Kekerasan Atas Nama Agama, Bolehkah dalam Islam? Ini Jawabannya!

Kekerasan Atas Nama Agama, Bolehkah dalam Islam? Ini Jawabannya!

PeciHitam.org – Sejarah mencatat, banyak sekali bercak noda atau masa kelam pada setiap perjalanan manusia yang beragama. Agama yang secara bahasa bermakna “Tanpa Kekacauan” (a= tanpa/ nihil, gama= kacau/ rusak) ternyata tidak semanis kata dalam mulut dan makna.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kita belajar dan memahami kekerasan dalam lintasan sejarah manusia banyak beraroma “perintah agama” dan “legitiminasi ketuhanan” yang wajib dilakukan oleh pemeluknya.

Akhir-akhir ini kita gencar menemui beberapa upaya kekerasan dalam kerangka “agama” yang dianggap merupakan sebuah kebajikan dan mendapat balasan surga dan ketenangan jiwa karena terjaminnya kehidupan setelah mati.

Keterjebakan ini mendapat ruang dalam umat, yang kemudian melahirkan tindakan irhabiyyah/ kekerasan berdasar doktrin. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata;

كَلِمَةُ حَقٍّ يُرِيْدُ بِهَا الْبَاطِلُ

Kata yang benar bertendensi untuk kepentingan yang busuk (Riwayat Imam Ali bin Abi Thalib)

Sedangkan dalam Islam sendiri diterangkan bahwa pemaksaan dalam teologi/ Aqidah yang pasti benar saja dilarang. Hal tersebut berdasar ayat al-Quran dan para mufassir bersepakat bahwa;

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦)

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”

Pertanyaan yang mendasar, apakah benar “agama” yang demikian itu adalah Agama yang  benar yang menjadi kebijaksanaan Tuhan? Bukankah tuhan semesta Alam tidak menyukai ketidak-teraturan dalam dunia? Dan harus dibawa kemana ayat al-Baqarah: 256 di atas?

Baca Juga:  Ini 10 Sahabat yang Memiliki Jaminan Surga! Baca Kisahnya Disini

Jika kejadian tersebut, kekerasan atas nama Agama, dibiarkan dan diabaikan, akan menjadi stigma buruk bagi agama secara umum. Yang mana gerakan anti-agama akan menguat. Hal ini juga menjadi ancaman bagi umat beragama itu sendiri.

Catatan peristiwa kekerasan atas nama Agama, penulis mengambil contoh dari kejadian perseteruan antara kaum Golongan Loyalis Ali bin Abi  Thalib (kemudian terkenal dengan Syiah/ Syii) dan golongan yang Kontra Ali bin Abi Thalib (kemudian terkenal dengan Khawarij).

Kedua golongan tersebut berbeda pendapat dalam langkah politik yang kemudian merembet dan mencari titik pembenaran dalam ideologi. Sangat mengerikan kejadian ini.

Masing-masing golongan menjadi fanatik buta dalam mempertahankan ideologi dan keyakinan politiknya. Sampai-sampai, sebagaimana kita tahu, Ali bin Abi Thalib tewas terbunuh dengan kepala terpenggal oleh mata pedang Abdurrahman bin Muljim pada saat menunaikan ibadah Shalat Subuh.

Sang pembunuh dan korban terbunuh sama-sama seorang Muslim, bahkan kita tahu bahwa sang korban adalah menantu Nabi Muhammad SAW dan pembunuh adalah seorang Muslim Fanatik yang taat. Bahkan seorang ilmuan Salaf menyifati Abdurrahkam bin Muljim sebagai Qaaimul Lail (Ahli Ibadah Malam), Hafidzul Quran (Penghafal Quran) wa Shaa-imun Nahar (Ahli Berpuasa).

Sebenarnya apa yang menyebabkan hal ini? Jawaban sederhana adalah Fanatisme Golongan yang tidak terbatas.

Baca Juga:  Ini Tujuan Menikah dalam Islam, Gak Asal Nikah Mblo!!

Bahkan pada era modern ini, kita disuguhi sebuah fenomena memilukan. Klaim pendirian Negara Islam yang berdasar Syariah Nubuwwah versi Islamic State dilakukan dengan jalur perang. Perang berkecamuk, maka yang terjadi adalah pembantaian, pembunuhan, genoside bahkan pemenggalan kepala oleh anak-anak dibawah umur.

Kejadian tersebut menjadi telaah kita saat ini, bahwa Islam tidak sebaik ajarannya, karena bagi orang luar islam citra tersebut-lah yang mewakili ajaran Islam. Maka tidak bisa dipersalahkan muncul gerakan islamo-phobia (ketakutan terhadapa Islam).

Benar kiranya kata-kata seorang Pujangga Raja Kediri, Jayabaya, bahwa agama yang akan tersisa adalah Agami Budhi. Hal ini paralel dengan kata-kata Abdurrahman Wahid atau akrab disebut Gus Dur, bahwa

“orang tidak akan tanya agamamu apa, mereka akan bertanya bagaimana Akhlak-mu”.

Adagium/ kata-kata tersebut muncul karena kejengahan dan kemuakan atas terjadinya kekerasan berdasar ajaran agama yang diklaim oleh sebagian umat beragama. Orang-orang umum akan menilai kita dari apa yang kita perbuat.

Maka dalam beragama harus yang dikedepankan adalah akhlak karena akan menjadi Ruang Tamu sebuah bangunan keagamaan kita. Dan keimanan akan menjadi Urusan dapur kita, yan tidak akan ditanyakan seorang tamu yang datang berkunjung. Narasi ini yang harus di kedepankan penganut Islam Moderat. Langkah kedepan harus ada penilaian kembali pada citra Islam.

Baca Juga:  Menggapai Hakikat Haji, Meraih Predikat Mahabbatullah

Pembangunan nilai-nilai kedamaian, narasi perjuangan islam, medan tepat dalam dakwah serta metode penyebaran Agama Islam moderat serta menjunjung tinggi kedamaian harus dikedepankan. Jangan sampai nilai moderat islam tertutupi oleh paham Radikalis dan Ekstrimis yang merusak citra Islam.

Sejarah mencatat kekerasan berlandaskan Islam sangat banyak harus diluruskan dengan cara membuat rumusan, bahwa Islam adalah sebuah ajaran damai dan harus dilakukan secara jalan Islam. Ruang bagi pemikiran Islam Radikal dan Ekstrim harus ditutup. Tagline terdepan yaitu Kekerasan bukan Ajaran Islam. Ash-shawabu Lillah

Mohammad Mufid Muwaffaq