Inilah Jejak Hidup Seorang Sufi Syekh Zulfiqar Ahmad

syekh zulfiqar ahmad

Pecihitam.org – Syekh Zulfiqar Ahmad, salah satu Syekh pendatang baru atau baru dikenal di era zaman sekarang, beliau seorang Hafiz Al-Qur’an dan merupakan seorang ahli tenaga listrik hingga beliau pensiun dini diusia empat puluh tahun demi mengabadikan diri sepenuhnya pada Agama. Sehingga berangkat dari sini, kita sudah bisa menebak akan kerelaan hati beliau dalam meninggalkan keahliannya yang merupakan seorang ahli tenaga listrik adalah bukti cintanya yang  amat mendalam kepada Agama. Maka tak heran jikalau beberapa ungkapan dirinya terkait Mahabbah seorang hamba  kepada Kekasih-Nya amat begitu Syahdu. Untuk itu, mari kita mengenal jejak hidup Syekh Zulfiqar Ahamad sang Sufi belakangan dan konsep Mahabbah Miliknya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Syekh Zulfiqar Ahmad, lahir pada tanggal 1 April 1953 di Jhang (Pakistan). Ia dilahirkan dari kedua orang tua yang sangat taat dalam ibadah. Ayahnya rajin membaca al-Qur’an hingga 3 sampai 4 juz senantiasa dilakukan sebelum matahari terbit, ibunya juga seorang wanita yang sangat shalehah. ia sangat rajin bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajud.

Pernah suatu ketika Syekh Zulfiqar Ahmad menulis cerita tentang ibunya, “Pada suatu malam, ia tidur di tempat tidur ibunya. Ketika Syekh Zulfiqar Ahmad terbangun dan melihat ibunya tidak ada di tempat tidur. Ternyata ibunya sedang duduk di atas sajadah, ibunya sedang berdoa setelah melaksanakan shalat tahajud. Syekh Zulfiqar Ahmad menunggu ibunya menyelesaikan doanya, ibunya berdoa dengan suara yang keras dan mengeluarkan air mata. Syekh Zulfiqar Ahmad berkata. “Saya tidak pernah melihat siapapun yang menangis lebih dari ibu saya di tahajud.”

Selain itu, Syekh Zulfiqar Ahmad juga memiliki kakak laki-laki yang bernama Malik Ahmad Ali yang sangat berperan dalam pendidikan awal Syekh Zulfiqar Ahmad, ia dididik oleh kakaknya dengan ketat dan penuh kasih untuk menjaga dirinya dari pergaulan bebas. (Shaykh Hafiz Muhammad Ibrahim Naqshabandi, “Brief Introduction of Legendarys Scholar Hazrat Moulana Zulfiqar Naqshabandi Mujadidi)

Pada masa kecil, ketika kelas lima Syekh Zulfiqar Ahmad sudah mulai ikut dalam kegiatan Jamaah Tabligh. Ia juga belajar bahasa Arab dan buku-buku Persia, selain pergi ke sekolah dan kuliah. Setelah menyelesaikan BSC, ia juga mempelajari beberapa buku hadits. Selama periode ini, ketika ia membaca buku-buku Tazkiratul Aulia, Ghaniyatul Thalibin dan Kasyful Mahjub, ia terdorong untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, ia mulai mengunjungi khanaqah (suatu bangunan yang dirancang khusus sebagai tempat perkumpulan Thariqah sufi) untuk mempelajari ajaran yang diajarkan Rasulullah Saw. Karena ia merasa dirinya masih banyak kekurangan dari apa yang dia pelajari.

Baca Juga:  Ini Penting Saya Utarakan! Sombongnya Gus Baha itu Berdasarkan Ilmu

Hingga ketika beliau betul betul mengabadikan diri hanya untuk Agama, disanalah Syekh aktif melakukan perjalanan yang bertujuan memberikan ceramah, dan tentu Ceramah Syekh Zu!fiqar Ahmad telah menginspirasi ribuan orang dari berbagai kalangan masyarakat termasuk para profesor, dokter, insinyur, pengusaha, pegawai negeri sipil, akademisi, mahasiswa, dan lain-lain untuk menjadi pecinta Allah Swt.

Karena bagi Syekh Zulfiqar Ahmad mengajak orang-orang untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah hal yang sepantasnya karena cinta kepada Allah adalah tujuan yang paling hakiki. Ia tak ingin manusia tertawan oleh cinta terhadap dunia materi yang di mana terjadi pada masa sekarang ini. Manusia terbuai oleh cinta duniawi yang menyibukkan.

Itulah mengapa Syekh Zulfiqar Ahmad mengatakan, “Secara lahir, mereka berbicara tentang cinta kepada Allah Swt untuk menghibur hati mereka. Namun, yang sebenarnya adalah bahwa dalam Pengadilan Raja Cinta (Allah), tidak ada hal-hal semacam itu yang menjadi bagian dari hati mereka.” (Syekh Zulfiqar Ahmad, Cinta Abadi Para Kekasih Allah, Penerjemah Munir [Bandung: Marja, 2002] hlm. 12)

Baca Juga:  Ibrahim Al-Khawwash, Kisah Waliyullah; Karomah Dan Kalam Hikmahnya

Tidak hanya itu, jejak hidup Syekh Zulfiqar Ahmad sangat menjunjung tinggi nilai kecintaan seorang hamba terhadap Tuhah, itulah sebabnya Dalam buku “Cinta abadi para kekasih Allah” beliau mendefinisikan bahwasanya Cinta (Mahabbah) adalah kondisi hati dimana pecinta rindu ingin bertemu dengan kekasih. maka tak heran jikalau para sufi beranggapan bahwa kecenderungan yang abadi dan dimabuk rindu, tak ada yang diharapkan selain bertemu dengan sang kekasih. Maka hal yang wajar jikalau dikatakan bahwa cinta adalah sebuah kerinduan.

Sama halnya dengn Hadits yang masyhur bahwasanya Nabi Ibrahim As berkata kepada malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya, “Adakah kau melihat dia yang dicintai hendak mematikan orang yang mencintai?” Allah lalu mewahyukan kepada Nabi Ibrahim As, “Apakah kau melihat orang yang mencintai benci bertemu dengan kekasihnya?” lantas, Nabi Ibrahim pun berkata “Wahai Malaikat Maut, Cabutlah nyawaku sekarang juga”

Begitupun dengan ungkapan Syekh Zulfiqar Ahmad

“Engkau kekasihku, motivasiku, kebahagiaanku,
Hatiku menolak mencintai yang lain selain Engkau
Wahai kekasihku, motivasiku dan harapanku
Lama aku merindu, kapan akhirnya aku bertemu denganmu?
Aku tidak mencari kesenangan Syurga
Hasratku hanya bertemu denganMu”

Dari ungkapan ini, telah dapat kita petik bahwasanya cinta dalam konsep Syekh Zulfiqar Ahmad adalah cinta yang semata mata tertuju kepada Allah, tidak kepada yang lainnya. selain itu, beliau mencintai bukan karena Keindahan Syurga melainkan hanya karena kepada Allah dan kerinduan. persis dengan Rabiah al Adwiyah ketika ditanya apa hakikat keimananmu?. Maka Rabiah berkata:

Baca Juga:  Mengenal Said Al Musayyib, Sang Pembesar Tabi’in dan Menantu Abu Hurairah

“Aku menyembahNya bukan karena takut akan api nerakaNya, dan juga bukan karena suka akan Syurga-Nya sehingga aku bagika seorang pedagang yang takut kerugian. Aku menyembah-Nya tidak lain karena kecintaan dan kerinduanku terhadapNya”

Selain itu, pada ungkapan lainnya beliau mengatakan

Aku boleh lupa segalanya demi mengingat-Mu, Dan aku boleh tidak ingat yang lain.
Aku boleh meninggalkan semua yang ada dihatiku demi Engkau, Dan hatiku boleh diisi oleh-Mu.
Aku boleh membakar kesenangan dan kebahagiaanku,
Dan hatiku boleh rindu kepadamu semata.
Aku boleh buta terhadap semua yang kuketahui,
Dan aku boleh berpaling hanya kepada-Mu, bukan ke yang lain.

Selain itu, Syekh Ahmad pun mengutip perkataan Abu Hasan Samnun bin Hamzah Al Khawas bahwasanya “Orang orang yang mencintai Allah telah pergi dengan kemuliaan dunia dan akhirat. Dan perihal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah Saw “Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber Referensi: Konsep Mahabbah (Cinta) dalam Pemikiran Syekh Zulfiqar Ahmad oleh Ali Saputra

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.