Meski Dosa Sebesar Gunung, Janganlah Putus Asa dari Rahmat Allah yang Melangit Luas

Meski Dosa Sebesar Gunung, Janganlah Putus Asa dari Rahmat Allah yang Melangit Luas

PECIHITAM.ORG – Sebesar apapun dosa yang pernah dilakukan, janganlah putus asa dari rahmat Allah. Karena sesungguhnya rahmat-Nya lebih luas daripada dosa yang kita lakukan, bahkan lebih luas dari alam semesta ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

عن ابن مسعود رضي الله تعالى عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الفاجر الراجي رحمة الله تعالى أقرب إلى الله تعالى من العابد المقنط


Dari ibnu Mas’ud RA berkata : Rasululloh SAW bersabda : Pelaku dosa yang mengharap rahmat Allah lebih dekat kepada Allah daripada ahli ibadah yang memutus rahmat.

Berkenaan dengan hadis ini, terdapat cerita tentang ummat kehidupan ummat terdahulu. Ada dua orang. Satunya ahli ibadah, tapi akhirnya masuk neraka. Satunya lagi ahli maksiat, tetapi endingnya masuk Surga. Ini karena cara pandang mereka terhadap rahmat Allah yang berbeda.

Si ahli ibadah dengan PDnya mengklaim bahwa ibadahnya adalah buah dari kesungguhannya, bukan karena rahmat Allah. Sementara si pendosa merasa takut kepada Allah dan berharap rahmat-Nya.

Kisah tentang orang pertama bersumber dari Zaid bin Aslam, dari Umar ra. bahwasannya pada umat terdahulu ada seseorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan dia bersikeras dalam ibadah untuk dirinya sendiri. Namun dia membuat orang-orang putus asa dari rahmat Allah hingga ia kemudian meninggal dalam kebiasaan seperti itu: rajin ibadah tapi membuat orang lain putus asa.

Setelah.meninggal, dengan GR-nya, lantas dia bertanya, “Wahai Tuhan, apa yang Engkau siapkan untukku dari-Mu?” Allah menjawab “Neraka”. Dia bertanya, “Wahai Tuhan, lantas dimana ibadahku dan kesungguhanku?” Allah menjawab “Sesungguhnya engkau telah membuat orang-orang putis ada dari rahmat-Ku ketika dunia, maka hari ini Aku memutusmu dari rahmat-Ku”.

Kemudian mengenai kisah si pendosa yang akhirnya masuk surga, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bahwasannya ada seseorang yang tidak berbuat kebaikan sama sekali kecuali hanya tauhid (beragama Islam). Maka tatkala maut mendatanginya, dia berkata pada keluarganya: “Jika aku nanti mati, maka bakarlah aku dengan api hingga menjadi abu, kemudian buanglah abu itu ke laut ketika musim angin kencang.

Baca Juga:  Gus Baha: Allah Itu Dimana dan Sedang Apa?

Setelah keluarganya melaksanakan wasiat si pendosa, saat itukah, a berada dalam genggaman Allah SWT. Allah bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan apa yang telah kau lakukan?” DIa menjawab “ketakutan pada-Mu”. Kemudian Allah mengampuninya sebab hal tersebut padahal dia tidak melakukan suatu kebaikan apapun melainkan tauhid (Islam).

Begitulah. Dua kisah ini mengajarkan kepada kita, janganlah putus asa. Karena rahmat dengan dasar keluasan rahmat Allah yang tak terbatas, sungguh rahamat-Nya melebihi dan mengalahi murka-Nya, sebagaimana sabda Nabi dalam hadis qudsi yang bersumber dari Abu Hurairah

إن رحمتي غلبت غضبي

Sesungguhnya rahmat-Ku melebihi kemurkaan-Ku. (HR. Bukhari)

Menguatkan kisah kedua, yakni tentang pendosa yang mendapatkan curahan rahmat Allah, Syaikh Ushfuri menyebutkan bahwa ada seorang yang mati pada masa Nabi Musa AS. Orang-orang tidak mau memandikan dan menguburkannya lantaran kefasikannya. Maka mereka membawa jenazah orang tersebut dengan menyeret kakinya dan membuangnya ke tempat sampah.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa AS dengan berfirman, “Wahai Musa, ada seseorang yang mati di daerah seperti ini dan seperti ini dalam keadaan terbuabg di tempat sampah. Dia adalah seorang wali dari para wali-Ku. Mereka belum memandikannya, mengkafani dan menguburkannya. Maka pergilah engkau. Mandikannlah, kafani, sholati, dan kuburkan dia”.

Mendapat perintah seperti itu, Nabi Musa AS pun berangkat menuju tempat tersebut dan bertanya kepada orang-orang tentang mayit tersebut. Mereka berkata kepada Nabi Musa, “Telah mati seseorang dengan sifat begini dan begitu, dan sesungguhnya dia adalah seorang fasiq yang nyata”.

Baca Juga:  Kisah Wafatnya Sayyidah Aisyah Istri Nabi di Bulan Ramadhan

Kemudian Nabi Musa bertanya, “Dimana tempatnya? Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewahyukan kepadaku untuk memuliakan dia”

Singkat cerita. Ketika Nabi Musa AS melihatnya dalam keadaan terbuang di tempat sampah dan orang-orang mengabarinya tentang kelakuannya yang buruk, Nabi Musa bermunajat kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, Engkau menyuruhku menguburkan dan menshalatinya, sedangkan kaumnya bersaksi atas keburukannya. Maka Engkau lebih mengetahui daripada mereka dengan segenap pujian dan celaan”

Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, kaumnya benar tentang apa yang telah mereka ceritakan mengenai keburukan kelakuannya, hanya saja dia memohon pertolongan kepada-Ku saat kematiaannya dengan tiga hal yang andaikata (tiga hal tersebut) digunakan untuk memohon pertolongan kepada-Ku oleh seluruh orang-orang yang berdosa dari ciptaan-Ku pastilah Aku akan mengkabulkannya, maka bagaimana Aku tidak menyayanginya sedangkan dia telah memohon sendiri, dan Aku adalah Maha Penyanyang dari para penyayang”.

Disebutkan dalam Kitab Ushguriyyah, tiga permintaan dari si pendosa yang jenazahnya ditolak kaumnya ini adalah sebagai berikut

يا رب أنت تعلم مني إني كنت ارتكب المعاصي وكنت اكره المعصية فى قلبي لكن اجتمع في ثلاث خصال حتى ارتكبت المعصية مع كراهة المعصية في قلبي أولها هوى النفس والرفيق السوء وإبليس لعنة الله عليه وهذه الثلاثة القتني فى المعصية فإنك تعلم مني ما اقول فاغفرلي

“Wahai Tuhan, apa tiga hal itu?”, Allah Ta’ala menjawab “Ketika kematiannya dekat, dia berkata “Wahai Tuhan, Engkau lebih mengetahui diriku bahwa sesungguhnya aku telah melakukan banyak maksiat sedangkan aku membenci maksiat tersebut dalam hatiku tetapi ada tiga hal yang membuat aku melakukan maksiat dengan membenci maksiat tersebut di dalam hatiku, pertama hawa nafsu, teman yang buruk dan iblis yang dilaknat Allah, tiga hal ini menjatuhkanku dalam kemaksiatan, maka sesungguhnya Engkau lebih mengetahui daripada aku tentang apa yang aku katakan maka ampunilah aku”.

يارب إنك تعلم بأني ارتكب المعاصي وكان مقامي مع الفسقة ولكن احب صحبة الصالحين وزهدهم والمقام معهم كان احب الي من الفاسقين

Baca Juga:  Mukjizat Nabi Ibrahim AS dalam Kisah yang Terdapat pada Al-Quran

“Wahai Tuhan, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah melakukan banyak maksiat dan tempatku bersama orang-orang fasik namun aku suka berteman dengan orang solih, kezuhudan mereka dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada bersama orang-orang fasik”.

إلهي انك تعلم مني ان الصالحين كانوا احب إلي من الفاسقين حتى لو استقبلني رجلان صالح وطالح لقدمت حاجة الصالح على الطالح

“Wahai Tuhan sesungguhnya Engkau mengetahui diriku bahwasannya orang-orang sholih lebih aku sukai daripada orang-orang fasik, hingga andaikata aku dihadapkan dua orang; baik dan buruk pastilah aku mendahulukan kebutuhan orang yang baik daripada orang yang buruk”

Demikianlah tiga kisah di atas yang dapat kita petik pelajarannya. Selain harus menyakini bahwa kemampuan kita beribadah adalah semata-mata karena rahmat Allah, bukan sebab daya kita, pesan yang tak kalah penting adalah: Janganlah putus asa dari rahmat Allah walaupun dosa kita menggunung. Karena sungguh tamat Allah melangit luas.

Faisol Abdurrahman