Karomah KH Bisri Musthofa, Meralat Tafsir al Ibriz Setelah Wafat

kh bisri musthofa

Pecihitam.org – Karomah atau keistimewaan biasanya diberikan Allah kepada wali-wali atau manusia-manusia pilihan-Nya di dunia. Jika dahulu ketika zaman nabi di keistimewaan itu disebut dengan mukjizat sedangkan pada zaman sekarang disebut karomah, karena mukjizat hanya diberikan kepada para Nabi dan Rasul saja. Salah satu kisah karomah kekasih Allah yaitu tentang karomah KH Bisri Musthofa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

KH Bisri Musthofa yang merupakan ayah handa dari KH. Ahmad Mustofa Bisri. Beliau dilahirkan di desa Pesawahan, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1915 dengan nama asli Masyhadi. Nama Bisri ia gunakan setelah kembali dari menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Beliau adalah putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Zaenal Musthofa dengan istri keduanya yang bernama Hj. Khatijah. KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai seorang kyai pengarang, yang menulis beberapa buah kitab, khususnya dalam Bahasa Jawa. Saat ini, sosok Kyai yang setara dengan Kiai Bisri Musthofa telah jarang ditemui.

KH Bisri Musthofa merupakan sosok yang lengkap. Beliau ya seorang Kyai, Budayawan, Muballigh, Politisi, Orator, dan Muallif (penulis). Sungguh, sosok Kiai yang memiliki kecerdasan lengkap. Ayahanda Kyai Mustofa Bisri dan Kiai Cholil Bisri ini menjadi referensi bagi santri dan tokoh negara. Tak heran, Kyai Sahal Mahfudh menyebut Kiai Bisri sebagai sosok yang memukau pada zamannya

Baca Juga:  Nasehat Imam Abu Hanifah Kepada Khalifah Tentang Poligami

Di antara karyanya (yang cukup terkenal) adalah Tafsîr al-Ibriz. Selain dikenal sebagai seorang kiai penulis, pengasuh Pondok Pesantren Leteh Rembang ini juga dikenal sebagai seorang orator dan politikus.

Sepeninggal KH. Bisri, KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus (puteranya) mengaku mengalami suatu kejadian menarik yang sulit diterima akal pada umumnya.

Diceritakan, Gus Mus kedatangan seorang tamu dari Cirebon (nama tidak dicatat) yang menyampaikan pesan KH. Bisri kepada dirinya.
“Anda Gus Mus?” tanya tamu dari Cirebon itu.
“Ya, saya Mustofa,” jawab Gus Mus.

Orang itu kemudian menyampaikan pesan yang baru saja diterimanya dari KH. Bisri Mustofa menyangkut karya besar dia, Tafsir al-Ibriz.

“Kiai Bisri berpesan agar Anda mengoreksi surat al-Fath karena di situ ada sedikit kesalahan.”
“Kapan Anda ketemu dia?” tanya Gus Mus
“Kemarin, di Cirebon.” Jawabnya

Baca Juga:  Kisah Nabi Membelah Bulan dalam Kitab Durrotun Nashihin

Ketika Gus Mus memberi tahu bahwa KH. Bisri telah meninggal hampir empat puluh hari yang lalu, orang itu amat terkejut dan lunglai.

Sesudah itu, Gus Mus segera datang ke Kudus, menemui KH. Abu Amar dan KH. Arwani yang dipercaya Penerbit Menara Kudus sebagai pen-tashhih (korektor). Dan ternyata informasi yang disampaikan orang dari Cirebon itu benar, dalam surat al-Fath terdapat satu kesalahan (kecil) yang lolos dalam beberapa kali (koreksi).

Dalam ayat ke-18 yang seharusnya berbunyi; laqad radhiyallahu ‘anil mu’minina …, tertulis laqad radhiyallahu ‘alal mu’minina …

Pengalaman yang sama juga dialami Gus Mus. Bedanya, yang kedua ini yang juga dari Cirebon datang untuk menyampaikan pesan KH. Bisri agar dirinya melanjutkan karya dia yang belum sempat diselesaikan.

“Anda ketemu sendiri?” tanya Gus Mus.
“Ya, saya ketemu sendiri di Cirebon,” tutur orang itu kepada Gus Mus. Keterkejutan yang sama juga dialami orang itu manakala diberi penjelasan bahwa KH. Bisri Mustofa sudah wafat.

Baca Juga:  Ketika Seorang Ahli Ibadah Dikalahkan Oleh Iblis

Pengalaman aneh di atas seakan mempertegas kebenaran firman Allah:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran [3]: 169)

“Di jalan Allah” bukan berarti harus jihad dengan berperang. Sebaliknya, menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin juga masuk dalam kategori itu. Wallahua’lam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.