Sejarah dan Filosofi Ketupat Lebaran, Kaum Milenial Harus Tahu!

ketupat lebaran

Pecihitam.org – Sudah barang umum dan hampir menjadi menu wajib,ketupat selalu ada saat lebaran. Ya ketupat atau kupat memang tak pernah lepas dari momen perayaan lebaran Idul Fitri di Indonesia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bahkan tak hanya di Indonesia saja, beberapa negara di Asia Tenggara juga sering menghidangkan ketupat. Misalnya Malaysia, Singapura dan Filipina yang tentunya dihidangkan dengan cara yang berbeda.

Makanan yang terbuat dari beras, dipadatkan dan dimasak dengan anyaman janur kelapa ini, memang menjadi sajian khas Idul Fitri. Di Indodnesia sendiri biasanya, ketupat dihidangkan bersama opor ayam, sambal goreng ati, semur daging, dan beberapa makanan khas lebaran lainnya.

Mendekati perayaan Idul Fitri, juga banyak pedagang yang menjajakan anyaman ketupat dimana-mana. Tentunya harga yang ditawarkanpun cukup bervariasi malah harganyapun akan semakin mahal ketika mendekati hari raya Idul Fitri. Meski demikian nyatanya banyak masyarakat tetap memborongnya.

Akan tetapi, pernahkah kalian bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya sejarah ketupat bisa menjadi hidangan lebaran yang tak pernah ketinggalan?

Meski kerap menjumpai makanan ini rupanya masih banyak yang belum mengetahui asal mulanya. Nah berikut pecihitam.org lansir dari berbagai sumber mengenai sejarah ketupat Lebaran dan filosofi sakral yang terdapat di dalamnya.

Hidangan dari Beras

Ketupat seperti halnya seni kerajinan tangan, awalnya merupakan sebuah anyaman dari janur pucuk daun kelapa yang dibentuk seperti kubus persegi empat. Dari ujung kantung anyaman janur ini, beras yang sudah dicuci kemudian diisikan sampai penuh dalam kantung.

Setelah itu, ketupat direbus selama sekitar 2 jam, lo. Cukup lama juga ya?

Setelah ketupat matang, kemudian bisa dihidangkan dan dinikmati dengan opor ayam, rendang dan tak ketinggalan sambal goreng serta berbagai hidangan tradisional khas Indonesia lainnya.

Sejarah Ketupat Lebaran

Makanan yang terbuat dari anyaman daun kelapa muda atau janur yang diisi beras ini, memang terlihat sangatlah sederhana. Namun, menjadi yang paling dicari dan tak pernah ketinggalan saat Lebarran hari raya Idul Fitrah tiba. Nah, terrnyata begini nih asal usul ketupat menjadi khas lebaran.

Baca Juga:  Bagaimana Cara Buang Air Kecil yang Benar dalam Islam?

Pada dasarnya ketupat sudah ada jauh sebelum ketupat menjadi bagian tradisi Lebaran masyarakat Indonesia yaitu sejak zaman Hindu-Budha. Adapun menurut sejarah, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Asimilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat dari budaya Hindu-Budha menjadi tradisi yang slami.

Ketupat atau kupat sendiri adalah singkatan dari frasa dalam bahasa jawa “ngaku lepat” yang artinya mengakui kesalahan. Dan, ada juga yang mengatakan bahwa kupat merupakan singkatan dari “laku papat” atau empat tindakan.

Dari sinilah kemudian tradisi sungkeman yang sering dilakukan, menjadi implementasi dari ngaku lepat bagi masyarakat Indonesia, Jawa pada khususnya. Prosesi sungkeman ini dilakukan dengan bersimpuh di hadapan orang tua guna meminta maaf atas berbagai kesalahan yang perrnah diperbuat.

Akhirnya, hingga saat ini, tradisi sungkeman yang sangat baik masih membudaya di kalangan masyarakat Indonesia. Tradisi sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, dan meminta keikhlasan serta ampunan dari orang tua. Hal ini sejalan dengan ajaran agama Islam yang agung.

Nah di dalam penyebaran agama Islam, saat hari raya Idul Fitri tiba, Sunan Kalijaga membudayakan istilah yang dikenal dengan Bakda. Bakda sendiri memiliki arti “setelah”. Ada dua istilah Bakda yang diajarkan, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran adalah saat Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam melaksanakan sholat Ied dan diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan Bakda Kupat adalah hari raya bagi orang yang melaksanakan puasa syawal selama enam hari.

Baca Juga:  Mengapa Al-Qur’an Turun secara Berangsur-angsur? Inilah Hikmahnya

Biasanya, Bakda Kupat dilaksanakan satu minggu setelah Lebaran Idul Fitri 1 Syawal. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa kala itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari janur atau daun kelapa muda.

Setelah sudah selesai dimasak, ketupat tersebut lalu diantarkan ke sanak saudara yang lebih tua. Hal inilah yang menjadi sebuah lambang kebersamaan.

Menurut para ahli, ketupat sendiri memiliki beberapa makna, yakni:

  1. Dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat ini mencerminkan berbagai macam tingkah laku dan dosa manusia.
  2. Setelah dibuka akhirnya akan terlihat nasi yang putih, yang mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala dosa.
  3. Jika dilihat dari bentuknya ketupat ini mencerminkan kesempurnaan. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari Lebaran Idul Fitri.
  4. Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam parikan (pantun) Jawa pun ada yang mengatakan “Kupat santen”, Sedoyo lepat nyuwun ngapunten (Segala salah mohon maaf lahir batin).
  5. Sedangkan, penggunaan janur sebagai kemasan pun memiliki filosofi tersembunyi. Janur dalam bahasa Arab yang berasal dari kata “jaa a al-nur” bermakna “telah datang cahaya”. Ada pula masyarakat Jawa yang mengartikan janur dengan “sejatine nur” (cahaya). Dalam arti yang lebih luas berarti keadaan suci manusia setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan Ramadhan.

Ketupat juga erat dengan tradisi Jawa menuju tanggal 1 syawal. Jadi ketupat atau kupat di sini dapat diartikan dengan “laku papat” atau empat tindakan manusia. Laku papat tersebut yaitu lebaran, luberan, leburan dan laburan.

Maksud dari keempat tindakan tersebut, adalah:

  • Pertama, lebaran, dari kata lebar yang berarti selesai. Ini dimaksudkan bahwa 1 Syawal adalah tanda selesainya menjalani puasa Ramadhan, maka tanggal itu biasa disebut dengan lebaran.
  • Kedua luberan, berarti melimpah, ibarat air dalam tempayan, isinya melimpah, sehingga tumpah ke bawah. Ini simbol yang memberikan pesan untuk memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin, yaitu zakat dan sedekah dengan ikhlas seperti tumpahnya/lubernya air dari tempayan tersebut.
  • Ketiga leburan, arrtinya adalah bahwa semua kesalahan dapat lebur (habis) dan lepas serta dapat dimaafkan pada hari tersebut.
  • Keempat adalah laburan. Di Jawa, labur (kapur) adalah bahan untuk memutihkan dinding. Ini sebagai simbol yang memberikan pesan untuk senantiasa menjaga kebersihan diri lahir dan batin agar menjadi putih dan suci kembali.
Baca Juga:  5 Prinsip untuk Membentuk Tatanan Masyarakat Ideal ala NU

Jadi, setelah melaksanakan leburan (saling maaf memaafkan) dipesankan untuk menjaga sikap dan tindak yang baik, sehingga dapat mencerminkan budi pekerti yang baik pula. Begitulah asal mula ketupat jadi simbol lebaran Idul Fitri.

Memang di negara-negara lain, ketupat bukanlah menjadi ciri khas lebaran mereka. Karena setiap negara pastinya memiliki ciri khas masing-masing yang jelas berbeda-beda. Salah satunya di Mesir. JIka di Indonesia lebaran identik dengan ketupat. Nah, di Mesir makanan khas lebarannya adalah Ranja. Yaitu makanan yang terbuat dari ikan asin dan asinan sejenis acar.

Jadi, sekarang pastinya sudah tahu kan mengapa ketupat bisa identik dengan lebaran di Indonesia. Semoga informasi ini bermanfaat.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik