Islam antara Agama dan Budaya

agama dan budaya

Pecihitam.org – Terinspirasi dari buku KH. Ali Mustafa Yaqub yang berjudul Islam Is Not Only For Muslim, mengantarkan saya untuk menulis artikel ini. Islam antara agama dan budaya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebelum kita melangkah lebih jauh alangkah baiknya kita fahami terlebih dahulu bahwa Islam mempunyai 3 pokok, yaitu dalam hal agama, ibadah, dan muamalah (pekerjaan), menurut versi pak Kyai.

Dalam 3 hal tersebut 2 diantaranya wajib kita laksanakan tanpa adanya tawaran, dalam artian kita harus patuh dengan apa yang sudah diperintahkan. Yaitu dalam hal agama dan ibadah. Dalam riwayat Muslim disebutkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda

إذا أمرتكم بشيئ من دينكم فخذوا به وإذا أمرتكم بشيئ من رأيي فإنما أنا بشر

Jika aku memerintahkan kalian mengenai masalah agama maka taatilah, dan jika aku memerintahkan kalian menurut pemikiran ku, maka aku hanyalah manusia”

Dalam hadits diatas dapat disimpulkan bahwa jika Nabi menyampaikan syariat yang berupa aqidah dan agama, maka semua itu perintah dari Allah yang harus ditaati dan dikerjakan, tanpa adanya penawaran, sebab hukum tersebut adalah syariat.

Baca Juga:  Hoaks, 78 Tentara Korea Utara Masuk Islam

Sedangkan jika nabi Muhammad SAW melakukan sesuatu selain dari keduanya (agama dan aqidah), maka itu bukan termasuk syari’at boleh saja kita mengikutinya ataupun tidak, seperti halnya dengan pakaian yang dikenakan Nabi, kita tau bahwa pakaian yang di pakai oleh Nabi adalah abaya, yang mana pakaian tersebut merupakan budaya dari bahasa Arab.

Jadi pakaian yang dipakai oleh Nabi bukan termasuk syari’at yang harus kita ikuti, namun ia adalah budaya Arab. Buktinya Abu Jahal yang bukan orang Islam pun memakai pakaian seperti itu. Jadi ketika kita memakai pakaian batik misalnya, maka sama saja kita mencontoh Nabi, sebab batik adalah pakaian budaya Indonesia.

Budaya merupakan jenis dari muamalah yang mana segala sesuatu yang berhubungan dengannya, menurut hukum asal adalah adalah mubah, kecuali jika ada sesuatu yang melarangnya.

Maka kebudayaan merupakan kebebasan dari setiap warga yang ada di negara tersebut, selama ia tidak menyalahi syariat. Dalam qowaid fiqhiyah disebutkan bahwa,

Baca Juga:  Mendalami Makna Dan Faedah Sabar Dalam Islam

الأصل في المعاملة الإباحة إلا ما دل الدليل على التحريم

Pada dasarnya hukum muamalah adalah mubah, kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya”

Sedangkan dalam aqidah dan agama kita meyakini bahwa keduanya merupakan syariat, yang mana didalamnya menjelaskan tentang iman terhadap Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul, qodho dan qadar, serta siksaan yang akan ada di hari kiamat. Juga terdapat Islam yang mana terdiri atas kewajiban syahadat, shalat, zakat, puasa, dan Haji (bagi yang mampu).

Dalam aqidah pun kita meyakini adanya Allah dan sifat-sifat-Nya. Dan bagi orang yang tidak meyakini Allah dan sifat-sifatNya, ataupun segala ketentuan yang datang darinya seperti, adanya hari Kiamat, hari hisab, adanya makhluk ghaib, maka dia termasuk kafir, sebab semua itu adalah syariat yang tidak bisa ditawar.

Maka sesuatu yang nabi ajarkan atau nabi lakukan adakalanya masuk dalam kategori muamalah, dan ia termasuk budaya, seperti contoh yang sudah saya sebutkan diatas. Islam tidak pernah merusak ataupun melarang sebuah budaya, meskipun budaya akan terus berkembang sesuai waktu dan tempat, yang menjadi garis besar disini adalah bahwa budaya tersebut tidak menyalahi agama dan aqidah.

Baca Juga:  Kiai Said: Islam Harus Dibela dengan Peradaban, Bukan dengan Kerumunan Massa!

Maka dapat kita fahami bahwa islam adalah agama Rahmatal Lil Alamin, yang mana ia tidak pernah menyalahi budaya sedikitpun. Islam menghargai adanya budaya, dan islam pun merupakan agama yang membuat semua pemeluknya menjadi manusia yang bahagia.

Jelas disini bahwa kedudukan Islam antara agama dan budaya tidak pernah bertentangan, keduanya berjalan sesuai dengan aturan yang telah Nabi ajarkan. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Nur Faricha