Ki Dalang Sunan Kalijaga, Cermin Islam Nusantara

Ki Dalang Sunan Kalijaga, Cermin Islam Nusantara

Pecihitam.org – Islam Nusantara bukanlah agama baru, bukan juga aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan pada sejarah Islam yang masuk ke Indonesia tidak melalui peperangan, tetapi melalui kompromi terhadap budaya. (KH. Said Aqil Siroj)

Hingga saat ini cacian, ejekan, dan celaan atas konsep Islam Nusantara Nahdlatul Ulama (NU) tak kunjung berhenti. Kata celaan seperti “anus” aliran nusantara, dan “JIN” Jaringan Islam Nusantara, kerap muncul di morat-maritnya komunikasi publik pengguna sosial media. Inilah umat Islam Indonesia hari ini, sangat masih bocah budaya dialektik pemikirannya.

Ada pula yang, mungkin, saking tidak sukanya dengan keberadaan NU membuat definisi Islam Nusantara sendiri. Dengan definisi yang sama sekali jauh panggang dari api, tidak sesuai dengan ta’rif PBNU sebagai penggagas. Dalam satu teorema, ini semacam the fallacy of straw-man. Definisi yang mereka buat seperti orang-orangan sawah. Mereka membuat orang-orangan sawah, kemudian dipukuli, dirusak sendiri.

Kalau saya, sebagai orang NU paling bodoh, mudah saja memahami istilah Islam Nusantara. Secara gramatikal, Islam Nusantara itu dalam ilmu nahwu dinamai tarkib idlafy. Lema Islam sebagai mudlaf, dan Nusantara sebagai mudlaf ilaihi. Antara keduanya secara implisit menyimpan partikel “di” penunjuk tempat. Term Islam Nusantara sama arti dengan Islam di Nusantara.

Baca Juga:  Nahdlatul Ulama (NU) dan Representasi Islam Tradisional di Indonesia

Islam Nusantara sebagai term wacana keislaman, ia berakar historis dari corak Islam ala Walisongo. Dengan demikian, NU sebetulnya hendak mempertegas dirinya sebagai rumah besar bagi siapa pun yang mencintai Walisongo dan tidak rela terhadap serba-upaya de-Walisongo-isasi, terutama oleh sekte Islam Salafi-Wahabi.

Islam bisa diterima penduduk Nusantara sebab tidak memusuhi seni budaya. Seni budaya sebagai hasil karsa dan karya akal-budi penduduk Nusantara dijadikan medium penetrasi Islam. Pada poin ini, seni budaya dirangkul, bukan dipukul. Seperti dewasa ini pendakwah Islam memanfaatkan produk budaya modern seperti youtube, Walisongo memanfaatkan produk budaya populer masa itu sebagai medium dakwah.

Salah satu pesohor Walisongo yang mengkompromikan Islam dengan seni budaya adalah Sunan Kalijaga. Putra Bupati Tuban ini menyampaikan risalah Ilahi menggunakan medium seni budaya wayang. Sinuhun Kalijaga menciptakan bentuk-bentuk wayang dan lakon carangan yang kemudian dimasuki ajaran Islam.

Mengapa wayang? Pada masa itu wayang menjadi tontonan populer masyarakat. Era sekarang istilahnya “budaya pop”. Dengan menggunakan budaya populer sebagai medium dakwah tentu memudahkan Sunan Kalijaga, bila dibanding orasi agama secara langsung. Di mana saat itu penduduk Nusantara masih non muslim; Hindu, Budha, dan Kapitayan.

Baca Juga:  Suluk Linglung dan Konsep Ketuhanan Sunan Kalijaga, Bagian II

Sunan Kalijaga berdakwah bukan hanya di satu tempat. Kanjeng Sunan mendakwahkan Islam berpindah-pindah. Dalam dakwahnya itu, beliau menggunakan berbagai nama samaran. Di daerah Pajajaran beliau dikenal dengan nama Ki Dalang Sida Brangti. Di Tegal dengan nama Ki Dalang Bengkok. Di Purbalingga bernama Ki Dalang Kumending. Di Majapahit menggunakan nama samaran Ki Unehan.

Masyarakat yang hendak nanggap wayang bayarannya tidak dengan menggunakan uang, tetapi cukup dengan membaca dua kalimat syahadat. Dengan cara demikian, Islam bisa berkembang dengan cepat.

Selain itu, Sunan Kalijaga merombak pakem wayang yang memang diadopsi dari epos Ramayana dan Mahabharata. Salah satu cerita yang paling digemari penduduk Nusantara saat itu adalah lakon Dewa Ruci. Sebuah lakon carita yang dikembangkan dari naskah kuno Nawa Ruci. Menceritakan Bima sang pandhawa meraih kesuwungan atau dalam Islam istilahnya ma’rifatullah. Dalam lakon ini Sunan Kalijaga banyak memasukkan ajaran Islam, terutama tasawuf atau mistitisme Islam.

Selain melalui seni budaya wayang, Sunan Kalijaga juga mengenalkan Islam melalui kidung, tembang, atau macapat. Salah satu yang terkenal hingga sekarang contohnya kidung Rumeksa ing Wengi.

Baca Juga:  Qasidah Salamullah Ya Sadah; Tradisi Nusantara Ketika Mengunjungi Makam Auliya

Dengan tidak menentang atau menolak budaya lokal bawaan penduduk setempat, kita bisa merasakan perjuangan Walisongo menyebarkan Islam di tlatah Nusantara ini. Islam bahkan jadi agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia.

Kemungkinan besar, jika Islam masuk ke Indonesia bukan melalui jalan kompromi dan asimilasi kebudayaan, nasib Islam di Indonesia seperti di Andalusia atau Spanyol saat ini. Dulu Islam pesat dan maju di sana, tapi sekarang jadi minoritas. Sebab Islam masuk ke sana melalui medium penaklukan atau peperangan. Peperangan mengandaikan potensi balas dendam.

Walhasil, sebetulnya Islam Nusantara bukan barang baru. Esensinya telah ada sejak era Walisongo. Wallahul muwaffiq.

Mutho AW
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *