Jangan Mudah Terlena, Inilah Adab Ketika Dipuji dalam Islam

Adab Ketika Dipuji

Pecihitam.org – Kebiasaan manusia memuji seseorang ternyata dapat membahayakan iman dan taqwa bagi orang yang di puji. Karena akibat dari sebuah pujian adalah dapat menimbulkan perasaan bangga di dalam diri seorang yang di puji sehingga ia menjadi takabur dan lupa bahwa segala sesuatu yang telah dirinya miliki dan capai saat ini merupakan anugerah dari Allah Swt.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ketika kita dipuji orang lain maka hendaknya adab yang baik yaitu menganggap bahwa pujian tersebut sebagai bentuk ujian keimanan dari Allah Swt. Karena pada hakekatnya sebuah pujian adalah ujian, sedangkan fitnah (ujian) bisa berupa kebaikan ataupun keburukan.

Banyak sekali orang-orang yang menyibukkan dirinya agar mendapatkan pujian dari orang lain entah itu dari harta, kecantikan, ketampanan, ataupun prestasi yang mereka miliki. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 35 sebagai berikut,

ونبلوكم باالشر والخير فتنة والينا ترجعون

“ Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu di kembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Pujian adalah bentuk ujian berupa kebaikan bagi orang lain, namun jika efek samping dari sebuah pujian membuat seseorang menjadi ujub (takjub dengan dirinya sendiri) tentu akan menjerumuskan seseorang menjadi lalai untuk bersyukur.

Baca Juga:  Bahaya dan Keburukan Sifat Dengki yang Patut Kita Jauhi

Jadi bagi seorang yang memuji pun harus berhati-hati, sebagaimana yang Rasulullah Saw sebutkan dalam sebuah hadist tentang larangan memuji orang lain secara berlebihan,

ويحك قطعت عنق صاحبك قطعت عنك صاحبك –مرارا-اذاكان أحدكم مادحا صحبه لامحالة فليقل: أحسب فلانا والله حسيبه ولا اركي علي الله أحدا

“ Celakalah kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu (berulang-ulang ) kalaupun salah seorag di antara kalian harus memuji temanya maka hendaknya dia mengatakan : ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah Swt.”

Menanggapi bahayanya sebuah pujian, Ibnu’Athaillah pun memberikan nasehat yang tercantum di dalam karyanya yaitu Kitab Al-Hikam. Di sebutkan oleh Ibnu ‘Athaillah dalam karyanya bahwa adab bagi seseorang ketika dipuji orang lain seharusnya ia malu kepada Allah.

Baca Juga:  Inilah 4 Bahaya Sifat Sombong yang Wajib Kita Hindari

المؤمن اذا مدح استخيا من الله تعلي ان يثني عليه بوصف لا يشهد من نفسه

“Ketika seorang mukmin dipuji, maka seharusnya ia merasa malu kepada Allah, karena ia di puji dengan sifat yang tidak ia dapati dalam dirinya.”

Menurut Ibnu ‘Athillah, rasa malu di tujukan kepada Allah Swt, di sertai dengan kesadaran bahwa segala bentuk kebaikan yang di puji berasal dari Allah Swt yang masih bersedia menutupi aib-aib hamba-Nya. sehingga segala keburukan di dalam diri seseorang pun tidak terlihat oleh orang lain.

Ibnu ‘Athaillah mengatakan: Jika mendapati orang-orang yang memujimu karena apa yang mereka sangka pada dirimu, maka celalah dirimu karena apa yang engkau ketahui ada pada dirimu. Karena merupakan sebuah kebodohan jika meninggalkan keyakinan sendiri dan mengikuti dugaan orang lain.

Adapun saat kita di puji sebaiknya sambal membaca do’a seperti berikut,

Baca Juga:  Jangan Lupa! Inilah Amalan-amalan Sunnah di Bulan Rajab

اللهم لاتؤاخذني بما يقولون وغفرلي ما لا يعلمون واجعلني خيرا مما يظنون

“ Ya, Allah semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik dari pada yang mereka perkirakan.”

Jadi, jangan terlalu terlena oleh pujian sesama manusia dan sebaiknya malu ketika di puji oleh orang lain karena menyadari bahwa kebaikan yang ada pada diri kita itu di sebabkan karena Allah Swt masih menutupi aib-aib kita. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik