KH Munawwir dan Sanad Keilmuan Al-Quran di Nusantara

KH Munawwir dan Sanad Keilmuan Al-Quran di Nusantara

Pecihitam.org – KH. Muhammad Munawwir atau yang biasa kita sebut Mbah Kyai Munawwir Krapyak adalah seorang tokoh ulama besar sekaligus pendiri pondok pesantren Krapyak Yogyakarta yang lahir di Kauman, Yogyakarta. 

Beliau adalah anak kedua dari pasangan KH. Abdullah Rosyad dan Nyai Khodijah (Bantul). Beliau memiliki 5 orang istri, istri kelimanya dinikahi setelah istri pertama meninggal. 

Kakek beliau, KH. Hasan Bashari adalah seorang ulama pejuang yang sangat ingin menghafalkan Al-Qur’an namun belum berhasil dan akhirnya melakukan riyadhoh atas keinginan kuatnya dalam menghafal Al-Qur’an. 

Begitupula dengan ayahnya, KH. Abdullah Rosyad yang selama 9 tahun melakukan riyadhoh menghafal Al-Qur’an, sampai akhirnya keduanya mendapatkan ilham bahwa dari anak cucu keturunannya nanti yang akan berhasil menghafalkan Al-Qur’an.

Guru pertama KH. Munawwir adalah ayah beliau sendiri. Dari kecil beliau sudah digembleng dengan ilmu-ilmu agama bahkan sebagai pembangkit semangat, Ayah beliau akan memberi hadiah sebesar Rp. 2,5jt jika KH. Munawwir berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan. 

Tak hanya ilmu Al-Qur’an, KH. Munawwir juga mempelajari ilmu syariat yang didapatnya dari beberapa ulama-ulama masyhur yakni:

  1. KH. Abdullah (Kanggotan-Bantul)
  2. KH. Kholil (Bangkalan-Madura)
  3. KH. Shalih (Darat-Semarang)
  4. KH. Abdurrahman (Watucongkol-Magelang)

Seperti yang dilakukan ayah dan kakeknya, KH. Munawwir menekuni Al-Qur’an melalui riyadhoh mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun, kemudian mengkhatamkan dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, lalu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari semalam selama 3 tahun dan yang terakhir membaca Al-Quran selama 40 hari tanpa berhenti. 

Baca Juga:  Uqbah bin Nafi, Sahabat Nabi yang Menaklukkan Benua Afrika

Pada tahun 1888, KH. Munawwir melanjutkan perjalanannya menuntut ilmu ke Mekkah dan menetap disana selama 16 tahun lalu melanjutkan ke Madinah hingga mendapatkan ijazah mengajar Tahfidz Al-Qur’an. Beliau kembali ke Yogyakarta pada tahun 1911. 

Tak hanya ilmu Al-Quran, beliau juga sangat mumpuni dalam ilmu qiraat sab’ah hingga dikenal dengan alim Jawa pertama yang berhasil menguasai ilmu qiraat sab’ah.

Beliau berguru pada Syeikh Yusuf Hajar dalam mempelajari qiraat sab’ah yang ketika ditelusuri sanadnya akan sampai kepada sahabat Utsman bin ‘Affan, Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib hingga sampai kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. 

Berdirinya Pondok Pesantren Krapyak

Setelah kurang lebih 21 tahun beliau belajar, menekuni, dan menghafalkan Al-Qur’an di tanah Haramain, beliaupun pulang ke Negara asal dan mendirikan pondok pesantren. KH. Munawwir mulai mendakwahkan Al-Qur’an disekitar kediamannya di Kauman. 

Kemudian pada tanggal 15 November 1911 berdirilah Pondok Pesantren Krapyak yang sekarang kita kenal dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Penamaan ‘Al-Munawwir’ ditambahkan untuk mengenang KH. Munawwir sebagai pendiri pondok pesantren tersebut sekitar tahun 1976-an. 

Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak adalah salah satu lembaga pendidikan ilmu agama dalam ranah kepesantrenan yang dikenal dengan istilah salaf yang sampai saat ini mampu bertahan dan tetap berkembang di tengah kemajuan dan kecanggihan zaman. 

