Khalifah Harun Ar Rasyid, Masa Keemasan Bani Abbasiyah

Khalifah Harun Ar Rasyid, Masa Keemasan Bani Abbasiyah

PeciHitam.org – Setelah jatuhnya kekuasaan Dinasti Umayah, Dinasti Abbasiyah berdiri melanjutkan pemerintah Islam. Pada masa Dinasti Abbasiyah dikenal dengan masa kebangkitan/keemasan, terutama di bawah kepemimpinan khalifah yang kelima yaitu Khalifah Harun Ar Rasyid dan puteranya Khalifah Al Makmun.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Harun Al-Rasyid dilahirkan di Ray pada tahun 150 H. Ia adalah putera dari Mahdi, seorang Khalifah Abbasiyah yang populer dengan sikap sangat lunak terhadap rival poitiknya, dermawan, dan berperan dalam pembelaan Islam. Periodenya identik dengan negara yang aman dan kekayaan negeri bertambah.

Pada masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid banyak berperan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dengan memperbesar departemen studi ilmiah dan penerjemahan yang didirikan kakeknya, Al-Mansur. Kemurahan hati Al-Rasyid, para menteri dan anggota istana yang berbakat terutama keluarga Barmak, yang membantu ilmu pengetahuan dan kesenian, membuat Baghdad menjadi pusat yang menarik orang-orang terpelajar dari seluruh dunia.

Pada pengangkatannya sebagai khalifah terjadi keserentakan tiga peristiwa. Pada saat itu Harun tengah tertidur ketika Wazir Yahya Al Barmeki datang ke tempatnya dan kemudian ia dibangunkan dengan suatu panggilan kehormatan tertinggi (Amirul Mukminin). Yahya menceritakan meninggalnya Khalifah Al Hadi dan menyerahkan cincin kebesaran dan memasangkan kejarinya.

Baca Juga:  Sejarah Singkat Lahirnya Hizbut Tahrir dari Palestina hingga Indonesia

Selanjutnya Wazir Yahya Al Barmaki menyampaikan lagi suatu berita gembira bahwa istrinya telah melahirkan putra, yaitu Al Makmun. Sejarah mencatat bahwa malam itu, seorang khalifah wafat, dan seorang khalifah di baiat, dan seorang calon khalifah lahir yang terjadi pada satu malam secara bersamaan.

Dalam hal keimanan, Harun sejak masih muda tak pernah lupa melaksanakan ritual ibadah agamanya. Setiap pagi, dia memberikan seribu dirham untuk amal dan melakukan shalat seratus rakaat (masing-masing disertai banyak bacaan dzikir dan doa) setiap hari. Dia berhaji ke Mekkah (1.750 Mil dari Baghdad pulang pergi) menggunakan unta sebanyak tujuh kali, dimulai pada tahun setelah dia naik tahta, dan haji yang kedelapan dari Rakkah (di Syiria) ke Mekkah dengan berjalan kaki.

Saat perjalanan haji, dia juga memberikan harta dalam jumlah yang besar kepada penduduk Mekkah dan Madinah, dua kota paling suci dalam Islam, dan pada jamaah haji yang miskin sepanjang perjalanan. Selalu ada orang zuhud yang dibiayai dalam rombongannya, dan ketika pada tahun tertentu, ketika dia tidak bisa berangkat haji sendiri, dia mengirimkan beberapa wakil yang berkedudukan tinggi bersama tiga ratus pegawai atas biaya darinya untuk pergi berhaji.

Baca Juga:  Kehidupan Keagamaan Masyarakat Arab Sebelum Islam

Istana Al-Rasyid merupakan tempat berkumpulnya para ahli bijak dan ulama; pasar bagi para balaghah, syair, sejarah, fikih, kedokteran, musik dan berbagai ilmu dan kesenian lainnya. Di istananya, ia sering menemui mereka dengan penuh penghormatan dan kemuliaan, bahkan ia memberikan hadiah yang melimpah kepada masing-masing ahli dalam bidangnya. Masa kepemimpinannya sering disebut-sebut sebagai masa kemegahan peradaban Islam yang tidak ada tandingannya.

Perkembangan intelektual pada masa kekhalifahan Harun Ar-Rasyid, dimulai dengan menerjemahkan khazanah intelektual Yunani klasik seperti filsafat Aristoteles. Khalifah sendiri mengalokasikan anggaran khusus untuk menggaji para penerjemah dari golongan Kristen, kaum Sabi, dan bahkan juga para penyembah bintang.

Pada masanya hidup tiga pemuka terbesar dalam madzhab hukum yaitu Malik Ibn Anas (wafat 179 H/795M) dan Muhammad Ibn Idris Al Syafi’i (wafat 204 H/817 M) dan Ahmad Ibn Hanbal (164-242 H/780-855 M). Juga tokoh-tokoh Iktizal Aliran Basrah Yaitu Abu Huzail Al Allaf (135-236 H) Dan Ibrahim A Nazzaham (160-231 H) dan Amru ibn Bahar Al Jahidz (159-255 H).

Bahkan pada masa itulah muncul aliran Bagdad dari kalangan Iktizal itu dibawah pimpinan Bisyril ibn Mu’tamir (wafat 210 H/826 M), seseorang pemikir dan pembicara yang tangkas di dalam diskusi-diskusi di depan balai penghadapan khalif.

Baca Juga:  Meski Dipenjara, Hadratusysyeikh Berulang Kali Khatamkan Qur'an dan Kitab Hadits

Khalifah Harun Ar Rasyid meninggal saat memimpin perang Thus, sebuah kota di wilayah Khurasan. Dia dikuburkan ditempat itu pada tanggal 3 Jumadil Akhir tahun 193 H. Anaknya bernama Shalih menjadi imam atas jenazahnya. Setelah Harun meninggal, Al Amin, segera dilantik.

Saat itu Al Amin berada di Baghdad di tengah-tengah pasukan tentara. Setelah kabar kematian ayahnya sampai padanya, dia kemudian melakukan sholat bersama kaum muslimin di tempat itu. Dia berkutbah serta memberitahukan kematian ayahnya kepada penduduk Baghdad.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *