Kamu Harus Tahu! Ternyata Ini Hikmah Diwajibkannya Mandi Setelah Junub

Hikmah Diwajibkannya Mandi Setelah Junub

Pecihitam.org – Mungkin akan terbesit di benak sebagian orang, kenapa orang yang junub atau keluar mani wajib mandi, padahal mani itu suci, sementara orang yang buang air besar, cukup dengan wudhu saja, tanpa perlu mandi? Tulisan saya kali ini, akan menguak hikmah diwajibkannya mandi setelah junub atau keluar mani.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertanyaan seperti di atas, sebenarnya bukan masalah baru. Dulu Nabi Muhammad juga pernah mendapatkan pertanyaan serupa dari orang-orang penganut Agama Yahudi waktu itu.

Mungkin mereka mau menakar keilmuan Nabi, atau bahkan menguji kebenarannya sebagai Nabi. Mereka memulai dengan pernyataan bahwa buang air besar itu lebih jorok daripada sekadar keluar mani. Kotoran BAB itu najis, sementara mani najis.

Lantas mereka pun bertanya, sebagaimana carita ini dituangkan oleh Imam Al-Bujairimi dalam salah satu kitabnya hasyiyah-nya

أَنَّ جَمَاعَةً مِنْ عُلَمَاءِ الْيَهُوْدِ جَاءُوْا إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوْا : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنَا لِمَاذَا أَمَرَ اللهُ تَعَالَى بِالْغُسْلِ مِنَ الْجَنَابَةِ وَلَمْ يَأْمُرْ بِهِ فِي الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ وَهُمَا أَقْذَرُ مِنَ النُّطْفَةِ

Baca Juga:  Bagaimana Hukum Ngobrol dan Tertawa di Dalam Masjid?

Sesungguhnya ulama-ulama Yahudi datang kepada Nabi, mereka pun berkata: Wahai Muhammad, beritahu kepada kami mengapa Allah taala memerintahkan untuk mandi karena junub, dan tidak memerintahkan mandi setelah buang air kecil dan air besar, padahal kencing dan fases lebih kotor daripada mani? (Hasyiyah Bujairimi Jilid II halaman 305)

Mengenai hikmah diwajibkannya mandi setelah junub atau setelah melakukan jima’, para ulama merindukannya ada dua.

Pertama, sebagai bentuk syukur nikmat

Hikmah yang pertama Ini, diambil dari jawaban Nabi atas pertanyaan tokoh-tokoh Yahudi yang telah dikemukakan di awal.

إنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا أَكَلَ حَبَّاتٍ مِنْ الشَّجَرَةِ وَتَحَوَّلَ سَرَيَانُهَا فِيْ عُرُوْقِهِ وَشَعْرِهِ وَسُرَّتِهِ ، فَإِذَا جَامَعَ الْإِنْسَانُ نَزَلَ الْمَنِيُّ مِنْ أَصْلِ كُلِّ شَعْرَةٍ فَافْتَرَضَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيَّ وَعَلَى أُمَّتِيْ شُكْرًا لِمَا أَنْعَمَ عَلَيْهِمْ مِن اللَّذَّةِ الَّتِيْ يُصِيْبُهَا مِنْهُ أَيْ مِنَ الْمَنِيِّ قَالُوْا لَهُ صَدَقْتَ يَا مُحَمَّدُ

(Nabi Muhammad SAW menjawab): Sesungguhnya ketika Nabi Adam AS memakan biji-bijian, itu menjadi saripati yang mengalir ke urat, kulit dan pusar. Maka ketika manusia melakukan jima’, keluarlah mani (yang berasal dari saripati makanan tadi) melalui pori-pori kulit.

Maka Allah pun mewajibkan mandi besar kepadaku dan ummatku sebagai bentuk syukur akan nikmat yang Allah berikan dengan keluarnya mani itu. Maka ulama-ulama Yahudi itu menyahut: “Benar apa yang kau katakan wahai, Muhammad”

Jadi hikmahnya yang pertama, wajib mandi setelah junub bukan karena mani tidak lebih jorok daripada kancing dan kotoran, tapi karena sykur atas nikmatnya proses orgasme atau keluarnya mani.

Baca Juga:  Adakah Shalat yang Diwajibkan Sebelum Peristiwa Isra Mi'raj?

Ini juga dijelaskan dalam Mizan al-Kubra Juz II halaman 187

أن تعميم البدن بخروجه أو بالجماع من غير خروجه ليس هو للقذر وإنما هو لما فيه من الذة التي تسري في جميع البدن

Jadi, mengguyur sekujur badan dengan air (mandi besar) karena keluar mani atau karena hubungan badan yang tidak sampai keluar mani bukan karena faktor joroknya, tetapi itu karena adanya kelezatan yang menjalar ke seluruh tubuh.

Kedua, agar badan menjadi bugar dan semangat kembali on

Dijelaskan dalam Syarh al-Yaqut an-Nafis, bahwa dengan mandi setelah melakukan jima’, badan yang lemas akibat keluar sperma akan segar bugar kembali.

والحكمة في أن خروج المني يوجب الغسل : لأنه يضعف الجسم ، والغسل يعطيه شيئا من النشاط وجريان الدم

Baca Juga:  Min Atsari Sujud dengan Akhlak atau Min Atsari Karpet dengan Jidat Hitam?

Hikmah diwajibkan mandi setelah keluar mani karena keluarnya mani membuat badan lemas. Maka dengan mandi akan menambah semangat dan sirkulasi darah menjadi lancar.

Demikian dua hikmah diwajibkannya mandi setelah junub atau melakukan jima’ baik keluar mani atau tidak. Semoga menambah khazanah tentang luasnya ilmu Allah SWT.

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *