Inilah Sosok Bidadari Nabi Daud; Syukur dan Sabar Mengantarkannya ke Singgasana Surga

Inilah Sosok Bidadari Nabi Daud; Syukur dan Sabar Mengantarkannya ke Singgasana Surga

Pecihitam.org – Al-Kisah, Tuhan mewahyukan kepada Nabi Daud as bahwa ada seorang perempuan yang kelak menjadi pendampingnya di surga. Disebutkan pula bahwa nama perempuan atau bidadari Nabi Daud itu Khuludah binti Aud. Nabi Daud pun mencari, dan akhirnya ketemu, kemudian menceritakan maksud kedatangannnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

“Mungkin kau salah. Itu memang namaku tapi barangkali bukan aku yang kaumaksud. Bahkan, aku tidak tahu kenapa aku bisa masuk surga jika yang kau katakan itu benar,” kata perempuan itu.

“Tidak. Tidak salah lagi. Kau perempuan itu,” Kata Nabi Daud as berusaha meyakinkan. “Coba ceritakan kehidupan sehari-harimu.”

Perempuan itu lalu menceritakan bahwa setiap kali mendapat musibah apa pun, ia selalu bersabar. Tak hanya itu, bahkan ia bersyukur dengan musibah itu.

“Itulah amalan yang akan mengantarkanmu menuju surga,” Kata Nabi Daud menanggapi.

Jadi perempuan itu memperoleh kedudukan tinggi karena selalu bersyukur bahkan terhadap musibah. Bersabar terhadap musibah, meski pun berat, itu hal biasa dan tak istimewa, sebagaimana bersyukur terhadap karunia. Yang istimewa adalah jika bersyukur terhadap musibah.

Baca Juga:  Perbedaan Filsafat Arab dan Filsafat Islam? Begini Penjelasannya

Bagaimana caranya bersyukur saat ditimpa musibah? Yaitu dengan melihat sisi-sisi positif dan kebaikan dalam musibah itu, seperti dalam doa Imam Ali Zainal Abidin saat ia sakit,

“Ya Allah, aku tidak tahu, apakah aku harus bersyukur atau bersabar dalam kondisi sakitku ini. Sebab, berkat sakit ini, aku terhindar dari berbagai kenistaan, aku lebih punya banyak waktu untuk berzikir dan berkumpul bersama keluarga. (Jalaluddin Rakhmat: Tafsir Kebahagiaan Pesan al-Qur’an Menyikapi Kesulitan Hidup).

  Musibah itu pasti terjadi dan tidak bisa dihindari, namun sikap kita saat terjadinya musibah bisa jadi berbeda-beda. Ada yang terkena musibah yang sepele tetapi penderitaan yang diakibatkannya sangat besar. Sebaliknya ada yang terkena musibah sangat besar tetapi ia hanya tersenyum saat menimpanya. Kenapa bisa demikian? Karena cara sudat pandang yang berbeda. Bahagia-Derita saat musibah terjadi itu sangat dipengaruhi oleh sudut pandang kita masing-masing.

Baca Juga:  Penyatuan Kalender Hijriyah dan Jawa, Sebuah Upaya Membumikan Nilai Islam

Seperti para Nabi ketika ditimpa musibah ia tidak pernah menunjukkan kekesalannya, malah dia bahagia menjalani musibah tersebut. Nabi Ibrahim as diminta oleh Allah swt untuk menyembelih anaknya, iapun laksanakan. Nabi Nuh as dicuekin oleh umatnya iapun tak henti-hentinya mengingatkan umatnya, Nabi Muhammad saw dilempari batu, kotoran hewan bahkan di usir, serta ingin dibunuh namun Nabi saw tidak pernah menunjukkan kejengkelannya terhadap umat, apa sebabnya karena para Nabi saat terkena musibah ia melihat sisi-sisi positifnya.

Imam Ali Zainal Abidin pun selalu melihat sisi positif setiap musibah yang ia alami. Musibah sakit pada hakikatnya adalah karunia, sebab dengan musibah Allah gugurkan dosa-dosa kita, lebih banyak mengingat Allah swt daripada mengingat yang lainnya, dengan musibah dapat kita mengukur bentuk perhatian orang terhadap kita, dengan musibah kita pun tahu betapa terbatasnya dirinya kita dan tidak mampunya menolak yang namanya sakit karena itu tidak boleh sombong.

Baca Juga:  Buta Huruf; Benarkan Salah Satu Mukjizat Nabi Muhammad? Ini Penjelasannya

Saat musibah datang, milikilah sifat sabar, saat karunia datang bersyukurlah. Saat kita sehat punya banyak waktu untuk beribadah, menolong sesama, mencari nafkah untuk keluarga. Oleh karena itu, saat sakit bersabarlah saat sehat bersyukurlah, atau baik sakit maupun sehat bersyukurlah.

Perempuan-perempuan yang ingin seperti Khuludah binti Aud, yang menjadi bidadari Nabi daud itu berkat amalnya yang kelihatannya sederhana namun sebenarnya sangat susah, hendaklah setiap kali musibah menimpa bersabarlah, atau yang lebih tinggi lagi bukan hanya bersabar tetapi bersyukur atas musibah tersebut.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamt Thariq.

Muhammad Tahir A.