Ketika Pandemi Jadi Alat Kepentingan Berbalut Agama

Propaganda Covid 19

Pecihitam.org – Sejak pertamakali muncul di Wuhan – China, hingga kini COVID 19 sudah menyebar ke di seluruh dunia. Gejolak pandemi ini tak terhindarkan, hampir seluruh negara di dunia tengah berjuang keras melawan virus yang memakan korban ratusan ribu orang ini termasuk Indonesia.

Sayangnya terpuruknya dunia karena Pandemi ini juga dimanfaatkan oleh sebagian kelompok. Salah satunya kita sebut saja ISIS. Organisasi Teroris Internasional ini ternyata tidak tinggal diam dan memanfaatkan celah yang ada.

Momentum pandemi ini dimanfaatkan untuk melancarkan berbagai serangan, menyusun kekuatan, sekaligus merubah taktik dan strategi gerakan.

Saat Virus Corona ini baru pertama kali muncul, ISIS menganggapnya sebagai balasan dan hukuman Tuhan kepada musuh Islam, juga balasan Tuhan kepada “tentara salib” yang telah menghancurkan benteng terakhir mereka di Baghous pada Maret 2019.

Namun di lain sisi, ISIS juga tetap menghimbau kepada anggotanya untuk menunda serangan dan tidak melakukan perjalanan ke negara-negara yang terjangkiti Covid-19 seperti Eropa.

Dikutip New York Post, ISIS yang sebelumnya sangat gencar menyerang sejumlah kota di Eropa, kini harus terdiam dan berbalik arah. Setiap anggotanya yang sakit di Eropa diminta untuk tetap berada di tempat. Keputusan itu diberlakukan mengikuti hukum syariah menurut surat kabar internal mereka, An-Naba.

Baca Juga:  Pentingnya Dakwah dan Peranan Santri di Era Digital

Mereka juga menghimbau pengukutnya agar tetap mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, melakukan social/physical distancing hingga mencuci tangan.

Namun, ISIS pusat tetap menganjurkan anggotanya untuk melakukan tindakan-tindakan terorisme (amaliah) di saat perhatian Negara-Negara tengah tertuju dan terkonsentrasi pada penanganan Covid-19.

“Selagi cengkeraman mereka terhadap kami (ISIS) melemah, sumber keuangan (ekonomi) mereka ambruk, maka lakukanlah amaliah sesuai kemampuan kalian!” Kata salah satu seruan ISIS yang beredar di telegram.

Bahkan ada juga seruan bagi mereka yang sudah terinveksi Covid-19 untuk dijadikan senjata dengan menularkannya kepada orang lain sebagai bentuk serangan (amaliah).

Propaganda COVID di Indonesia

Lain di Timur Tengah, lain lagi kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia seperti Wahabi, HTI, simpatisan ISIS dan kelompok radikal lain tentunya.

Covid-19 di Indonesia lebih dimanfaatkan untuk meningkatkan sentimen anti China. Orang-orang China dianggap sebagai pembawa virus ini untuk disebarkan ke seluruh dunia. Di media sosial diisukan bahwa virus ini dibawa oleh pekerja migran asal China.

Baca Juga:  Nalar Kekerasan Kaum Islam Radikal dan Utopia Kejayaan Masa Lalu

Jika dilihat, setidaknya ada tiga pandangan berbeda terhadap Covid-19 oleh kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia.

Pertama, Covid-19 ini sama seperti wabah ta’un. Sebagaimana disebut hadis Nabi SAW bahwa ketika menghadapi wabah ini dianjurkan tetap di dalam rumah.

Mereka tetap mematuhi protokol kesehatan dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Bagi mereka yang berpandangan seperti ini, mereka cenderung diam di rumah dan tidak melakukan tindakan-tindakan amaliah.

Kedua, sebagaian kelompok juga menganggap Covid-19 ini sebagai tanda-tanda kiamat sebelum muncul Dukhon (awan gelap). Dukhon adalah Awan panas yang akan menutupi bagian Bumi selama 40 Hari 40 malam. Pendapat ini sempat viral dan jadi polemik meski akhirnya tidak terbukti.

Ketiga, menyerang negara. Ini adalah langkah dan momentum tepat untuk menyerang Negara yang tengah dihancurkan dan digerogotioleh pandemi Covid-19 ini. Pendapat ini banyak dianut oleh anggota dan simpatisan ISIS di Indonesia.

Pada dasarnya, kelompok-kelompok Islam radikal ini memanfaatkan momen pandemi untuk melancarkan serangan terhadap negara. Mereka menciptakan isu-isu seperti kiamat sebagai teror kepada masyarakat. Isu lainnya adalah, COVID 19 ini dianggap sebagai tentara Tuhan untuk menghancurkan musuh-musuh Islam.

Baca Juga:  Mewaspadai Bibit-bibit Islam Radikal di Lingkungan Sekolah dan Perguruan Tinggi

Selai itu mereka juga menciptkan isu sentimen anti China. Tujuannya bukan hanya sebagai aksi balasan terhadap muslim Uighur, tapi juga menciptakan mosi tidak percaya terhadap negara. Seolah-olah negara melakukan perlindungan dan pengistimewaan terhadap etnis China.

Harapannya semua orang panik dan menciptakan chaos sehingga bisa mengancam stabilitas negara. Ketika negara dan masyarakat lengah, di situlah kelompok yang mengatas namakan Islam ini hadir dan melakukan misinya.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG