Ibnu Khaldun; Latar Belakang Kehidupan, Perjalanan Karir dan Karya Karyanya

Ibnu Khaldun; Latar Belakang Kehidupan, Perjalanan Karir dan Karya Karyanya

PeciHitam.org – Menggali khazanah Islam di masa terdahulu memang begitu menarik. Banyak sekali tokoh-tokoh muslim yang berpengaruh dalam dunia ilmu pengetahuan sekaligus memiliki pemahaman agama yang mumpuni.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Keduanya berjalan seirama tanpa merasa anti satu sama lainnya. Semangat dan dedikasinya bahkan dapat kita nikmati hingga saat ini melalui karya-karyanya.

Dalam bidang ekonomi misalnya, sejarah umat Islam mencatat banyak sekali tokoh yang turut membangun teori/konsep ekonomi, antara lain seperti Ibnu Khaldun (w. 808 H), Abu Yusuf (w. 182 H), Yahya bin Adam (w. 303 H), Al-Ghazali (w. 505 H), Ibnu Rusyd (w. 595 H), al-Izz bin ‘Abdis Salam (w. 660 H), al-Farabi (w. 339H), Ibnu Taimiyah (w. 728 H), al-Maqrizi (w. 845 H), dan lain-lain.

Dari sekian banyak daftar nama tersebut, yang menarik perhatian kami saat ini ialah kiprah Ibnu Khaldun. Ia merupakan seorang tokoh pemikir yang menguasai berbagai jenis bidang keilmuan, seperti bidang politik, sosial, filsafat, sejarah, maupun ekonomi. Bahkan di masa sekarang ini, beberapa teori yang dicetuskan olehnya masih digunakan.

Arti Nama yang Disandang Ibnu Khaldun

Ia terlahir dengan nama lengkap Abd al-Rahman bin Muhammad bin Khaldun al-Hadrawi pada tahun 732 H di daerah Tunis. Nama panggilannya yaitu Waliyuddin Abu Zaid, Qadi al-Qudat.

Penambahan nama al-Maliki menunjukkan bahwa dalam fiqh ia merupakan penganut mazhab Maliki yang diusung oleh Imam Malik bin Anas.

Kepakarannya dalam berbagai bidang keilmuan, membuatnya memiliki berbagai gelar dan sebutan, di antaranya Muhadis al-Hafidz, pakar ushul fiqh, sejarawan, pelancong, penulis dan sastrawan. Adapun nama kecilnya, ia biasa dipanggil dengan nama Abdurrahman.

Lalu mengapa ia dipanggil Waliyuddin Abu Zaid? Perlu diketahui bahwa nama Ibnu Zaid adalah panggilan keluarganya. Sedangkan Waliyuddin merupakan gelar yang disematkan padanya dan nama populernya hingga seperti yang kita kenal saat ini ialah Ibnu Khaldun.

Baca Juga:  Pengobatan ala Rasulullah, Anggapan Simbol Kesalehan dan Standar Syariat

Disematkannya gelar Waliyuddin tersebut diperolehnya ketika Ibnu Khaldun memangku jabatan sebagai hakim (qadli) di Mesir. Sebutan ‘Allamah didepan namanya menunjukkan bahwa pemakai gelar tersebut merupakan orang yang mempunyai gelar kesarjanaan tertinggi, sebagaimana gelar-gelar yang lain, seperti Rais, al-Hajib, al-Shadrul, al-Kabir, al-Faqih, al-Jalil dan Imamul A’immah, Jamal al-Islam wa al-Muslimin.

Latar Belakang Keluarga

Jika ditelusuri lebih dalam, nenek moyangnya berasal dari Hadramaut yang kemudian berimigrasi ke Seville sebuah kota di negara Spanyol pada abad ke-8 setelah semenanjung itu dikuasai Arab muslim.

Kala itu, keluarganya menduduki posisi tertinggi dalam politik di Spanyol selama berabad-abad. Sehingga tidak heran jika keluarganya tersebut dikenal pro Umayah.

Neneknya pernah menjabat menteri keuangan Tunisia, sementara ayahnya sendiri adalah seorang administrator dan perwira militer. Meskipun kemudian mengundurkan diri agat dapat mendedikasikan akhir hidupnya kepada dunia keilmuan, seperti hukum, theology dan sastra, sampai ia wafat karena penyakit menular yang terkenal dengan sebutan the black death, saat Ibnu Khaldun masih berusia 17 tahun.

Latar belakang keluarganya yang begitu mapan ini paling tidak menjadikannya memiliki pemikiran elitis pula. Dengan kecerdasan otak yang dimilikinya tentu membuatnya tidak puas jika tetap berada di bawah.

Oleh sebab itu, maka tidak heran jika ia terlibat dalam berbagai intrik politik yang melelahkan di Afrika Utara dan Spanyol, sebelum usianya genap 20 tahun.

Ibnu Khaldun telah aktif dalam kegiatan intelektual di kota kelahirannya, di samping mengikuti dari dekat kehidupan politik. Dalam dunia politik, persaingan keras, saling menjatuhkan, saling menghancurkan adalah fenomena yang biasa berlaku. Politik yang disaksikannya adalah politik adu kekuatan, tidak mempedulikan sisi moralitas.

Banyak dinasti-dinasti kecil yang bersaing satu sama lain sebagai pertanda dari proses membusuknya imperium Arab muslim di Afrika Utara. Pengalaman terusirnya umat Islam dari Spanyol yang sebelumnya mereka kuasai selama tujuh abad silam, sudah tidak lagi dapat mengajar mereka untuk berhenti berkelahi.

Baca Juga:  Biografi Singkat Habib Ali al Habsyi Pengarang Maulid Simthud Duror

Dinasti-dinasti kecil yang saling bersaing itu adalah; Banu Hafsiah di Tunisia, al-Marini di Maroko, al-Mahdi di Bijjaya, Banu Nasr di Granada, dan pusat-pusat kekuasaan kecil lainnya.

Inilah di antara bentuk perpecahan yang sangat parah di kalangan penguasa-penguasa Arab Muslim, sementara kerajaan-kerajan Kristen Spanyol bergerak ke arah kutub yang berbeda; melakukan konsolidasi secara efektif menuju persatuan dan kekompakan.

Sampai akhirnya Ibnu Khaldun hijrah ke Maroko beberapa tahun sebelum Seville jatuh ke tangan umat Kristen pada tahun 1248 M. Setelah itu mereka memutuskan untuk hidup menetap di Tunisia. Di kota Tunis ini mereka juga dihormati oleh pihak istana, bahkan diberikan tanah milik dinasti Hafsiah.

Perjalanan Karir Intelektual

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, Ibnu Khaldun dilahirkan dalam lingkungan keluarga terkemuka. Ayahnya merupakan ulama yang menguasai keilmuan dalam bidang qiraat. Sehingga Ibnu Khaldun belajar ilmu qiraat ini langsung berguru kepada ayahnya.

Sedangkan dalam ilmu lainnya seperti ilmu hadis, bahasa Arab dan fiqh, ia berguru kepada Abu al-Abbas al-Qassar dan Muhammad bin Jabir al-Rawi. Ia juga tercatat pernah berguru kepada Ibn ‘Abd al-Salam, Abu Abdullah bin Haidarah, al-Sibti dan Ibnu ‘Abd al-Muhaimin.

Gelar muhaddis al-hafidz yang disematkan kepadanya bukan tanpa alasan, ia memperoleh ijazah hadis dari Abu al-Abbas al-Zawawi, Abu Abdullah al-Iyli, Abu Abdullah Mmuhammad, dan lain sebagainya.

Perjalanan karir intelektualnya tidak hanya puas di kampung halamannya saja. Ia tercatat pernah mengunjungi Andalusia dan Maroko. Ia juga sempat menimba ilmu dari para ulamanya, antara lain Abu Abdullah Muhammad al-Muqri, Abu al-Qasim Muhammad bin Muhammad al-Burji, Abu al-Qasim al-Syarif al-Sibti, dan lain-lain.

Kemudian mengunjungi Persia, Granada, dan Tilimsin. Banyak tokoh dan ulama yang menjadi muridnya, antara lain Ibnu Marzuq al-Hafidz, al-Damamini, al-Busili, al-Bisati Ibnu Ammar, Ibnu Hajar, dan lain-lain.

Dalam usia muda Ibnu Khaldun sudah menguasai beberapa disiplin ilmu Islam klasik, termasuk ‘ulum aqliyah (ilmu-ilmu kefilsafatan, tasawuf dan metafisika).

Baca Juga:  AGH. Muhammad Nur, Ulama Ahli Hadits NU dari Tanah Bugis

Di bidang hukum, ia mengikuti mazhab Maliki. Tidak hanya itu, ia juga mempelajari ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi, dan lain-lain.

Dengan begitu banyaknya keilmuan yang dikuasainya tersebut, satu sisi bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangannya. Kelebihannya mungkin menjadikannya seperti ensiklopedi berjalan.

Namun amat minim sekali catatan yang menyebutkan kepakarannya dalam menguasai satu bidang disiplin ilmu tertentu.

Karya-Karya Ibnu Khaldun

Begitu banyak karya yang telah ia ciptakan, beberapa di antaranya bahkan termasuk karya-karya yang monumental. Adapun beberapa karya Ibnu Khaldun yang telah dibukukan, antara lain;

  1. Kitab al-Muqaddimah Ibnu Khaldun
  2. Syarh al-Burdah,
  3. Sejumlah ringkasan atas buku-buku karya Ibnu Rusyd,
  4. Sebuah catatan atas buku Mantiq,
  5. Ringkasan (mukhtasar) kitab al-Mahsul karya Fakhr al-Din al-Razi (Ushul Fiqh),
  6. Sebuah buku lain tentang matematika,
  7. Kitab Al-Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Tarikh al-Arab wa al-Ajam wa al-Barbar sebuah buku lain lagi tentang ushul fiqh dan buku sejarah yang sangat dikenal luas.

Sebetulnya banyak sekali karya yang telah ia ciptakan. Namun dari kesemuanya itu, yang menjadi karya monumentalnya ialah Kitab al-Muqaddimah Ibnu Khaldun.

Karyanya satu ini mengundang para pakar untuk meneliti dan mengkajinya. Pada akhirnya, Ibnu Khaldun meninggal dunia secara mendadak di Kairo pada tahun 807 H dan dimakamkan di kuburan kaum sufi di luar Bab al-Nasr.

Demikian beberapa informasi mengenai Ibnu Khaldun. Semoga artikel sederhana ini mampu memberikan pengetahuan baru untuk para pembaca. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq