Inilah Enam Hal yang Bisa Kita Teladani dari Gus Sholah

gus sholah

Pecihitam.org – Selepas kepergiannya, Indonesia tak berhenti dirundung duka sebab telah kehilangan seorang kiai sekaligus cendekiawan dengan kapasitas keilmuan yang tinggi. Jasa-jasa KH Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Sholah sangatlah besar untuk Indonesia. Nah, apa saja sih prestasi yang telah beliau torehkan selama hidupnya? Ini dia lima hal yang bisa diteladani darinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, seorang cendekiawan yang mumpuni

Jika melihat reputasi dan nasabnya sebagai keturunan Hasyim Asy’ari, tak salah jika orang menganggap Gus Sholah adalah kiai atau ulama tulen. Tapi, jika kita membaca tulisan-tulisan ilmiahnya tentang kebangsaan dan keislaman, apalagi tentang demokrasi, orang pasti akan menduganya sebagai cendekiawan politik.

Artikelnya tersebar di koran-koran nasional, menyoroti berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat dan bangsa. Pada masa itulah, beliau mulai kerap berpolemik dengan Gus Dur kakaknya sendiri.

Kedua, berpikir terbuka dan pandai menulis.

Gus Dur dan Gus Sholah yang notabene kakak-adik pernah berpolemik sengit pada 1998. Mereka saling bantah dan kritik melalui tulisan opini di media. Mereka bahkan diundang salah satu stasiun televisi atas perdebatan itu.

Topik yang diangkat sangat berat yakni relasi antara agama (Islam) dan negara, merujuk pada pemikiran sang ayah yang terlibat dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 22 Juni 1945, yang kemudian menghasilkan Piagam Jakarta.

Baca Juga:  Gus Sholah: Ansor Itu Masa Depan NU

Gus Dur menulis ”A Wahid Hasyim, NU, dan Islam” pada 8-9 Oktober 1998. Delapan hari kemudian, Gus Sholah menyanggah dalam artikel ”KH A Wahid Hasyim, Pancasila”. Mereka berpolemik hingga kemudian masing-masing menulis tiga artikel. Entah siapa yang menang atau lebih kuat argumentasinya.

Para pembaca pastilah punya kesimpulan sendiri. Yang pasti, mereka tak berhenti di situ. Duo Wahid ini tetap saling kritik secara terbuka, dalam topik sejenis ataupun tema lain, sampai-sampai publik menganggap mereka bermusuhan.

Ketiga, seorang teknokrat andal.

Sebenarnya, lebih dari seperempat usia Gus Sholah dihabiskan untuk bidang di luar keagamaan. Gus Sholah adalah arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung. Beliau pernah merintis karier di bidang kontraktor dan menjabat direktur utama sebuah perusahaan konsultan teknik, menjadi sekretaris jenderal di Ikatan Konsultan Indonesia, associate director perusahaan konsultan properti internasional, dan lain-lain. Sepanjang tahun 1970-1997, sebagian besar aktivitasnya di bidang arsitektur dan konstruksi.

Keempat, menjadi ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI).

Setelah memutuskan untuk meninggalkan dunia arsitek, Gus Sholah memutuskan untuk kembali menulis pada tahun 1998 lalu bergabung dengan ICMI dan menjadi Ketua Majelis Pengurus Pusat ICMI 2000-2005.

Baca Juga:  Biografi Syaikh Ibrahim al Bajuri Pengarang Hasyiyah al Bajuri

ICMI adalah organisasi yang sering dikritik Gus Dur karena dianggap bentukan pemerintah Orde Baru. Sejumlah kalangan menganggap bergabungnya Gus Sholah ke ICMI mewakili komunitas NU, sementara Gus Dur dengan jutaan warga nahdliyin di belakangnya menentang organisasi itu.

Kelima, pegiat atau pembela hak asasi manusia (HAM)

Tak lama setelah Gus Dur dilengserkan dari kursi kepresidenan, Gus Sholah terpilih sebagai Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2002-2007.

Di Komnas HAM, ia sempat memimpin TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) untuk menyelidiki kasus kerusuhan Mei 1998, menjadi Ketua Tim Penyelidik Ad Hoc Pelanggaran HAM Berat kasus Mei 1998, dan Ketua Tim Penyelidikan Kasus Pulau Buru.

Keenam, memimpin Tebuireng.

Tahun 2006, tepatnya bulan Februari, pesantren yang didirikan kakeknya membutuhkan tenaga dan pikiran. Waktu itu, Tebuireng dipimpin oleh pamannya yang bernama Yusuf Hasyim alias Pak Ud. Beliau mengundurkan diri setelah 41 tahun memimpin sejak 1965. Pak Ud menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Gus Sholah dan sang kemenakan menyanggupinya.

Maka, Gus Sholah pun kembali ke habitatnya semula yakni mengurus pesantren dan umat. Ia mengerahkan segenap kemampuan dan latar belakang teknokratnya untuk mengelola pesantren warisan kakeknya. Ia pun kembali rajin menulis tentang masalah-masalah kebangsaan dan keislaman, mencurahkan perhatian pada NU, terutama dalam hal pentingnya NU menjaga khitah sebagai organisasi kemasyarakatan.

Baca Juga:  Ketika Ronggowarsito Menjadi Santri di Pesantren Gebang Tinantar

Gus Sholah pun memodernisasi sistem pendidikan di Pesantren Tebuireng. Para guru diminta menyusun prosedur standar operasi bagi kegiatan belajar-mengajar setelah dilatih tim konsultan profesional. Sistem full day school diterapkan di semua unit pendidikan mulai 2007.

Bahkan, para pembina santri dibekali pelatihan kedisiplinan dan psikologi sehingga mereka dapat menjalankan tugas dengan baik. Dibangun gedung-gedung baru sebagai sarana penunjang pendidikan. Modernisasi yang dilakukan Gus Sholah ini adalah pintu gerbang bagi para santri generasi mendatang untuk bisa menghadapi tantangan zaman.

Meskipun sedari awal Gus Sholah sudah tahu bahwa ia tidak akan menikmati hasilnya, ia tetap memperjuangkannya. Tugas generasi sekarang adalah merawat dan memajukan yang telah ia wariskan.

Ayu Alfiah