Perbedaan Makna “Menyendiri” dalam Istilah Khalwat dan Uzlah, dan Praktiknya dalam Tradisi NU

Perbedaan Makna "Menyendiri" dalam Istilah Khalwat dan Uzlah, dan Praktiknya dalam Tradisi NU

Pecihitam.org- Khalwat dan uzlah sama-sama memiliki arti menyendiri. Namun dalam sebuah definisi lain, dikatakan bahwa uzlah berarti “mengasingkan diri dari keramaian”. Sedangkan khalwat berarti “menyendiri”. Jadi pada dasarnya kata uzlah dan khlawat mempunyai hubungan arti yang sangat erat antara satu sama lain.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jika diartikan lebih luas lagi bahwa makna Khalwat dan ‘Uzlah mengandung arti sebagai upaya menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan sibuk beribadah kepada Allah Swt. Atau bisa diartikan sebagai kegiatan menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan yang fasik, dan segala perbuatan yang tidak bermanfaat serta berlebihan.

Khalwat adalah tradisi dalam tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyepi. Mereka yang melakukan khalwat merupakan para pelaku suluk, meskipun esensinya harus dijalani oleh umat Islam dan kaum beriman secara keseluruhan.

Dalam laku suluk atau tarekat, khalwat merupakan salah satu jenjang yang harus dilalui oleh seorang salik atau sufi, di samping jenjang-jenjang atau maqamat lain seperti taubat, mujahadah, zuhud, dan lain-lain.

Di kalangan masyarakat NU, khalwat merupakan tradisi yang popular. Khalwat secara bahasa berasal dari akar kata khala yang berarti sepi, dan dari akar kata ini praktik khalwat adalah praktik menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Salah satu referensi yang sering digunakan oleh masyarakat di kalangan NU untuk praktik khalwat adalah kitab-kitab sufi yang dikaji di pesantren. Seperti kitab karangan Imam al-Ghazali yakni  Ihya’ Ulumuddin dan Minhajul Abidin, lalu kitab karangannya Imam Abul Karim Hawazin al-Qusyairi yakni ar-Risalah al-Qusyairiyah, dan kitab-kitab lain dari para imam tarekat.

Baca Juga:  Mungkinkah Seseorang Tidak Mengetahui Bahwa Dirinya Seorang Wali?

Di kalangan NU, para guru sufi yang dijadikan rujukan selalu mengaitkan khalwat dengan uzlah (mengasingkan diri) dari eksistensi keduniaan. Seorang pesuluk diwajibkan menempuh uzlah terlebih dulu, lalu kemudian mengantarkannya untuk menempuh khalwat (menyepi).

Secara esensial uzlah adalah menghindarkan diri dari perbuatan tercela, dan menggantinya dengan melakukan tindakan terpuji. Orang yang mampu seperti ini akan menjadikan `uzlah dan kemudian khalwat secara berimbang antara hubungan masyarakat dan pendalaman spiritual internal untuk bersambung dengan Allah.

Oleh karena itu, seorang guru besar sufi, Imam al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin menjelaskan bahwa orang yang memiliki pengikut dan ilmunya dibutuhkan oleh masyarakat dalam urusan agama, maka orang seperti ini tidak dibenarkan mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat. Maksudnya adalah mengasingkan secara permanen dan konstan secara fisik dengan meninggalkan mereka.

Orang yang seperti ini harus kukuh dan berdiri di barisan masyarakat untuk mencerahkan dan membimbing mereka, tetapi hatinya harus tetap bersama Allah. Inilah yang disebut sebagai kemampuan untuk khalwat atau menyepi yang sulit dijalani oleh orang, yakni menyepi dan `uzlah di tengah keramaian.

Pada umumnya, uzlah dan khalwat dalam pengertian demikian sukar dilakukan, karena seorang pesuluk yang menjalaninya, fisiknya bersama masyarakat dan orang ramai, tetapi hatinya bersama Allah terus-menerus.

Tidak semua manusia bisa melakukannya, oleh karenanya orang yang tidak bisa melakukan seperti hal yang demikian, maka di kalangan masyarakat NU ada yang melakukan khalwat dan `uzlah sebagaimana saran Imam al-Ghazali.

Baca Juga:  Tata Cara Prosesi Tari Sufi Atau Tari Sema

Menurut Imam al-Ghazali, bagi orang-orang yang posisinya tidak begitu dibutuhkan oleh masyarakat, baik dalam soal ilmu atau keterangan-keterangannya yang bermanfaat, haruslah tetap ikut serta dalam hal shalat Jum’at, shalat Id’, shalat berjama’ah, ibadah haji, dalam majelis ilmu, dan dalam tijârah (bisnis). Jalan yang paling baik bagi mereka ini adalah `uzlah dan khalwat selain dari keperluan demikian.

Praktik yang demikian kadang-kadang juga masih sulit untuk memperoleh buah dari `uzlah dan khalwat, karena masih berhubungan dengan orang lain, seperti tijârah, majelis ilmu, dan lain-lain.

Oleh karena itu, sebagian masyarakat NU dan para pesuluk tarekat ada yang benar-benar mengasingkan diri secara fisik dan hati sampai beberapa hari ke tempat yang sepi.

Pengasingan diri dan kemudian menyepi untuk hening diperlukan, karena pergaulan dengan makhluk, tidak sedikit yang memalingkan pesuluk dan menimbulkan kebingungan-kebingungan dalam hati, dan karena kebanyakan manusia juga mengajak kepada bermalas-malasan untuk beribadah, menempuh jalan bening, dan malah mengajak pada riya’.  Pengasingan diri dan menyepi secara fisik, kemudian diikuti laku esensi uzlah dan khalwat-nya, sangat dibutuhkan oleh orang-orang seperti ini.

Praktik khalwat dalam bentuk pengasingan diri dan menyepi secara fisik ini, dalam tradisi pesuluk di kalangan masyarakat NU, biasanya dilakukan beberapa hari, minimal ada yang 3 hari, 7 hari, 40 hari, dan lain-lain.

Baca Juga:  Tasawuf serta Hubungannya dengan Disiplin Ilmu Filsafat dan Psikologi

Karenanya, tetap saja praktik pengasingan diri secara fisik bukan praktik permanen, karena dilakukan beberapa hari seperti disebutkan. Yang permanen adalah menjalani esensi uzlah dan khalwat, yaitu memperoleh hakikat hening dan persambungan kepada Allah: menyepi dari perilaku tercela dan mengisinya dengan perilaku yang baik.

Dengan keheningan dalam khalwat dan uzlah, tidak jarang muncul musyahadah dan pengalaman-pengalaman spiritual yang menambah kukuhnya pesuluk untuk terus menapaki jenjang berikutnya menuju Allah dan bersama-Nya.

Di dalam berbagai tarekat yang ada di NU, laku khalwat jenis ini ada dalam bimbingan para mursyid, sehingga para murid (pesuluk) menjalaninya atas arahan dan bimbingan dari para guru.

Orang yang sudah menjalani khalwat dan uzlah, secara batin dan lahir harus menjadi lebih baik dalam lakunya. Kebalikan dari ini, dianggap sebagai kegagalan dalam laku khalwat dan uzlah, dan seorang pesuluk harus mengulang lagi.

Mochamad Ari Irawan