Imam Sibawaih, Ulama Persia Pakar Gramatika yang Masuk Surga Berkah Ilmu Nahwu

Imam Sibawaih, Ulama Persia Pakar Gramatika yang Masuk Surga Berkat Ilmu Nahwu

Pecihitam.org – Imam Sibawaih, begitu ia dikenal luas. Nama lengkapnya adalah Abu Basyr Amr bin Utsman bin Qanbar Al-Bashri. Sebenarnya ia bukan orang Arab asli bahkan semenjak kecil ia menggunakan bahasa Persia, karena itulah bahasa ibunya.

Namun walaupun bukan orang Arab asli, kepakarannya dalam Ilmu Nahwu – sebagai induk bahasa dan sastra Arab – diakui oleh semua kalangan baik dari bangsa Arab maupun ‘ajam.

Kenapa ia dikenal dengan nama Sibawaih? Konon ia merupakan sosok lelaki yang sangat tampan, sehingga sang guru, Khalil bin Ahmad Al-Farahidi enggan menatap wajahnya. Ia lebih sering dibelakngi. Kalaupun harus berhadapan, maka sang guru menggunakan jubahnya sebagai penghalang.

Selain tampan, sosok yang merupakan ‘rival’ Imam Al-Kasa’i ini dikenal mempunyai aroma tubuh yang harum, seharum buah Apel. Dari sinilah, kemudian ia digelar dengan Sibawaih (beraroma Apel). Kata Sibawaih (سيبويه) sendiri dalam Ilmu Nahwu merupakan tarkib mazji (susunan dua kata yang kemudian disatukan), yakni kata sibun (سيب) yang berarti Apel dan kata waihun (ويه) yang setara dengan ya’ nisbah dalam Bahasa Arab.

Di belakang namanya juga tersemat nisbah Al-Bashri (البصري) yang berarti Seorang Kota Bashrah. Wajar, walaupun ia lahir di Persia (sekarang Iran), tapi ia berkembang di Bashrah. Bahkan ia merupakan representasi ulama Kota Bashrah dalam disiplin Lughah Al-Arabiyyah.

Secara umum ketika membaca kitab-kitab Nahwu dan Sharf, kita akan mendapati Imam Sibawaih (Bashrah) dan Imam Kasa’i (Kufah) layaknya Imam Nawawi dan Imam Rafi’i atau Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli dalam Fiqh Syafi’iyah.

Baca Juga:  Quraish Shihab, Syekhul Muballighin, Ulama Penulis Tafsir Almisbah

Maksudnya, antara Imam Sibawaih dan Imam Al-Kasa’i sering berbeda pendapat. Salah satunya yang cukup kita kenal adalah tentang الأصل الواحد / Al-Ashlul Wahid (asal yang satu) dalam ta’rif Ilmu Tashrif berikut

وفي الصناعة تحويل الأصل الواحد إلى أمثلة مختلفة لمعان مقصودة لا تحصل إلا بها

Menurut istilah Ilmu tashrif adalah ilmu yang mempelajari tentang perubahan asal yang satu pada beberapa contoh yang berbeda dalam rangka mendapatkan makna yang dikehendaki. (Syarh Kailani halaman 2)

Di sini, Imam Sibawaih sebagai ‘delegasi’ ulama Bashrah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan الأصل الواحد (asal yang satu) adalah isim (tepatnya isim mashdar).

Alasannya ada dua: Pertama, firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (QS. Al-Baqarah ayat 31)

Berdasarkan ayat di atas, yang pertama Allah ajarkan kepada Nabi Adam adalah الْاَسْمَاۤءَ (bentuk plural atau jama’ dari اسم (kata benda), bukan أفعال atau فعل (kata kerja).

Kedua, secara natural dalam proses perkembangan anak manusia, biasanya yang diajarkan kepada anak yang belajar berbicara adalah kata-kata benda (isim), misalnya ayah, mama, kakek, nenek, kakak, dan sebagiannya. Bukan diajarkan kata benda, semisal memasak, melihat, mendengarkan, dan sebagainya.

Sementara Imam Al-Kasa’i sebagai kebanggaan ulama Kufah mengatakan bahwa asal yang satu adalah fiil madhi.

