Kelahiran Nabi Isa dalam Perspektif Al-Quran

Kelahiran Nabi Isa dalam Perspektif Al-Quran

PeciHitam.org – Kisah merupakan suatu metode Alquran untuk menyampaikan pesan moral dan sejarah, mempunyai daya tarik yang kuat bagi jiwa dan dapat menggugah kesadaran manusia untuk beriman kepada Allah swt., dan berbuat sesuai dengan ajaran kitab Alquran.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebagai wahyu, kisah dalam Al-Quran diyakini sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi dan harus diyakini dan diteladani karena mengandung hikmah dan pelajaran

Kisah Nabi Isa as tersebar dalam 10 surat dalam Al-Quran, meskipun surat yang paling banyak memuat kisah Nabi Isa as terdapat dalam QS Ali-Imran/3, QS al-Nisa/4, QS al- Maidah/5 dan QS Maryam/19.

Kisah Nabi Isa as lengkap dimulai dari kehamilan, dan proses bersalin yang dialami oleh Maryam, kerasulan dan kemukjizatan yang dimilikinya dan penyelamatan yang dilakukan Allah swt. dari kaum Yahudi yang berencana menyalibnya.

Ayat-ayat yang berhubungan dengan Nabi Isa as baik langsung maupun tidak langsung kurang lebih 75 ayat yang tersebar dalam beberapa surah. Ada tiga hal pokok penting dalam membahas kehidupan Nabi Isa as yaitu; 1). Kelahirannya, 2). Dipertuhankannya oleh Bani Israil di kemudian hari, 3). Kematiannya yang tidak dibunuh dan tidak disalib.

Kelahiran Nabi Isa as menyita banyak perhatian, salah satu mukjizat yang diturunkan kepadanya yakni kelahirannya tanpa seorang bapak, lahir dari seorang ibu yang perawan, suci, dan mampu menjaga kehormatannya yakni Maryam binti Imran. wanita suci yang tidak pernah disentuh oleh laki-laki.

Kelahiran inilah menimbulkan kontroversi, bagaimana status Nabi Isa as apakah itu adalah mukjizat atau ia adalah anak Allah melalui tiupan ruh oleh Malaikat Jibril.

Baca Juga:  Tahukah Kamu? Masjid Ini Pernah Jadi Saksi Perjanjian Rasulullah dengan Jin

Kemuliaan keluarga dan keturunan Imran dijelaskan dalam QS Ali-Imran: 33-34, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Imran adalah ayah dari Maryam (Ibu Nabi Isa). Nama lengkapnya adalah Imran bin Saham bin Amor bin Meisyan bin Heizkil bin Ahrif bin Baum bin Ezazia bin Amsiya bin Nawus bin Nunya bin Bared bin Yosafat bin Radim bin Abia bin Rabeam bin Sulaiman bin Daud as. Imran yang artinya makmur.

Imran memiliki seorang istri bernama Hannah binti Yaqudz seorang hamba yang patuh. Ibunda Maryam tidak dapat memiliki keturunan. Lalu, dia bernazar kepada Allah jika suatu hari nanti hamil, dia akan menjadikan anaknya sebagai pengabdi di Baitul Maqdis.

Karena itu ketika istri Imran hamil, ia berjanji dengan tekat yang kuat (bernazar), jika anaknya laki-laki, ia relakan berhidmat di rumah Allah, Baitu al-Maqdis. Hal ini berarti nazar itu perwujudan keimanan seseorang yang harus dilakukan jika sesuatu yang dinazarkan terkabul.

Baca Juga:  Kisah Santri Aswaja Kalah Saat Adu Dalil Dengan Wahabi

Nama Maryam, menurut Ibnu Asyur dalam kitab at-Tahrir wa at-Tanwir berasal dari bahasa Ibrani yang kemudian ditulis dalam bahasa Arab (مریم(  yang dalam bahasa Arab tidak memiliki arti, ia hanya sebagai nama saja. Orang Arab memahami Maryam adalah karakter perempuan baik. Maryam adalah wanita suci dan amat cemerlang namanya.

Kisah kelahiran Nabi Isa ini digambarkan Allah dengan indah di dalam Al-Quran, yakni surat Maryam ayat 16 sampai dengan ayat 40. Dalam ayat ini Allah menjelaskan bagaimana situasi kelahiran Nabi Isa as, dan ketika Ibunya Maryam dengan tabah dan sabar menghadapi kaumnya yang menuduh serta menghina dengan kehadiran bayinya itu.

Adapun ayat tersebut adalah sebelum lahir Nabi Isa as terjadi peristiwa-peristiwa ganjil yang dialami oleh ibunya yakni Maryam. Di antara peristiwa itu adalah ketika Maryam menyendiri, tiba-tiba datang malaikat Jibril menyerupai manusia, kisah ini diceritakan. Allah swt. berfirman dalam QS Maryam/19: 16-17.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Ayat di atas menceritakan ketika Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad ketika diperintahkan untuk menceritakan tentang kisah Maryam, agar memperingatkan manusia dan mengambil pelajaran terhadap kisah ini.

Baca Juga:  Ketika Abu Nawas Menyuruh Khalifah Mencari Telur Unta

Quraish Shihab dalam kitab Tafsir al-Misbah mengatakan bahwa, ayat ini berbeda dengan ayat lainnya yaitu dengan menggunakan kata اذكر yaitu perintah nabi agar mengingat atau menceritakan suatu peristiwa, sedangkan pada ayat di atas dengan menambahkan kata الكتاب yaitu Al-Quran sehingga makna ayat ini adalah nabi yang di perintahkan agar membacakan tentang kisah serta keutamaan Maryam.

Hamka dalam Tafsir al-Azhar menambahkan bahwa, di antara keutamaan Maryam tersebut adalah Ia tumbuh dikalangan Bani Israil dengan terhormat, salah seorang ahli ibadah, yang sangat tekun beribadah dan beliau seorang gadis yang tidak bersuami, dan berada dalam asuhan Nabi Zakariya. Nabi Zakariya yang menjadi imam dan pemelihara Baitul Maqdis. Hal ini diungkapkan Ibnu Katsir di dalam tafsirnya.

Mohammad Mufid Muwaffaq