Iradah, Sifat Wajib Allah yang Harus Dipahami Umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah

sifat wajib iradah bagi allah

Pecihitam.org – Pada artikel sebelumnya telah kita bahas tentang sifat wajib bagi Allah SWT, yakni sifat Qudrah/Kuasa, namun sebelum masuk kepada pembahasan sifat wajib Iradah, maka alangkah baiknya bila terlebih dulu benar-benar memahami sifat-sifat sebelumnya yang sudah dijelaskan dalam artikel tersebut, ini di karenakan adanya kesinambungan di antara satu artikel dengan artikel lainnya.

Sifat ke-delapan yang wajib bagi Allah swt adalah Sifat Iradah, (اِرَادَة) artinya berkehendak.  Lawannya adalah karahah (كَرَاهَة) yang berarti keterpaksaan

Allah Ta’ala wajib bersifat dengan Iradah, mustahil Allah Ta’ala karahah atau terpaksa. Definisi daripada  sifat Iradah sebagaimana yang tertera di dalam kitab Ad-Dusuqi adalah:

“Suatu sifat yang memberi pengaruh ia dalam menentukan terjadinya salah satu daripada dua hal yang mumkin sebagai ganti dari sesuatu yang berlawanan dengannya berupa keberadaan atau ketiadaan, panjang atau pendek dan seumpamanya”

Iradah bisa juga di artikan dengan suatu sifat yang ada lagi qadim yang berdiri ia dengan zat Allah Ta’ala yang dengannya Allah menentukan sesuatu yang mumkin/baharu dengan sebahagian yang boleh baginya tanpa sebahagian yang lain sesuai dengan yang ada dalam Ilmu-Nya.

Baca Juga:  Kritik Terhadap Buku Salafi Wahabi: Ajaran Madzhab Syafi'i yang Ditinggalkan

Sesuatu yang baharu tersebut berupa “mumkinaat mutaqaabilaat” (sesuatu yang baharu lagi saling berlawanan satu sama lain). Mumkinaat Mutaqaabilaat tersebut ada 6 : Ada dan Tiada, Ukuran-ukuran, sifat-sifat, waktu-waktu/zaman, tempat-tempat dan yang terakhir adalah Arah-arah. (Kitab Tanwirul Qulub, hal: 18)

Pada dasarnya setiap sesuatu yang mumkin itu dapat menerima tiap-tiap dari pada dua hal yang berlawanan tersebut dengan takaran yang sama kuatnya, tiada yang mengunggulkan antara satu dengan yang lainnya, lalu Allah Ta’ala mentakhsiskan/menentukan mana yang sesuai dalam Ilmu-Nya untuk di Unggulkan satu dari dua hal yang berlawanan tersebut.

Umpamanya Allah menentukan sesuatu yang baharu itu terwujud atau ada ia, maka ketika itu keberadaan adalah sebagai ganti daripada lawannya yakni ketiadaan. Begitu juga ketika Allah Kehendaki sesuatu tersebut menjadi panjang, maka panjang tersebut telah unggul daripada lawannya yakni pendek.

Dan contohnya lagi seperti ketika Allah tentukan sesuatu yang baharu/mumkin tersebut berwarna hitam, maka hitam itu adalah sebagai ganti daripada lawannya yakni putih, merah dan lainnya.  Begitu juga ketika Allah tentukan gerak, maka sebagai ganti dari lawannya yakni diam. Demikian pula halnya dengan zaman/waktu tertentu, tempat-tempat tertentu dan arah-arah tertentu.

Baca Juga:  Setiap Muslim Harus Tahu! Inilah 20 Sifat Wajib Allah dan Penjabarannya Menurut Ulama

Setiap sesuatu yang akan ada dan tidak akan ada, semuanya itu adalah Kehendak Allah Ta’ala, maka tidak akan terjadi sesuatu apapun pada Kerajaan Allah Ta’ala melainkan Allah Sendiri Yang Menghendakinya dengan kehendak yang mutlak tanpa ada paksaan sama sekali, mustahil Allah Ta’ala terpaksa

Dalil ‘Aqli

Jika Allah Ta’ala tidak Maha Berkehendak, berarti Allah Ta’ala dipaksa/terpaksa. Sifat berkehendak adalah sifat ke-sempurnaan bagi-Nya, sedangkan sifat dipaksa tersebut adalah merupakan kekurangan pada zat Allah Ta’ala, karena paksaan itu adalah berupa tekanan dari pihak lain.

Oleh karena itu Mustahil Allah bersifat karahah/terpaksa, bagaimana tidak?, bukankah akal kita sudah dapat menerima yang bahwa Allah Ta’ala itu wajib bersifat Qudrah (kuasa), berdasarkan dalil akal yang pernah kita bahas dalam artikel saya yang berkaitan dengan sifat Qudrah tersebut?. lalu bagaimana mungkin zat Yang Maha Kuasa dapat dipaksa oleh selainnya ? maka karahah/terpaksa ini adalah mustahil bagi Allah SWT.

Baca Juga:  Ilmu; Sifat ke-Sembilan dari 20 Sifat Wajib bagi Allah SWT

Dalil Naqli

  • Surat Yunus ayat 99 :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا

“Dan jikalau Tuhanmu Menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya”

  • Surat An-Nahl ayat 40 :

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: Kun (Jadilah)!, maka jadilah ia”

Demikian sedikit pembahasan tentang sifat ke-delapan yang wajib bagi Allah Ta’ala, yakni sifat Iradah. InsyaAllah akan kita lanjutkan pada artikel berikutnya tentang sifat ‘Ilmu.

Wallahu A’lam Bisshawaab !

Muhammad Haekal
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *