Keajaiban Mahallul Qiyam, Rasakan Hadirnya Nabi Saat Pembacaan Maulid

mahallul qiyam

Pecihitam.org – Warga Nahdliyyin Mungkin sudah begitu akrab dengan istilah Mahallul Qiyam, saatnya berdiri, yakni saat dibacakan sholawat nabi:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ

Wahai Nabi salam kepadamu, Wahai Rasul salam kepadamu

Jika kita melihat lirik syair maupun prosa yang terdapat di dalam kitab Al-Barzanji, seratus persen isinya memuat biografi, sejarah hidup dan kehidupan Rasulullah SAW. Demikian pula yang ada di dalam kitab Diba’ dan Burdah. Tiga kitab ini yang berlaku di kalangan orang-orang NU dalam melakukan ritual Maulid Nabi, atau menyambut kelahiran Rasulullah SAW.

Di tengah pembacaan maulid Diba’ atau Berzanji, ada ritual berdiri yang disebut Mahallul Qiyam atau “Srokalan”, kata orang Jawa menyebutnya. Karena berasal dari kalimat “Asyraqal Badru ‘Alaina” dimana jika sudah sampai di situ hadirin dan jamaah di mohon untuk berdiri. Mahallul Qiyam dalam arti katanya adalah waktu atau tempat berdiri. Maksud dari berdiri ini adalah penghormatan atas kehadiran Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah majelis. Ada yang menyebutnya sebagai “Marhabanan” dari kalimat “Marhaban” yang artinya “Selamat Datang” atas kehadiran Nabi kita.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُذْرِيّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ: قُوْمُوْا إلَى سَيِّدِكُمْ أوْ خَيْرِكُمْ. رواه مسلم

Dari Abi Said Al-Khudri, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat Ansor,” Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian.” (HR Muslim)

Berdiri untuk menghormati sesuatu sesunguhnya sudah menjadi tradisi kita. Demikian pula dengan berdiri ketika membaca sholawat. Saat Mahallul Qiyam sedang berlangsung semua orang yang hadir dalam majelis tersebut, tua muda, laki-laki, perempuan semua berdiri untuk memberikan penghormatan kepada shohibul maulid, yaitu Nabi Muhammad SAW sambil melantunkan pujian kepadanya dengan penuh kekhusyu’an. Bahkan tidak jarang banyak air mata yang tumpah. Sulit untuk digambarkan bagaimana kekhusu’an, ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan yang dirasakan dalam hati.

Baca Juga:  Bagaimana Etika Tawasul Yang Benar Agar Doa Kita Segera di Kabulkan Allah SWT?

Wallahu’alam, boleh percaya dan tidak, ini dengan pengalaman penulis sendiri, bagi yang sering mengikuti majelis sholawat biasanya akan merasakan hal yang berbeda ketika mahallul qiyam. Sesaat udara terasa dingin dan sejuk serta badan merinding. Ada yang bilang ketika itu Rasulullah SAW benar-benar hadir dalam majelis tersebut. Hadir disini bukan dalam makna dhohir namun “nur” (cahaya) Rasulullah SAW lah yang hadir di tengah-tengah majelis.

Pada bait Sholawat يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ (Yaa Nabi Salam ‘alaika yaa rasul salam ‘alaika). Jika diperhatikan redaksi kalimatnya, pada saat menyebut Nabi dalam sholawat tersebut memakai kata ganti ﻙَ yaitu kata ganti orang kedua atau dhomir mukhatab, yang artinya kamu atau anda. Kalimat itu tidak menyebut nabi dengan dlamir ghaib ﻩُ (dia, atau beliau). Kita menyebut Nabi dengan engkau. Ini artinya bahwa pada saat mahallul qiyam seakan Nabi Muhammad SAW benar-benar hadir di hadapan kita.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengatakan bahwa Imam Al-Barzanji dalam kitab Maulid-nya menyatakan, ”Sebagian para imam hadits yang mulia itu menganggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah Nabi Muhammad SAW. Betapa beruntungnya orang yang mengagungkan Nabi dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya. (al-Bayan Watta’rif fi Dzikral Maulid an-Nabawi, hal. 29-30).

Abul Faraj Al-Halabi menyebutkan bahwa berdiri saat mahallul qiyam ini sudah dilakukan sejak dulu oleh orang yang alim. Seorang panutan baik dalam ilmu agama dan sifat wara’nya, yaitu al-Imam Abdul Wahab bin Taqiyuddin ‘Ali bin Abdul Kafy as-Subki atau biasa di sebut dengan Imam as-Subki.

Baca Juga:  Tata Cara Shalat Idul Adha 2020 dan Panduan Protokol Kesehatan saat COVID-19

Abul Faraj Al-Halabi menulis : “Al-Imam As-subkiy berkumpul bersama banyak ulama di zamannya dan saat itu seorang mursyid membacakan puji-pujian untuk Nabi karangan As-Sharshari” ;

قليل لمدح المصطفى الخط بالذهب :: على ورق من خط أحسن من كتب
وأن تنهض الأشراف عند سماعه :: قياما صفوفا أو جثيا على الركب

“Sedikit sekali Tulisan bertinta emas di kertas (perak) untuk memuji Nabi itu dari penulis terbaik”
“Sedikit sekali Orang-orang mulia berdiri tegap dengan berbaris ataupun berjongkok di atas kuda ketika mendengar pujian terhadap Nabi.”

Kemudian saat itu juga Imam As-Subki dan jamaah yang hadir bersamanya sama berdiri, lalu datanglah “uns kabir” (ketenangan dan kesejukan hati) dalam majelis itu.

Kisah Menarik Mengenai Orang Yang Enggan Berdiri Saat Pembacaan Maulid

Dikisahkan oleh Sayyid Alawi Al-Maliki dari ayah beliau, Sayyid Abbas Al-Maliki. Suatu ketika Sayyid Abbas Al-Maliki pada malam maulid berada di Baitul Maqdis untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi, di mana saat itu dibacakan Maulid al Barzanji. Ketika itu ada lelaki tua beruban yang berdiri dengan khidmat penuh adab mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya pada lelaki tadi akan sikapnya itu, yaitu berdiri sementara usianya sudah tua.

Sayyid Abbas Al-Maliki menuturkan jawaban orang yang tua tadi:

ﺑِﺄَﻧَّﻪ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻡُ ﻋِﻨْﺪَ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟْﻤِﻴْﻠَﺎﺩِ ﺍﻟﻨَّﺒَﻮِﻱِّ ﻭَﻳَﻌْﺘَﻘِﺪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﺳَﻴِّﺌَﺔٌ ﻓَﺮَﺃَﻯ ﻓِﻲْ ﻧَﻮْﻣِﻪِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﻊَ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٍ ﻣُﺘَﻬَﻴِّﺌِﻴْﻦَ ﻟِﺎﺳْﺘِﻘْﺒَﺎﻟِﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻃَﻠَﻊَ ﻟَﻬُﻢْ ﺑَﺪْﺭُ ﻣُﺤَﻴَّﺎﻩُ ﻭَﻧَﻬَﺾَ ﺍﻟْﺠَﻤِﻴْﻊُ ﻟِﺎﺳْﺘِﻘْﺒَﺎﻟِﻪِ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡَ ﻟِﺬَﻟِﻚَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮْﻝُ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧْﺖَ ﻟَﺎ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴْﻊُ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡَ ﻓَﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻘْﻌَﺪٌ

Baca Juga:  KH. Ma'ruf Amin: NU Agen Perubahan Islam di Tengah Masyarakat

“Bahwa dulu ia tidak mau berdiri pada acara peringatan Maulid Nabi dan ia berkeyakinan bahwa perbuatan itu adalah bid’ah sayyi’ah (jelek). Hingga suatu malam ia bermimpi, dia bersama sekelompok orang yang bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi Muhammad SAW. Maka saat cahaya wajah beliau yang bagaikan bulan purnama muncul, semua orang tadi bangkit dengan berdiri menyambut kehadiran Rasulullah namun ia (lelaki tua) tidak mau bangkit untuk berdiri”.

Lalu Rasullullah berkata kepadanya:

ﺃَﻧْﺖَ ﻟَﺎ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴْﻊُ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡَ

“Kamu tidak akan bisa berdiri”

Dan ketika ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan tidak bisa berdiri. Hal ini ia alami selama satu tahun. Kemudian ia pun bernadzar jika Allah menyembuhkan sakitnya itu ia akan berdiri mulai awal pembacaan Maulid Nabi hingga akhir bacaan. Lalu Allah menyembuhkannya. Untuk memenuhi nadzarnya ia pun akhirnya selalu berdiri (mulai awal pembacaan Maulid Nabi hingga akhir bacaan) karena ta’zhim (mengagungkan) beliau SAW. (Al-Hadyut tamm)

Begitu pentingnya, sebagai penghormatan atas hadirnya Rasulullah SAW ketika pembacaan maulid, oleh karenanya kita disunnahkan untuk berdiri pada saat mahallul qiyam, dan ketika itu rasakanlah kehadiran Rasulullah SAW. Itulah apa yang telah diajarkan oleh para ulama pendahulu kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang ahli sholawat. Amiin.
Wallahu’alam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *