Makna Khusnul Khotimah, Tanda-tanda, Serta Doa Lengkap dan Artinya

khusnul khotimah

Pecihitam.org – Ucapan Husnul Khatimah atau Khusnul Khotimah sering digunakan masyarakat untuk mengungkapkan rasa bela sungkawa ketika menerima kabar duka. Dikatakan juga, kalimat ini biasanya digunakan umat Islam untuk mendoakan seseorang agar mendapatkan akhir yang baik di akhir hidupnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Khusnul Khotimah atau Husnul Khotimah?

Memang ada banyak versi dalam penulisan. Orang kadang ada yang menuliskan Khusnul khotimah ada pula yang menulis Husnul Khotimah. Lantas manakah yang benar?

Pernah terjadi di masyarakat awam dengan dihebohkannya penulisan kata ‘khusnul khotimah’ adalah salah, dan yang benar adalah ‘husnul khatimah’. Alasannya, ialah Khusnul Khotimah bermakna akhir yang hina sedangkan Husnul Khatimah bermakna akhir yang baik.”

Masalah penulisan dengan huruf abjad ini sebetulnya tidak perlu diperdebatkan, karena hanya perbedaan transliterasi vocal dan bahasa saja. Dalam bahasa Arab yang benar ditulis dengan حسن الخاتمة.

Adapun memang kaliamt kalimat خسن dengan huruf خ dalam bahasa arab bermakna hina atau tidak baik. Namun kalimat ini sendiri sangat jarang atau hampir tidak pernah dipakai, apalagi disandingkan dengan kata “khotimah” الخاتمة. Yang sering dipakai untuk akhir yang tidak baik atau buruk adalah سوء الخاتمة atau Su’ul Khotimah.

Pada dasarnya penggunaan kata Khusnul Khotimah atau Husnul khotimah tidak perlu dengan sikap saling menyalahkan satu sama lain. Karena hanya masalah transliterasi dari tulisan arab ke tulisan latin. Kita yang mendengarnya cukup berprasangka baik saja bahwa yang mendoakan ini sedang bermaksud agar yang didoakan mendapat akhir yang baik bukan sebaliknya.

Sebab jika kita bicara transliterasi tidak akan ada habisnya, apalagi dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Masing-masing penulis punya standar sendiri tulisan yang tepat untuk mewakili vokal yang pas. Kalimat Husnul bisa saja dianggap tidak sesuai, karena huruf H bisa berarti ( ه ) dalam bahasa Arab.

Baca Juga:  Jangan Cemberut! Ini Loh Keutamaan Senyum Menurut Islam

Selain itu, bisa saja ada orang yang lebih suka menulis Husnul Chatimah atau Chusnul Chatimah atau Khusnul Chatimah. Apa masih dipermasalahkan juga? Maka yang paling tepat adalah berprasangka baik terhadap orang lain.

Kita ambil contoh transliterasi orang Somalia yang menulis ح dengan huruf X serta perpaduan ejaan Bahasa Inggris. Sehingga bisa kita bayangkan mereka orang Somalia akan menuliskan حسن الخاتمة dengan begini “Xoonool Khaatimah. Lebih lagi huruf ع dalam transliterasi Somalia adalah C, jadi kalau menulis آل عمران jadi Aali Cimraan, lho ini malah tambah ruwet lagi.

Meskipun maksudnya baik yaitu mengoreksi tulisan dalam mendoakan orang lain, namun jika di besar-besarkan malah akan membuat keresahan dimasyarakat. Contohnya masalah tersebut kemudian akan berkembang lagi bila memasuki hal lain, seperti banyaknya orang Indonesia yang memiliki nama dalam tulisan Khusnul Khotimah. Padahal tujuan pemberian nama tersebut untuk mendoakan sang anak.

Jadi selama penggunaan tulisan latin, penulisan Khusnul khotimah atau husnul kotimah tidak perlu dipermasalahkan. Sebab hanya perbedaan transliterasi dan vocal saja. Kecuali jika yang dirubah tulisan bahasa Arab-nya, itu jelas akan salah kaprah pastinya jika penulisannya tidak sesuai.

Tanda-tanda Meninggal Khusnul Khotimah

Setiap orang muslim pasti ingin meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Sebab siapapun itu, meski sudah banyak dosa kita di masa lalu, jika meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, niscaya Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti merasakan mati,” (QS Ali ‘Imran ayat 185)

Akan tetapi untuk meninggal dalam keadaan khusnul khotimah itu bukanlah perkara yang mudah. Sebab Allah akan melihat akhlak dan amal kita terlebih dahulu. Jika seseorang memang layak meninggal khusnul khotimah, maka Allah akan mencabut nyawanya dalam keadaan tersebut.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ

“Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim)

Bahkan, orang yang dulunya rajin beramal shalih pun belum tentu jaminan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Bisa jadi di detik-detik akhir hidupnya, dia meninggal dalam keadaan su’ul khotimah seperti kisah wali Barseso seorang ahli ibadah yang mati su’ul khotimah. Semua amal baiknya dulu akan percuma saja seperti kertas yang dibakar oleh api.

Baca Juga:  Muhasabah Diri di Tengah Musibah dan Pandemi

Oleh sebab itu kita sebagai kaum Muslimin harus selalu berusaha, berjuang melawan hawa nafsu, beribadah dengan ikhlas dan jangan sampai menyimpan kesombongan dalam hati walau hanya sebutir biji sawi. Agar kelak kita layak meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Berikut 4 tandanya khusnul khotimah:

1. Mengucapkan syahadat menjelang wafat

Saat terjadinya sakaratul maut, sulit sekali bagi seseorang untuk mengucapkan syahadat itu. Oleh karena itu berbahagialah mereka yang mengucapkan syahadat sebelum nyawa dipisahkan dari raganya.

Namun belum tentu orang yang sekedar bisa mengucapkan syahadat saat meninggal akan diampuni semua dosanya dan masuk surga. Sebab syahadat itu tidak cukup diucapkan di lisan saja, tapi harus di imani dan diamalkan dalam perbuatan sehari-hari.

2. Meninggal saat sedang melakukan amal shaleh

Ciri khusnul khotimah selanjutnya yaitu orang meninggal ketika melakukan amal shaleh. Seperti meninggal ketika dalam sholat, saat sedang bbekerja mencari nafkah halal atau meninggal karena menolong orang lain. Jika orang tersebut berbuat kebaikan dengan niat atas nama Allah, lalu ia meninggal, insyaallah ia dalam keadaan khusnul khotimah.

3. Meninggal dengan tersenyum

Konon, sakitnya sakaratul maut itu bagaikan ditusuk oleh ribuan pedang sekaligus. Itu sebabnya orang yang sekarat kelihatan sangat kesakitan dan bahkan ada yang seperti sulit melepaskan nyawa. Orang yang kondisi sekaratnya terlihat mengerikan, itu merupakan ciri-ciri mati dalam keadaan celaka.

Akan tetapi ada juga yang meninggal dalam keadaan tersenyum dengan raut muka yang membahagiakan. Ini adalah salah satu tanda kalau orang tersebut insyallah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Baca Juga:  Orang yang Tawadhu’ Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad

Hal ini dikarenakan, ketika sekarat, orang itu melihat sesuatu yang membahagiakaan. Sampai rasa bahagia itu bisa mengobati rasa sakitnya saat sakaratul maut. Berbeda dengan orang yang berdosa, ketika sakaratul maut maka ia melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

4. Ada perkataan-perkataan baik sebelum meninggal

Biasanya orang yang shaleh dan beriman, sebelum meninggal, akan meninggalkan wasiat berupa nasehat baik kepada yang masih hidup. Seperti yang dilakukan para sahabat dahulu, sebelum meninggal para sahabat menitipkan nasehat-nasehat kebaikan agar umat tidak tersesat ke jalan yang salah.

Doa Agar Meninggal Khusnul Khotimah

Setiap manusia pasti berharap akhir hayatnya dalam keadaan baik atau meninggal khusnul khotimah. Namun demikian keinginan ini juga harus diiringi dengan ikhtiar yang baik dan doa yang selalu dipanjatkan setiap waktu. Dengan kekuatan doa seseorang akan selalu berharap kepada Allah Swt Dzat yang mampu merubah segala-galanya.

Diriwayatkan suatu ketika Ummu Salamah istri Rasulullah Saw ditanya tentang doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Saw. Lantas beliau menjawab, Nabi selalu membaca doa ini:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya: “Wahai dzat yang membolak-balik hati, tetapkanlah hati ini untuk selalu mengikuti ajaran agama Engkau.”

Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengutip pendapat Imam Al-Ghazali yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw memperbanyak doa ini bertujuan untuk mengungkapkan keagungan ciptaan Allah berupa hati yang selalu berubah-ubah. Oleh karenanya Nabi Saw berdoa agar diberikan ketetapan hati (istiqamah) dalam menjalankan ajaran Islam.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik