Ini 7 Aliran Tarekat yang Berkembang di Indonesia

Aliran Tarekat yang Berkembang di Indonesia

Pecihitam.org – Sebagai bentuk tasawuf yang melembaga, tarekat ini merupakan kelanjutan dari pengikut sufi yang terdahulu. Perubahan tasawuf ke dalam tarekat sebagai lembaga dapat dilihat dari perseorangannya, yang kemudian berkembang menjadi tarekat yang lengkap dengan simbol-simbol dan unsurnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tarekat Shuhrawardiyah (w. 1168 M.) misalnya dinisbahkan pada Diya al-Din Abu Najib al-Suhrawardi. Qadariyah dinisbahkan pada Abdul Qadir Jaelani (w.1166 H.) Rifaiyah dinisbahkan pada Ahmad Ibn al-Rifa’i (w. 1182), Jasafiyah dinisbahkan pada Ahmad al-Jasafi (w.1166 M.) Sadziliyah dinisbahkan pada Abu Madyan Shuhaib (w. 1258), Mauliyah dinisbahkan pada Jalaluddin Rumi (w.1273).

Dari sekian banyak aliran tarekat tersebut terdapat sekurang-kurangnya tujuh aliran tarekat yang berkembang di Indonesia, yaitu tarekat Qadariyah, Rifaiyah, Naqsyabandiyah, Sammaniyah, Khalwatiyah, al-Hadad, dan tarekat Khalidiyah.

1. Tarekat Qadiriyah

Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir Jaelani (1077-1166) yang sering pula disebut al-Jilli. Tarekat ini banyak tersebar di dunia Timur, Tiongkok, sampai ke pulau Jawa.

Pengaruh tarekat ini cukup banyak meresap di hati masyarakat yang dituturkan lewat bacaan manaqib Pada acara-acara tertentu. Naskah asli manaqib ditulis dalam bahasa Arab Berisi riwayat hidup dan pengalaman Sufi Abdul Qadir Jaelani sebanyak empat puluh episode. Manaqib ini dibaca dengan tujuan agar mendapatkan berkah dengan sebab keramatnya.

2. Tarekat Rifa’iyah

Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh Syaikh Rifa’i. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ali bin Abbas. Meninggal di Umm Abidah pada tanggal 22 Jumadil Awal tahun 578 H. bertepatan dengan tanggal 23 September tahun 1106 M.

Baca Juga:  Tasawuf Akhlaki, Jalan Kesempurnaan dan Kesucian Jiwa

Dan ada pula yang mengatakan bahwa ia meninggal pada bulan Rajab tahun 512 H. bertepatan dengan bulan November tahun 1118 M. di Qaryah Hasan. Tarekat ini banyak tersebar di daerah Aceh, Jawa, Sumatera Barat, Sulawesi, dan daerah-daerah lainnya.

Ciri tarekat ini adalah penggunaan tabuhan rebana dalam wiridnya, yang diikuti dengan tarian dan permainan debus, yaitu menikam diri dengan sepotong senjata tajam yang diiringi dengan zikir-zikir tertentu. Permainan debus ini berkembang pula di daerah Sunda, khususnya Banten, Jawa Barat.

3. Tarekat Naqsyabandi

Adapun tarekat Naqsyabandi didirikan oleh Muhammad bin Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari (727-791 H). Ia biasa disebut Naqsyabandi diambil dari kata naqsyaband yang berarti lukisan, karena ia ahli dalam memberikan lukisan kehidupan yang gaib-gaib.

Tarekat ini banyak tersebar di Sumatera, Jawa, maupun Sulawesi. Ke daerah Sumatera Barat, tepatnya daerah Minangkabau, tarekat ini dibawa oleh Syaikh Ismail al-Khalidi al-Kurdi, sehingga dikenal dengan sebutan Tarekat Naqsyabandiah al-Khalidiyah. Amalan tarekat ini tidak banyak dijelaskan ciri-cirinya.

4. Tarekat Samaniyah

Tarekat Samaniyah didirikan oleh Syaikh Saman yang meninggal dalam tahun 1720 di Madinah. Tarekat ini banyak tersebar luas di Aceh, dan mempunyai pengaruh yang dalam di daerah ini, juga di Palembang dan daerah lainnya di Sumatera.

Di Jakarta tarekat ini juga sangat besar pengaruhnya, terutama di daerah pinggiran kota. Di daerah Palembang orang banyak yang membaca riwayat Syaikh Saman sebagai tawassul untuk mendapatkan berkah.

Baca Juga:  Kebatinan Kanjeng Sunan Kalijaga dalam Sebuah Karya Sastra Agung “Kidung Rumeksa Ing Wengi”

Ciri tarekat ini zikirnya dengan suara keras dan melengking, khususnya ketika mengucapkan lafaz la ilaha illa Allah. Juga terkenal dengan nama ratib saman yang hanya mempergunakan perkataan “hu”, yang artinya Dia Allah.

Syaikh Saman ini juga mengajarkan agar memperbanyak shalat dan zikir, kasih pada fakir miskin, jangan mencintai dunia, menukar akal basyariyah dengan akal robaniyah, beriman hanya kepada Allah dengan tulus ikhlas.

5. Tarekat Khalwatiyah

Tarekat khalwatiyah didirikan oleh Zahiruddin (w. 1397 M) di Khurasan dan merupakan cabang dari tarikat Suhrawardi yang didirikan oleh Abdul Qadir Suhrawardi yang meninggal tahun 1167 M.

Tarekat Khalwatiyah ini mula-mula tersiar di Banten oleh Syaikh Yusuf Al-Khalwati al-Makasari pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

Tarekat ini banyak pengikutnya di Indonesia, dimungkinkan karena suluk dari tarikat ini sangat sederhana dalam pelaksanaannya. Untuk membawa jiwa dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi melalui tujuh tingkat, yaitu peningkatan dari nafsu amarah, lawwamah, mulhamah, muthmainnah, radhiyah, mardiyah dan nafsu kamilah.

6. Tarekat al-Haddad

Tarekat al-Haddad didirikan oleh Sayyid Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad. Ia lahir di Tarim, sebuah kota yang terletak di Hadramaut pada malam Senin, 5 Safar tahun 1044 H.

Ia pencipta ratib haddad dan dianggap sebagai salah seorang wali qutub dan Arifin dalam ilmu tasawuf. Ia banyak mengarang kitab-kitab dalam ilmu tasawuf, di antaranya kitab yang berjudul Nashaihud Diniyah (Nasihat-nasihat Agama), dan al-Mu’awanah fi Suluk Thariq Akhirah (Panduan mencapai hidup di Akhirat).

Baca Juga:  Ilmu Kasyaf, Penyingkapan Tabir Menemukan Isyarat Ilahiyah

Tarekat Haddad banyak dikenal di Hadramaut, Indonesia, India, Hijaz, Afrika Timur, dan lain-lain.

7. Tarekat Khalidiyah

Tarekat Khalidiyah adalah salah satu cabang dari tarekat Naqsyabandiyah di Turki, yang berdiri pada abad XIX. Pokok-pokok tarikat Khalidiyah dibangun oleh Syaikh Sulaiman Zuhdi al-Khalidi.

Tarekat ini berisi tentang adab dan zikir, tawassul dalam tarikat, adab suluk, tentang saik dan maqamnya, tentang ribath dan beberapa fatwa pendek dari Syaikh Sulaiman al-Zuhdi al-Khalidi mengenai beberapa persoalan yang diterima dari bermacam-macam daerah.

Tarekat ini banyak berkembang di Indonesia dan mempunyai Syaikh Khalifah dan Mursyid yang diketahui dari beberapa surat yang berasal dari Banjarmasin dan daerah-daerah lain yang dimuat dalam kitab kecil yang berisi fatwa Sulaiman az-Zuhdi Al-Khalidi.

Demikianlah tujuh aliran tarekat yang berkembang di Indonesia hingga hari ini. Masih banyak cabang-cabang tarekat yang belum dapat saya sebutkan di sini.

M Resky S

Leave a Reply

Your email address will not be published.