Kiprah Nahdlatul Ulama di Kancah Nasional dan Internasional

Kiprah Nahdlatul Ulama di Kancah Nasional dan Internasional

PeciHitam.org – Sesuai amanat pembukaan UUD 1945 yang menuntun kita untuk terus berupaya memainkan peran aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ancaman keamanan internasional yang berkaitan dengan isu agama juga tidak luput dari diplomasi kita. Fakta bahwa Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar menguatkan hal itu.

Salah satu organisasi keagamaan yang turut berperan penting dan memiliki kiprah dalam kehidupan sosial politik Indonesia adalah Nahdlatul Ulama (NU).

Sejak awal pendiriannya NU telah berupaya melakukan partisipasi diplomasi di ranah hubungan internasional dengan pengiriman delegasi Komite Hijaz kepada pemerintah Saudi Arabia demi tujuan menjamin toleransi dalam praktek beragama.

Agama adalah fenomena transnasional yang ibarat dua sisi mata uang berpotensi menciptakan harmoni dan konflik. Agama hari ini juga dinilai sebagai sumber identitas yang semakin bersaing dengan kewarganegaraan dalam mendapat loyalitas masyarakat. Sehingga agama mampu membentuk identitas politik signifikan dan memainkan peran penting dalam politik global.

Ghirah (sentimen) dalam beragama dapat begitu mudahnya beresonansi menjadi kekuatan yang mampu menjalar ke seluruh penjuru bumi dengan besaran yang tak terhingga.

Selain itu, agama juga berperan sama dengan ideologi-ideologi lain untuk melegitimasi keputusan kebijakan dan mengumpulkan dukungan populer bagi kebijakan publik.

Dalam pengalaman NU, di level nasional kita melihat bahwa beberapa prinsip itu lah yang mendorong kehadiran sikap dan perilaku yang menghargai kemajemukan, antikekerasan, hingga penghargaan terhadap minoritas. Hal tersebut tercermin dalam keputusan Munas Alim Ulama NU (1983) dan Muktamar ke-27 NU di Situbondo.

Kala itu tepatnya pada tahun 1984, NU dengan lantang menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas, mendahului organisasi masyarakat mana pun di Indonesia. Bahkan, KH Achmad Shiddiq sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada waktu itu dengan tegas menyatakan bahwa negara Pancasila adalah bentuk final dari upaya umat Islam mendirikan negara.

Baca Juga:  Perang Hamra' Al-Asad Perang yang Melemahkan Mental Musuh Islam

Pada berbagai tahap perkembangan bangsa, sikap NU juga konsisten mensinergikan agama dan nasionalisme, dan bukan mempertentangkannya. Dalam konteks pluralitas Indonesia, sikap ini sangat bermakna mengingat potensi pengikutnya yang sangat besar.

Pada level global, prinsip-prinsip itu juga menjadi penuntun peran aktif yang sejalan dengan nilai kemanusiaan. Nahdlatul Ulama (NU) tampil ke kancah global dengan mengampanyekan Islam rahmatan lil alamin. Makna dari rahmat bagi seluruh alam ini menurut bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga untuk kaum non-Muslim atau orang yang tak beriman sekalipun.

Pada tahap awal pendirian NU, partisipasi diplomasi melalui pengiriman delegasi Komite Hijaz kepada pemerintah Saudi Arabia demi tujuan menjamin toleransi dalam praktek beragama.

Langkah ini merupakan pelopor perjuangan kebebasan bermadzhab di Makkah, sehingga umat Islam sedunia bisa menjalankan ibadah sesuai dengan madzhab masing-masing.

Hal tersebut tentu menjadi sumbangsih yang tidak bisa disepelekan dalam konteks persatuan persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) dan perdamaian. Bisa dibayangkan jika yang terjadi sebaliknya, tentu konflik intra- muslim dalam konteks perbedaan pandangan keislaman bisa lebih keras dari saat ini.

Secara kelembagaan NU juga membentuk International Conference of Islamic Scholars (ICIS) atau Konferensi Ulama dan Cendekiawan Muslim Sedunia. Beberapa konferensi yang berhasil diselenggarakan antara lain, pertama pada 23-25 Februari 2004, yang kedua pada 20-23 Juni 2006, dan yang ketiga (29 Juli-1 Agustus 2008).

ICIS bisa disebut sebagai upaya Globalisasi Islam Rahmatan Lil’alamin. Melalui lawatan- lawatan internasionalnya, kampanye ini juga disebarkan ke Syiria, Libanon, Iran, Palestina- Israel, Pakistan, Vatikan, Uni Eropa, Inggris, Jerman, Australia, Amerika, dan PBB.

Adapun strategi yang digunakan antara lain dengan menjelaskan tentang Islam Rahmatan Lil’alamin sehingga mengurangi kesalahpahaman dan islamophobia (Amerika), shuttle diplomacy secara bergiliran dan berturutan menemui dan mendorong para pihak bertikai untuk kembali ke jalur dialog dan negosiasi (Palestina-Israel).

Baca Juga:  Sejarah Perang Salib dan Pentingnya Peranan Panglima Salahudin Al-Ayyubi

NU secara aktif berupaya menemui para pihak bertikai dan mendorong dialog demi meredam konflik sektarian Sunni-Syiah (Suriah, Libanon, Iran) dengan mengedepankan ukhuwah islamiyah, menggalang dukungan anti serangan George W. Bush ke Irak (Vatikan, Uni Eropa).

Tidak hanya itu, salah satu kiprah lain Nahdlatul Ulama juga mendesak badan internasional untuk memfasilitasi dan memediatori dialog antar peradaban (PBB), mengirim tenaga-tenaga muda dari pesantren (ke Inggris) mengikuti pelatihan manajemen pendidikan dan studi lanjut sekaligus dalam rangka pengenalan budaya lain, menyampaikan simpati dan mengunjungi para keluarga korban Bom Bali I serta menjelaskan sikap NU yang anti-terorisme (Australia) serta menggalang kerjasama dalam bidang pendidikan.

Selain beberapa hal di atas, Nahdlatul Ulama juga memiliki beberapa kiprah lain di dunia Internasional, antara lain:

Pertama, awal kiprah Nahdlatul Ulama di dunia Internasional diawali oleh Gus Dur. Beliau mengawalinya melalui kiprah mondialnya melalui World Conference on Religion and Peace (WCRP) sekaligus terpilih menjadi presidennya.

Secara individu, Gus Dur memiliki relasi yang amat luas bahkan ke berbagai jaringan di luar negeri sekalipun. Bahkan konon, di suatu negara jika kita menyebut nama Gus Dur, segalanya akan dipermudah.

Kedua, kepemimpinan NU dilanjutkan oleh KH. Hasyim Muzadi. Pada era inilah adanya perintisan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di berbagai negara.

Kiai Hasyim kemudian juga menginisiasi pelaksanaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) beberapa angkatan, yang menghimpun para ulama dari Sunni dan Syiah moderat untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Ketiga,  setelah periode KH. Hasyim Muzadi usai, digantikan oleh KH Said Aqil Siroj. Beliau juga memiliki wadah bernama International Summit Of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL).

Baca Juga:  Siapa Saja Golongan Assabiqunal Awwalun Sahabat Nabi?

Acara yang mempertemukan ratusan delegasi ulama dari berbagai negara ini juga mencari format terbaik yang pas mewujudkan dunia yang berkeadilan.

Di era Kiai Said pula, NU Afganistan berdiri pada 2013. Dalam acara ISOMIL tahun 2016 itu, beberapa negara di Eropa juga tertarik mendirikan NU di negaranya masing-masing, sebagaimana yang telah dilakukan para ulama Afganistan.

Keempat, pada tahun 2018 juga sempat heboh mengenai kunjungan Gus Yahya Cholil Staquf ke Israel. Dalam hal ini, Gus Yahya menghadiri undangan di Israel memang adalah selaku pribadi, bukan mewakili PBNU. Namun membawa spirit perdamaian bagi terselesaikannya konflik Israel-Palestina yang sebelumnya memanas.

Kelima, pada Juli 2016, Habib Luthfi bin Yahya, salah seorang ulama kharismatik NU, menggelar Konferensi Internasional Bela Negara dengan mengundang unsur ulama dari berbagai kawasan.

Ini even kedua yang digelar oleh Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang dipimpin Habib Luthfi, setelah beberapa tahun sebelumnya menggelar Multaqa Shufi Al-‘Alami. Kemudian beberapa tahun berselang, tepatnya pada tanggal 10 April 2019, Habib Luthfi bin Yahya juga terpilih menjadi Ketua Forum Sufi Internasional.

Mohammad Mufid Muwaffaq