KH Abdul Choliq Hasyim; Putra Keenam Mbah Hasyim, Pahlawan yang Terlupakan

KH Abdul Choliq Hasyim; Putra Keenam Mbah Hasyim, Pahlawan yang Terlupakan

PeciHitam.org – Sebaga warga Nahdlatul Ulama, tentu kita harus mengetahui bagaimana sepak terjang para Kiai dan Ulama terdahulu dalam upaya untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Salah satu yang perlu kita tahu kisahnya adalah KH. Abdul Choliq Hasyim, putra keenam Mbah Hasyim yang juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Kelima.

KH. Abdul Choliq adalah sosok pengasuh pesantren yang dikenal memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi dan terkenal sangat disiplin sehingga beliau disegani oleh masyarakat sekitar. Untuk itu kita akan membahas lebih jauh mengenai masa kecil dan perjalanan politik beliau.

Masa Kecil KH. Abdul Choliq

Beliau dilahirkan pada tahun 1916 dan menjadi putra keenam dari pasangan Hadratussyaikh Hasyim Asyari dan Nyai Nafiqah. KH. Abdul Choliq memiliki nama kecil Abdul Hafidz.

Sejak kecil KH. Abdul Choliq memiliki kelebihan yang berbeda dengan anak seusianya, dikisahkan ketika KH. Hasyim Asyari menerima sebuah tamu yang datang menggunakan mobil, KH. Abdul Choliq yang masih kecil tersebut menekan ringan bodo mobil tersebut. Anehnya, bagian mobil yang dipencet oleh KH. Abdul Choliq penyok seketika, padahal terbuat dari besi baja yang keras.

Baca Juga:  Mengetahui Sejarah Tentang Tuanku Imam Bonjol

Keanehan lain yang terlihat yaitu suatu ketika KH. Abdul Choliq pernah dihukum oleh ayahnya dengan diikat di sebuah pohon sawo yang diberi semut merah. Namun, semut-semut tersebut hanya lewat begitu saja tanpa mau menggigit tubuh beliau.

KH. Abdul Choliq sejak kecil dididik dan diajarkan langsung oleh KH. Hasyim Asyari.

Setelah ilmu yang dipereloehnya dirasa mampu, Gus Choliq lalu melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren diantaranya yaitu Pondok Pesantren Sekar Putih Nganjuk, Pondok Pesantren Kasingan Rembang yang waktu itu diasuh oleh Kiai Kholil bin Harun yang terkenal sebagai pakar ilmu Nahwu yang dijuluki sebagai Imam Sibawaih Zamanihi.

Setelah dari Rembang KH. Abdul Choliq melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Kajen, Juwono, Pati.

Setelah berkeliling ke beberapa pesantren, tepatnya pada usia 26 tahun sekitar tahun 1932, KH. Abdul Choliq muda pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada Syaikh Ali al Maliki al Murtadho hingga akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1936 dan langsung dijodohkan dengan seorang wanita shalehah bernama Afifah putri saudagar dari kecamatan Ngoro Jombang Bernama Haji Dimyati.

Namun, Nyai Afifah kemudian meninggal dua tahun karena sakit dan KH. Abdul Choliq dinikahkan oleh salah satu keponakan Kiai Baidlowi asal Purbalingga yang bernama Siti Azzah. Dari pernikahan ini KH. Abdul Choliq dikaruniai seorang putra yang bernama Abdul Hakam.

Baca Juga:  Tujuh Fuqaha Madinah pada Masa Tabiin, Siapakah Mereka?

Perjuangan Beliau Untuk Indonesia

Sejak kecil KH. Abdul Choliq selalu di doktrin untuk Cinta Tanah Air. Nyai Nafiqah sering bercerita tentang kekejaman para penjajah terhadap bangsa Indonesia dan kesewenang-wenangan mereka atas kaum muslimim dan tindakan keji mereka kepada para Kiai.

Beliau senantiasa bercerita, “Dulu yang musuhi ayah, mbah dan para kiai itu adalah Belanda.” Maka dengan perlahan jiwa membela tanah air telah mendarah daging kedalam jiwa Kiai Kholiq. Sejak itu terukirlah dalam hatinya rasa cinta terhadap tanah air.

Selama masa revolusi fisik dimana peperangan sering terjadi di Indonesia, KH. Abdul Choliq turut aktif berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Sejak tahun 1944 setahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Kiai Choliq masuk dalam dinas ketentaraan nasional yang pada waktu itu bernama PETA danberpangkat Daidanco atau Komandan Batalyon yang memimpin Daidan IV Gresik-Surabaya.

Kiai Choliq merupakan orang dekat Jenderal Sudirman bersama kakaknya, Kiai Wahid Hasyim. Kiai Choliq mengundurkan diri dari militer pada tahun 1952 dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel (Letkol), kemudian pergi ke Makkah guna menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya.

Baca Juga:  Cak Nun; Cendekiawan dan Budayawan yang Aktif Berdakwah Lewat Buku

Setelah mundur dalam barisan tentara bukan berarti beliau berhenti untuk ikut berjuang untuk Indonesia. Hal ini terlihat ketika pemberontakan PKI yang pertama. Beliau selalu terlihat menjadi orang terdepan dalam memperjuangkan Tanah Air Indonesia.

Ituliah sedikit kisah dan biografi tentang KH. Abdul Choliq. Pengasuh Kelima Tebuireng yang memiliki jasa yang besar bagi bangsa dan Negara.

Mohammad Mufid Muwaffaq