Ketika Wahabi Mau Ngajari NU, Mbok Ngaca Dulu!

Ketika Wahabi Mau Ngajari NU

Pecihitam.org – Sedikit membuka lembaran sejarah, dahulu NU dan Muhammadiyah adalah dua ormas keagamaan terbesar yang yang punya konflik cukup panjang dan melahirkan dinding pemisah serta konflik di tataran pengikutnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal ini tidak lain karena perbedaan pandangan dan sebagian amaliyah, padahal keduanya lahir dari dua orang tokoh sealiran dan satu guru yang sama. Ya, wajar si .. anak kembar juga tak berarti sama.

Namun seiring berjalannya waktu, kini NU dan Muhammadiyah sudah semakin dewasa dan saling memahami masalah persoalan khilafiyah. Akhirnya NU dan Muhammadiyah menekuni bidang dakwah masing-masing dengan jamaah yang juga khas dengan segmen yang berbeda. Yang satu khas tradisional dan yang satu khas modern. Beda-beda dikit lah yang penting rukun.

Nah, di saat kedua ormas besar ini sudah rukun, semenjak terbukanya era reformasi, muncullah gerakan dakwah Wahabi. Aliran yang lebih berbahaya bahkan bersifat takfiri (mengkafirkan yang tidak sepaham).

Hal-hal yang dulu diperselisihkan antara NU-Muhammadiyah diungkit lagi oleh Wahabi. Hingga kalangan NU kembali harus menangkis dan melindungi warganya dari serangan “dakwah” dari pengikut Muhammadbin Abdul Wahab ini.

Karena sering dihajar habis-habisan oleh kalangan NU, tidak jarang Wahabi juga tak berkutik. Alih-alih terjadi perdebatan yang ilmiah, kalangan Wahabi biasanya malah seakan-akan ingin mengajari orang-orang NU. Padahal mereka sendiri tak pernah datang jika diajak berbedat, atau biar agak halus diganti diskusi ilmiah di forum terbuka.

Baca Juga:  PMII Gandeng Mahasiswa Papua dan Kodim 06/02 Serang Pererat Persatuan Bangsa

Nah berikut biasanya hal-hal yang dilontarkan kaum Wahabi kepada kalangan NU yang seakan-akan mau mengajari. Padahal itu sudah makanan sehari-hari dari orang-orang Nahdliyyin.

1. Jangan Suka Berdebat alias Jidal

Ketika sekian banyak amaliyah kaum Nahdliyin diserang dengan vonis bidah, syirik, kurafat dan tak ada dalilnya, tentu saja para ulama dan pakar ormas ini tidak tinggal diam. Lalu muncullah jawaban, klarifikasi, bantahan hingga tantangan diskusi ilmiah agar jelas apakah tuduhan itu benar.

Sayangnya yang diajak berdebat seakan-akan ngasih nasehat, “Jangan suka berdebat, agama bukan untuk diperdebatkan.”

Padahal bagi kalangan NU, khususnya para santri, berdebat adalah hal yang biasa dalam rangka mencari kebenaran. Istilahnya musyawarah atau mudzakarah. Dengan mengatakan jangan berdebat, itu sama saja mengklaim kebenaran hanya milik mereka sendiri, karena melarang pihak tervonis untuk membantah.

Sebagaimana dianjurkan dalam Kitab Ta’limul Muta’alim, pelajar dianjurkan melakukan musyawarah dan mudzakarah namun harus menghindari jidal (debat dalam rangka mencari-cari kesalahan, bukan menemukan titik kebenaran alias debat kusir).

2. Jangan Membongkar Aib

Siapa yang memulai mengotak-atik dan mengusik amaliyah golongan lain? Lantas, salahkah bila pihak yang diusik itu membantah dan membongkar sisi sesat kelompok lawannya yang berbahaya?

Baca Juga:  Jangan Salah, Tak Semua Warga Arab Saudi Itu Wahabi

Di sinilah kita merasa sedih. Ketika kelompok yang divonis sesat, bidah, syirik dan lainnya bangkit membela diri, mengungkap kerusakan dalil dan cara berpikir kelompok yang usil, ada yang sok bijak dengan menasehati, tidak perlu membongkar-bongkar aib orang lain.

3. Hormatilah Perbedaan Dong!

Kalau sudah kalah debat, jurus dan kata-kata Hormati Perbedaan juga kadang dilontarkan kaum wahabi. Tapi mbok ya mikir, soal berbeda pendapat, khilafiyah, beda mazhab, jangan anda minta orang NU untuk memahaminya.

Lah wong NU itu sejak lahir sudah memahami perbedaan. Bagaimana tidak? Kan jelas NU itu mengakui dan mengikuti salah satu dari 4 mazhab fikih, kok. Selain itu. sejak awal ormas ini memang memposisikan diri sebagai penyeimbang dari golongan yang anti terhadap perbedaan.

Jadi kalau mau nasehati NU masalah perbedaan ya tolong berkaca dulu lah! NU itu tak akan mengusik kalau tak diusik terlebih dahulu.

4. Semoga Mendapat Hidayah

Dalam pemakaian umum kita, ungkapan semoga mendapat hidayah lebih berarti cenderung sering berkonotasi negatif. Karena menganggap orang yang didoakan dianggap dalam kesesatan.

Ungkapan ini sering digunakan kalangan Wahabi dan simpatisannya ketika sudah buntu saat diskusi dengan orang NU. Karena mereka kekeh merasa benar meskipun hujjahnya jelas lemah, dan menganggap lawannya sesat. Jadi orang NU memang harus kebal disesat-sesatkan.

Baca Juga:  BEM STAI Sabillul Muttaqin: Banyak Generasi Muda di Mojokerto Terpapar Ideologi Wahabi

5. Tak Usah Mengurusi Amal Orang lain

Karena semakin runyam dan ruwetnya silang pendapat dan debat yang tidak berujung, sebetulnya sih ada ujungnya cuma yang diajak debat yang nggak mau menerima. Ujung-ujungnya keluar kalimat “Sudahlah, tidak usah mengurusi amal orang lain!”

Maksudnya, masing-masing beramallah sesuai keyakinan dan madzhabnya dan tak usah menyalahkan dan menjelekkan amal kelompok lain. Wah bagus sekali nasihat tersebut.

Tapi jadi aneh kalau kalimat itu disampaikan kepada kalangan warga NU yang amaliyahnya dirusuhi dan diangggap sesat terlebih dahulu oleh kelompok-kelompok Anda. Berarti kan kelompok Anda yang ngurusi amal orang lain? Kan udah ditegaskan, NU itu tak bakal mengusik kalau tak diusik terlebih dahulu. Tabik!

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik