Ini Tandanya Hati yang Sudah Mati Menurut Ibnu Athaillah As-Sakandari

Tandanya Hati yang Sudah Mati

Pecihitam.org – Bagi yang mempunyai hati yang sudah mati, ia akan lebih cenderung mengutamakan kepentingan pribadi dan syahwatnya dibanding dengan urusan ketaatan dan cinta kepada sang Khaliq. Di dalam QS. Al-Furqan: 43 disebutkan;

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً

”Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”

Ibn Athaillah As-Sakandari menuliskan kalam hikmahnya di dalam kitab Al-Hikam miliknya bahwa di antara tanda-tanda hati yang sudah mati adalah tidak adanya kesedihan terhadap ketaatan yang berlalu dan tidak adanya penyesalan atas berbagai kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Kedua hal yang merupakan tanda hati yang sudah mati tersebut menunjukkan bahwa tidak adanya nilai-nilai Iman yang tertancap kokoh ke dalam hatinya.

Baca Juga:  Agar Doa Cepat Terkabul, Cobalah Berdoa dengan Cara Ini!

Saat ketaatan berlalu begitu saja, hati yang sudah mati tidak menemukan penyesalan sama sekali. Demikianlah dikarenakan oleh hati yang sudah tidak sehat lagi.

Sepatutnya hati dapat merasakan setiap hal yang mendatangkan ridha Allah, sehingga membuatnya bahagia. Sementara hati yang sudah mati baginya ketaatan dan murka Tuhan rasanya sama saja.

Ketaatan tidak menjadikannya bahagia, maksiat pun tidak menjadikannya gundah gulana. Keduanya tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Terkait hal ini Nabi Muhammad Saw bersabda:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ.رواه أبو الفرج البغدادي

“Orang yang kebaikannya membuatnya bahagia dan keburukannya membuatnya sedih, maka ia seorang mukmin (yang sempurna)”

Demikian juga dengan hati yang mati, ia tidak mengenal perasaaan yang menyesal sebab kesalahan yang telah diperbuat. Ia hanya menilainya sebagai hal biasa dan tetap dikerjakan kembali di lain waktu.

Baca Juga:  Tasawuf: Mengenal Syariat, Tarekat, dan Hakikat

Hati yang mati tidak akan mengenal indahnya hari-hari dengan ketaatan, namun antara kebaikan dan keburukan ia menilainya sama saja, tidak ada bedanya. Adapun bagi orang yang hatinya sakit, ia senantiasa mengikuti keburukan dengan keburukan pula.

Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, ”Itu adalah dosa di atas dosa sehingga membuat hati menjadi buta, lalu mati.” Sementara hati yang sehat selalu membersamai keburukan dengan kebaikan dan membersamai dosa dengan tobat. Allah menyebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”

Baca Juga:  Sekilas Mengenali Ajaran Praktis Spiritual Suhrawardi

Sementara bagi orang yang mempunyai hati yang bersih senantiasa akan menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah, ia tidak pernah bosan dalam mengarungi kehidupan dengan ketaatan dan selalu mengutamakan hal yang bermanfaat.

Orang yang memiliki hati yang bersih ini rentan memiliki hidup indah nan bahagia, sebab di dalam hidupnya ia lebih mengutamakan urusan akhirat daripada dunia.

Wallahu a’lam

M Resky S

Leave a Reply

Your email address will not be published.