk menggantinya pada hari lain. Akan tetapi jika tidak menyinggung perasaan tuan rumah, maka tidak dianjurkan baginya untuk berbuka titik bahkan berpuasa lebih utama. Imam Syafi’i dan ulama ulama Irak memutlakkan sunnahnya hukum berbuka dalam hal ini. Menurut mereka mutlak dianjurkan untuk makan. (I’anatut Thalibin Juz III halaman 365 – 366

Anjuran untuk membatalkan puasa sunah di atas adalah jika memang karena adanya udzur, seperti gambaran yang telah disebutkan. Jika tidak ada udzur, maka boleh saja membatalkan puasa sunah, namun hukumnya makruh.

Baca Juga:  Begini Dalil, Hukum dan Ketentuan Membayar Fidyah Puasa Ramadhan

Contoh lain dari kondisi yang membolehkan seseorang membatalkan puasa sunnahnya adalah ketika menjadi tuan rumah dan menghidangkan makanan bagi tamu.

Saat sang tamu tidak mau makan kecuali jika ditemani, maka dalam hal ini juga dianjurkan untuk membatalkan puasa sunnah.

Kebolehan ini didasarkan pada Hadis yang menyatakan bahwa orang yang berpuasa sunnah statusnya adalah seperti seorang raja. Maka ia bisa meneruskan dan bisa juga membatalkan.

Penjelasan tentang Ini bisa juga dibaca di dalam Fathul Mu’in juz 2 halaman 272

من تلبس بصوم تطوع أو صلاته فله قطعهما لخبر: الصائم المتطوع أمير نفسه. إن شاء صام، وإن شاء أفطر. رواه الترمذي .ويقاس بالصوم الصلاة ونحوها .ولكن يكره القطع إن لم يكن بعذر، وإلا كأن قطعه ليساعد الضيف في الاكل إذا شق عليه امتناع مضيفه منه، فلا كراهة

Barangsiapa melakukan puasa atau shalat sunnah, ia boleh membatalkan keduanya karena adanya hadis,

الصائم المتطوع أمير نفسه. إن شاء صام، وإن شاء أفطر

Baca Juga:  Ini Konsekuensi dan Hukum Membatalkan Puasa Sunah Menurut Para Ulama

“Orang yang melakukan puasa sunnah adalah raja bagi dirinya. Jika ia mau, maka terus berpuasa dan jika ia mau juga boleh berbuka”. (HR At-Tirmidzi).

Shalat dan ibadah lainnya juga disamakan dengan puasa. Tetapi dinakruhkan membatalkan ibadah jika tidak ada udzur. Jika ada udzu, seperti menemani tamu makan sekiranya tidak ditemani tidak mau makan, maka ini tidak di makruhkan.

Demikianlah penjelasan tentang hukum membatalkan puasa sunnah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab!

Faisol Abdurrahman