Pendidikan dan pengajarannya sangat menekankan dalam bidang Al-Qur’an dengan cara bin nadzar dan bil ghoib, serta menggunakan metode mushafahah yakni santri membaca Al-Qur’an dihadapan sang kyai lalu ketika salah dalam membacanya akan secara langsung dibenarkan oleh sang kyai dan santri mengikuti bacaan tersebut.

Baca Juga:  Ketika Hamzah Masuk Islam, Paman Rasulullah yang Kelak Bergelar Singa Allah

Pengkajian kitab fiqih maupun tafsir juga berkembang di samping Al-Qur’an yang utama. Adab dalam pengkajian Al-Qur’an sangat beliau tekankan kepada para santri. Berbagai aturan dan ta’ziran beliau berlakukan kepada para santri. 

Jika ada santri yang khatam, beliau langsung memanjatkan doa dan memberikan sebuah ijazah yang berisi pengakuan ilmu dari guru kepada muridnya serta Tarattubur-Ruwat (urutan riwayat atau sanad).

Dalam kiprahnya sebagai pengasuh pondok pesantren kurang lebih 33 tahun, banyak dari murid beliau yang bisa meneruskan ilmu yang diajarkan hingga mampu mendirikan pondok pesantren Al-Qur’an, diantaranya: 

KH. Arwani Amin (Kudus), KH. Badawi (Kaliwungu-Semarang), KH. Zuhdi (Nganjuk-Kertosono), KH. Ahmad Umar (Mangkuyudan-Solo), KH. Maksum (Gedongan-Cirebon), KH. Abdul Hamid (Tambak beras), KH. Umar Harun (Kempek-Cirebon), KH. Syathibi (Kyangkong-Kutoarjo), KH. Noor (Tegalarum-Kertosono), KH. Hasbullah (Wonokromo-Yogyakarta), KH. Ahyad (Blitar).

Setelah kurang lebih 33 tahun sejak berdirinya pondok pesantren di bawah asuhan KH. M. Munawwir, pada tahun1942 beliau berpulang kehadirat illahi rabbi.

Sejak saat itulah kemudian pondok pesantren beralih asuhan kepada KH. Abdul Qadir Munawwir dan KH. Ali Maksum.

Metode Tahfidz di Pondok Pesantren Krapyak

Sebagaimana diketahui bahwa Pondok Pesantren Krapyak memiliki banyak komplek, salah satunya adalah Madrasah Huffadz I Al-Munawwir yang berdiri secara otonom di bawah naungan Pondok Pesantren. 

Baca Juga:  Syeikh Mahfudz At Tarmasi, Ulama Nusantara Peraih Ijazah Imam Bukhari

Berbagai kegiatan pengajian seperti setoran hafalan Al-Qur’an, takror, dan seaman Al-Qur’an pun rutin berjalan dengan baik. 

Saat ini Madrasah Huffadz I berada di bawah asuhan KH. R. Muhammad Najib Abdul Qadir dengan melandaskan impian KH. Munawwir untuk membumikan Al-Qur’an. Ada beberapa metode tahfidz yang diberlakukan, yakni:

  1. Semaan al-Qur’an, adalah media untuk melatih tampil di depan public sekaligus muraja’ah hafalan.
  2. Takror, adalah aktifitas muraja’ah hafalan/bacaan Al-Qur’an yang telah disetorkan sebelumnya.
  3. Talaqqi, merupakan kegiatan pengajian yang dilaksanakan di aula Madrasah Huffadz dengan system pengajiannya adalah santri menirukan sebagian ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh KH. Abdul Qadir
  4. Mujahadah, adalah salah satu media untuk bermunajat kepada Allah dan sebagai media motivasi, sosialisasi, dan lain sebagainya.
  5. Haul dan Khataman Al-Qur’an, merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Biasanya diadakan berbarengan dengan Haul KH. Abdul Qadir yakni 10 Sya’ban.

Penulis: Laylys Sa’adah (Mahasiswi STAI Darussalam Lampung dan Ma’had Aly Minhajut Thullab)

Redaksi
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG