Humor Gus Dur: Dari Presiden Mancing Ikan hingga Proyek di Surga

Humor Gusdur

Pecihitam.org– Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dikenal suka berkelakar. Juru bicara Gus Dur saat masih jadi Presiden, Yahya Cholil Staquf menjelaskan, Gus Dur suka humor karena ia produk pesantren. Di dunia pesantren kehidupan santri dan kiai selalu dihiasi dengan humor. Sehingga hal yang rumit bisa diselesaikan di pesantren dengan cara humor.

Menurut Yahya, humor bagi Gus Dur fungsinya antara lain untuk kritik sosial, kritik kepada penguasa dan kritik diri sendiri. Fungsi lainnya untuk langkah diplomasi. Karena diplomasi yang diawali dengan humor membuat suasana jadi cair dan ngobrolnya lebih enak.

Saat dia didesak mundur dari jabatan presiden, Gus Dur mengkritik diri sendiri. “Saya kok diminta mundur. Wong maju saja harus didorong dan butuh bantuan orang lain,” kata Gus Dur saat itu. Ada juga humor untuk mengkritik orang lain.

Baca Juga:  Humor Gus Dur, dari Ingatan Unta hingga Presiden Gila

Berikut dua humor karangan Gus Dur.

Duo pemimpin negara di Asia Tenggara, Suharto, Presiden RI dan Perdana Menteri Singapura 1955-1990, Lee Kuan Yew bertemu. Kebetulan keduanya memiliki hobi yang sama, memancing.

Singapura dikenal sebagai negara maju dan kaya, namun tidak demokratis. Karena rakyatnya dibungkam atau tidak boleh mengkritik kebijakan pemerintah.

Gus Dur bercerita, suatu hari Suharto dan Lee Kuan Yew memancing bersama dari atas kapal. Namun ketika memancing, Lee Kuan Yew selalu gagal mendapatkan ikan, sementara Suharto selalu dapat ikan.

Perbedaan nasib itu membuat Lee Kuan Yew iri kepada Suharto. “Ini gimana ceritanya, sampeyan dapet terus, saya gak pernah dapet,” keluh Lee Kuan Yew kepada Suharto.

Baca Juga:  Abu Hasan Krueng Kalee, Ulama Sufi Sekaligus Pakar Ilmu Falak Asal Aceh

“Loh ya gimana kamu mau dapat ikan. Wong semua mulut kamu tutup, termasuk mulutnya ikan-ikan. Ikan-ikan gak pernah bisa makan umpanmu karena mulutnya kamu tutup,” kata Suharto.

* * *

Suatu hari di akhirat, penghuni neraka dan penghuni surga yang berasal dari Indonesia melakukan musyawarah. Mereka sepakat ingin membangun jembatan yang menghubungkan surga dan neraka. Fungsinya, agar penduduk dua tempat itu gampang kalau mau bersilaturrahmi dan mudah saling mengunjungi.

Penghuni neraka segera menyusun panitia. Keputusannya cepat dan segera dieksekusi. Walhasil, jembatan di neraka selesai terlebih dulu.

Lain halnya di surga. Mereka belum ada perkembangan apa-apa. Lambat dan tak ada yang diselesaikan. Jangankan jembatannya, rancangannya saja belum terpasang.

Baca Juga:  Mengenal Yusya' bin Nun, Seorang Nabi Penakluk Baitul Maqdis

Penghuni neraka marah-marah ke penghuni surga. “Hei penghuni surga cepet kerjain, jembatan kami sudah selesai, nih..”

Mendengar itu, penghuni surga lantas membalas, “Mas, bagaimana kami mau ngerjain jembatan? Wong pimpinan proyek, pemborong, sama menterinya kan tinggal di neraka semua.”

Lukman Hakim Hidayat
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG