Ini Tiga Hal yang Perlu Kita Ketahui Terkait Takdir dalam Islam

Ini Tiga Hal yang Perlu Kita Ketahui Terkait Takdir dalam Islam

PeciHitam.org- Takdir dalam islam merupakan hukum sebab akibat yang berlaku secara pasti sesuai dengan ketentuan Allah SWT, yang baik maupun yang buruk. Sedangkan ikhtiar merupakan kebebasan atau kemerdekaan manusia dalam memilih serta menentukan perbuatannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Takdir yang merupakan hukum-hukum pengaturan peristiwa alam berbentuk kepastian dan paksaan, sementara taqdir untuk manusia berupa  hukum-hukum yang mengatur tingkah laku dan keputusan tindakan manusia.

Takdir disebut dalam bahasa Arab yakni qadara atau yuqaddiru atau takdir. Arti harfiahnya adalah ukuran, ketentuan, kemampuan, dan kepastian. Adapun kata ikhtiar dalam bahasa Arab adalah ikhtara atau yakhtaru atau ikhtiyar yang berarti memilih.

Kata tersebut seakar dengan kata khayr yang berarti baik. Ikhtiar dapat pula diartikan memilih yang lebih baik diantara yang ada. Berikut tiga definisi takdir dalam Islam:

Pertama, Takdir dalam Alquran  terdapat dalam Alquran Surah Al Anam ayat 96, Surah Al Furqan ayat 2, Surah Yasin ayat 38, dan Surah Fussilat ayat 12. Keseluruhan ayat tersebut terdapat tiga kesimpulan.

  • Takdir berlaku untuk fenomena alam, artinya hukum dan ketentuan dari Tuhan mengikat perilaku alam sehingga hukum sebab akibat yang terjadi di alam ini dapat dipahami manusia.
  • Takdir Tuhan terkait hukum sosial (sunnatullah). Hukum ini melibatkan manusia di dalamnya.
  • Akibat dari takdir dalam arti hukum kepastian Allah yang baru diketahui setalah berada di akhirat. Takdir yang seperti ini yang harus diyakini dengan keimanan.
Baca Juga:  Mencontoh Amalan Sebelum Tidur Rasulullah SAW

Selama manusia masih di dunia, dampaknya belum bisa dibuktikan hanya melalui Alquran, manusia membayangkannya saja. Inilah yang disebut qadarullah, nasib manusia yang ditentukan oleh perbuatannya selama di dunia.

Kedua, Dalam teologi Islam, Tuhan berkehendak mutlak. Allah yang menciptakan alam, termasuk manusia. Karena itu, kebebasan manusia sangat kecil di hadapan Tuhan. Manusia telah memiliki takdir yang tidak bisa diubah jika dipandang secara alamiahnya.

Manusia secara fisik tidak bisa berbuat lain kecuali mengikuti hukum alam. Tetapi manusia memiliki daya kreatif. Inilah yang menyebabkan manusia bebas berpikiran dan berkehendak.

Kehidupan manusia, menurut teologi Asy’ariah, merupakan realisasi dari apa yang digariskan Tuhan pada saat azali, baik kehidupan yang baik ataupun yang buruk, beruntung atau merugi, dan senang atau menderita. Manusia akan menjalani semua ini sejak lahir sampai mati.

Baca Juga:  Inilah Keutamaan Bulan Rajab yang Wajib Kamu Tahu!

Ketiga, Takdir tidak sama dengan menerima nasib secara pasrah, dalam arti tidak mau berusaha sama sekali. Takdir dalam Islam tidak mendoktrin manusia ke sikap fatalistik atau menyerah kalah kepada nasib (fate). Islam sangat menekankan pentingnya usaha dan amal perbuatan.

Dalam Alquran dinyatakan manusia tidak akan mendapatkan sesuatu selain yang dia usahakan, dan bahwa hasil usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan dibalas dengan balasan yang setimpal sesuai Surah An Najm ayat 39-41.

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,”

وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

“dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).”

ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ

“Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,”

Ayat ini sering dijadikan nujukan pandangan bahwa makna takdir harus diletakkan secara proporsional. Salah satu gejala fatalistik adalah bertopang dagu sambil menerima nasib.

Baca Juga:  Subhanallah! Karena Surat Ini, Rambut Rasulullah Saw Beruban Sebelum Waktunya

Dengan demikian takdir bagi manusia, nampaknya lebih berupa “aturan main” dalam hidup. Fazlur Rahman, mengatakan bahwa taqdir mempunyai bias holistik yang kuat, yaitu pola-pola, watak-watak dan kecenderungan-kecenderungan.

Hal ini menjadi jelas, bahwa pengertian taqdir tidak bermakna pre determinasi melainkan keterbatasan (Rahman 1983). Kehidupan manusia tidak terhenti pada kehidupan yang bersifat alamiah, melainkan harus mengembangkan kehidupan yang bersifat insaniah. Dalam kehidupan manusia ada qadar dan ada ikhtiar.

Mochamad Ari Irawan