Berikut dimuat dalam Syarh Kailani

والأصل الواحد هو المصدر عند علمآء البصرة على المعتمد والفعل الماضي عند علمآء الكوفة

Baca Juga:  Hingga Nabi Wafat, Rahasia Ini Benar-benar Disimpan Hudzaifah bin al Yaman

Yang dimaksud asal yang satu adalah isim mashdar menurut pendapat mu’tamad di kalangan ulama Bashrah, dan fiil madhi menurut ulama Kufah. (Syarh Kailani halaman 2)

Dan masih banyak lagi perbedaan antara keduanya, sebagaimana bisa ditemukan dalam Mutammimah al-Ajrumiyyah.

Perdebatan lainnya adalah tentang lafadz

قد كنت أظن أن العقرب أشد لسعة من الزنبور. فإذا هو هي

(Sungguh aku menyangka bahwa kalajengking itu sengatannya lebih kuat daripada tawon. Ternyata memang demikian)

Menurut Imam Sibawaih, lafadz هي harus dalam bentuk dhamir rafa’ dan tak boleh nashab (إياها). Sementara itu, menurut Imam Al-Kasai, boleh rafa’ (هي) juga boleh dengan dhamir nashab menjadi إياها.

Terlepas dari perbedaan antara keduanya, ternyata mereka ijma’ atau sepakat tentang isim ma’rifat yang paling ma’rifat. Walaupun oleh para ulama ditegaskan bahwa ini adalah hasil ijtihad Imam Sibawaih. Dan inilah yang menjadikan kepakarannya dalam ilmu Nahwu mengantarkannya ke Surga.

Jadi begini: sebagaimana maklum dalam Ilmu Nahwu bahwa dari 6 isim ma’rifat yang paling jelas kema’rifatannya adalah 1). isim dlamir (kata ganti/pronomina); kemudian 2). isim ‘alam; kemudian 3). isim isyarah; kemudian 4). isim maushul; kemudian 5). isim yang ma’rifat dengan memakai alif+lam; kemudian 6). isim yang dimudhafkan pada salah satu dari yang lima tersebut.

Tapi menurut Imam Sibawaih, teori tentang hirarki isim ma’rifat di atas tidaklah final. Bahwa lafadz jalalah (الله) yang berupa isim ‘alam (nama) merupakan isim ma’rifat yang paling ma’rifat.

Baca Juga:  Karomah Syaikh Nawawi Al Bantani; Tidur di Lidah Ular Hingga Jasad yang Tetap Utuh

Jadi ini adalah istitsna (pengecualian) dari hirarki di atas. Lafadz Jalalah (الله) walaupun berupa isim ‘alam, kema’rifatannya melampaui isim dlamir (kata ganti).

Berkat kegigihannya memperjuangkan dan mempertahankan pendapatnya ini, ia masuk Surga. Disebutkan dalam beberapa kitab bahwa ketika beliau wafat, salah satu muridnya bermimpi bertemu beliau yang berada dalam kenikmatan; dihidangkan aneka makanan dan dikelilingi bidadari.

Selain yang disebutkan oleh Imam Syarwani dalam Hawasyi As-Syarwani, kisah tentang ini juga dimuat oleh Syaikh Muhammad Al-Ahdal dalam Al-Kawakib Ad-Durriyah

وفي إعراب القرآن للشهاب الحلبي أن سيبويه رؤي في المنام فقيل له: ما فعل الله بك؟ فقال أدخلني الجنة. فقيل بما ذا؟ فقال: بقولي أن اسمه تعالى أعرف المعارف. انتهى

Disebutkan dalam kitab I’rab al-Qur’an karya Syihabuddin Al-Halabi bahwa ada seseorang bermimpi melihat Imam Sibawaih. Kemduian ditanyakan pada Imam Sibawaih, “Apa yang Allah perbuat padamu?”.

Imam Sibawaih menjawab, “Allah memasukkan ke Surga”. Ditanyakan lagi,” Karena apa?”. Ia menjawab, “Karena pendapatku yang menyatakan bahwa asmanya (الله) yang mahal luhur merupakan puncak isim ma’rifat”. (Al-Kawakib Ad-Durriyah Syarh Mutammimah al-Arumiyyah Juz I halaman 107).

Faisol Abdurrahman
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG