Irak Dicap Lembek di Hadapan AS, Ada Apa?

Pecihitam.org – Basis-basis Hizbullah Irak di provinsi Babul dan pangkalan-pangkalan milik al-Hashd al-Shaabi di provinsi Salahudin dan Basrah dibombardir jet-jet temput AS pada Jumat lalu.

Wilayah tersebut merupakan sebuah bandara yang tengah dibangun di Karbala juga menjadi sasaran serangan udara AS.

Serangan itu dikutuk keras oleh al-Hashd al-Shaabi, mayoritas legislator Irak, dan pemerintah Irak.

Muhammad al-Halbusi (ketua parlemen Irak) menuntut penyelidikan atas agresi itu dan pengumuman hasilnya kepada publik. Namun di saat yang sama, dia juga menyuarakan pembatasan senjata pada pemerintah guna mencegah reaksi yang tak bisa dibenarkan terhadap agresi AS itu.

Sementara itu, banyak anggota parlemen Irak yang menginginkan sidang luar biasa di parlemen untuk membahas agresi AS.

Baca Juga:  Bela Anies Baswedan Soal Reklamasi Ancol, PA 212: Ingkar Janji yang Mana?

Adil al-Karaawi (seorang petinggi al-Hashd al-Shaabi) meminta agar pemerintah mengambil sikap tegas yang sepadan dengan serangan AS ke basis tentara dan relawan Irak. Dia berpendapat, statemen al-Halbusi menguntungkan AS dan memihak keberadaannya di Irak.

“Serangan atas basis al-Hashd al-Shaabi dan tentara Irak, juga sebuah bandara nonmiliter oleh AS, memiliki sejumlah pesan. Itu adalah pernyataan permusuhan terbuka AS terhadap bangsa Irak, pasukan keamanan, dan hal-hal yang dikultuskan mereka,” kata al-Karaawi kepada al-Maalomah, dikutip dari Liputan Islam, Minggu, 15 Maret 2020.

Saat ini, kata dia, pemerintah Irak harus berhenti bereaksi hanya dengan kecaman saja, namun harus bersikap lebih tegas untuk mengusir pasukan AS.

Baca Juga:  Kecam Donald Trump, PBNU: AS Harus Berhenti Bunuh Rakyat Timur Tengah

Fadhil al-Jabir (anggota koalisi al-Fath di parlemen) pada hari Sabtu, 14 Maret 2020, kemarin menyatakan, para anggota parlemen telah menghimpun tanda tangan untuk mengadakan rapat luar biasa guna membahas agresi AS.

Mantan Legislator Irak, Basim Khazali, juga menyebut sikap al-Halbusi terlalu lembek di hadapan AS.

Ketua parlemen Irak disebutnya tidak menghargai darah warga negaranya sendiri.

“Statemen al-Halbusi soal pembatasan senjata adalah sikap lembek dan tak relevan dengan kedudukannya. Topik pembatasan senjata adalah sebuah topik internal, yang bisa dibahas setelah mengusir pasukan asing dari Irak dan menyelesaikan agresi AS yang terus berulang atas al-Hashd al-Shaabi,” kata Khazali kepada al-Maalomah