Bukti Kebutaan Realitas dan Riwayat Arus Dakwah Wahabi

Bukti Kebutaan Realitas dan Riwayat Arus Dakwah Wahabi

PeciHitam.org Arus utama dakwah salafi wahabi menihilkan tradisi dan kebudayaan masyarakat local yang menjadi obyek dakwahnya. Gambaran utama dakwah mereka adalah menafikan fiqhu da’wah bahwa dalam berdakwah harus memperhatikan keadaan masyaraktnya agar tidak menimbulkan gejolak dan penolakan.

Betapa beratnya dakwah jika yang dihadapi adalah obyek dakwah itu sendiri karena mengusik tradisi dan budaya akar mereka. Pun dakwah salafi wahabi di Nusantara yang sudah Islam sejak era Walisongo tetap diusik dengan berbagai tuduhan seperti bid’ah, syirik, penyembah kuburan dan sesat. Anehnya salafi wahabi berjubahkan dakwah Sunnah seakan-akan Rasulullah SAW mengajarkan friksi dengan umatnya.

Rasulullah SAW dan Masyarakat Makkah

Dakwah Rasulullah SAW dimulai pada tahun 610 M dikota Makkah, tanah kelahiran Rasulullah SAW sampai tahun 622 M. Sekira 12 tahun Rasulullah menanamkan kesadaran untuk bertauhid kepada Allah SWT, menyembah kepada Pencipta Ka’bah bukan berhala yang memenuhi bangunan suci tersebut.

Metode yang dipakai Rasulullah SAW ketika berdakwah tidak serta merta menghancurkan berhala yang jumlahnya sekitar 360 disekitar Ka’bah. Pun sampai akhir periode dakwah di Makkah, Nabi Muhammad SAW tidak melakukan tindakan pengrusakan kepada sesembahan orang Jahilliyah tersebut. Setidaknya fakta sejarah menjadi menjadi perenungan dakwah di era kontemporer.

Baca Juga:  Trilogi Tauhid Wahabi, Cara Ibnu Taimiyah Melakukan Takfiri Kepada Ulama Sufi dan Ahli Kalam

Bahwa dalam dakwah harus memperhatikan obyek dakwahnya tidak mentang-mentang benar kemudian berlaku sewenang-wenang terhadap obyek dakwah.

Penghancuran berhala  baru dilakukan umat Islam setelah peristiwa Fathu Makkah tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Rasulullah SAW pada peristiwa ini melafadzkan ayat;

قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ (٤٩

Artinya; “Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi” (Qs. Saba’ 49)

Kebutaan literasi sejarah oleh salafi wahabi sangat terlihat dalam dakwah mereka yang hanya sibuk membidik Umat Islam yang berseberangan dengannya.

Untuk golongan yang mengklaim diri sebagai pengamal sunnah seharusnya mereka memahami dengan sangat baik fiqhu da’wah. Atau memang dakwah sunnah mereka hanya sekedar label isapan jempol belaka.

Tuduhan Amaliah Bid’ah yang Menyakitkan

Ciri utama dakwah salafi wahabi yakni mengklaim diri sebagai ‘pemilik otoritas kebenaran’ Islam karena banyaknya simbol-simbol agama yang diperalat.

Baca Juga:  Kisah Nyata! Satu Keluarga yang Dulunya NU, Mendadak Jadi Wahabi

Sebagaimana klaim bahwa Islam tidak mengenal bid’ah hasanah walaupun fakta sejarah dan riwayat menunjukan bahwa Nabi tidak anti bid’ah selama itu tidak keluar dari rambu-rambu ajaran Islam.

Pada riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa pada suatu waktu nabi Muhammad SAW shalat bersama dengan para Sahabatnya.

Dan dipertengahan shalat Nabi SAW mendengar redaksi bacaan bangun dari Ruku’ yang bid’ah (baru) dari ajaran Rasulullah SAW. Riwayatnya sebagai berikut;

عن رفاعة بن رافع رضي الله عنه قال: كنا يومًا نصلي وراء النبي صلى الله عليه وآله وسلم فلما رفع رأسه من الركعة قال سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ»، قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: «مَنِ المُتَكَلِّمُ» قَالَ أَنَا، قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

Diriwayatkan dari Rifa’ah bin Rafi’ bahwa Sahabat pernah suatu ketika shalat dibelakang Rasulullah SAW, ketika bangun dari Ruku’ serentak para Sahabat membaca ‘sami’allahu liman Hamidah’. Akan tetapi ada seroang sahabat yang menyelesihi bacaan sahabat lain dengan membaca ‘Rabbana Walakal Hamdu Katsiran Tahyyiban Mubarikan Fih’.

Selesai shalat Nabi menanyakan kepada para Sahabat siapa yang membaca demikian, dan salah satu dari mereka menunjukan diri. Dan Rasulullah SAW mengatakan bahwa ada sekitar 30 malaikat yang berlomba mencatat terlebih dahulu perbuatan bid’ah tersebut.

Baca Juga:  Syaikh Abdul Fattah, Ulama Yaman Yang Taubat Dari Salafi Wahabi

Untuk sebuah bacaan shalat saja kreasi baru sahabat dibenarkan, tidak disesat-sesatkan, disalahkan atau dituduh kurang baik. Selama itu mendukung kebaikan maka kreasi baru diperkenankan sebagai bentuk ekspresi keagamaan.

Hal inilah yang menunjukan kebutaan realitas dan riwayat salafi wahabi dengan arus dakwahnya yang selalu menyalahkan amaliah Muslim Nusantara.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG