Kisah Dua Bapak Nabi Muhammad Saw yang Hampir Jadi Kurban Sembelihan

kisah ayah nabi muhammad

Pecihitam.org – Jika Nabiyullah Ibrahim as. pernah mengikhlaskan putranya (Nabi Ismail) sebagai kurban untuk disembelih atas perintah Allah. Maka hal yang sama juga pernah terjadi pada Abdullah (ayah Nabi Muhammad) sebagai wujud nadzar Abdul Muthalib (kakek Nabi) kepada Allah

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Lantas jika itu sebuah nadzar, mengapa Nabi Muhammad Saw tetap lahir ke dunia dan menjadi rahmat untuk seluruh umat manusia? Apakah nadzar tersebut dilanggar oleh sang kakek, Abdul Muthalib?

Biar nggak penasaran, mari dibaca dengan seksama kisah lengkapnya.

Abdullah bin Abdul Muthalib digambarkan sebagai pemuda berwajah tampan dan menarik. Selain itu Abdul Muthalib juga disegani oleh kaum Quraisy karena kebijaksanaannya, kemampuannya dan kewibawaannya.

Keluarga bani Hasyim memang terkenal kaya dan juga dermawan. Suatu ketika Abdul Muthalib dipilih menjadi pengganti pamannya (Muthalib) untuk memegang tanggung jawab menyediakan kebutuhan untuk jamaah haji.

Awalnya semuanya terasa baik-baik saja, namun ada satu hal yang membuat Abdul Muthalib merasa sangat miskin, yakni hanya dikaruniai satu anak laki-laki saja.

Karena satu saja dirasa tidak cuku, kondisi tersebut membuat Abdul Muthalib tak henti-hentinya berdoa kepada Allah untuk memberinya beberapa anak laki-laki lagi.

Doa tersebut lantas dikuatkan dengan sebuah nadzar: “Jika dianugerahi 10 anak laki-laki yang tumbuh hingga dewasa, maka ia akan mengorbankan salah satu di antara sepuluh anaknya kepada Allah.”

Tak dinyana, doa Abdul Muthalib dikabulkan oleh Allah. Ia kemudian dianugerahi sembilan anak laki-laki lagi, sehingga total seluruh anak laki-lakinya berjumlah genap sepuluh.

Semua putranya tumbuh sehat hingga dewasa dan yang paling ia sayangi adalah putra bungsunya, yakni Abdullah. Namun ketika Abdullah semakin tumbuh dewasa, nadzar yang pernah diungkapkan berhasil menghantui hari-hari Abdul Muthalib.

Ia beranggapan bahwa mungkin Allah lebih menyayangi Abdullah sehingga akan memilihnya untuk dijadikan pengorbanan sebagai wujud realisasi nadzarnya.

Abdul Muthalib adalah sosok yang selalu menepati janji. Oleh sebab itu, suatu hari ketika semua anaknya telah dianggap benar-benar siap, ia pun menyampaikan nadzarnya di hadapan putra-putranya. Mereka semua tak punya pilihan kecuali setuju, karena janji ayah adalah janji anak juga.

Baca Juga:  Kisah Sahabat Nabi Yang Menjadi Juru Tulis Nabi

Keesokan harinya Abdul Muthalib memerintahkan setiap anaknya untuk membuat nama pada sebuah anak panah. Selanjutnya, Abdul Muthalib mengundang pengundi panah resmi Quraisy untuk hadir di Ka’bah.

Abdul Muthalib menyuruh semua anaknya memasuki tempat suci tersebut dan menyampaikan perihal nadzarnya tersebut kepada Juru qid-h (pengundi panah). Dengan menyebut nama Allah, anak panah tersebut diundi dan yang keluar adalah anak panah milik Abdullah.

Dengan berurai air mata, Abdul Muthalib menggandeng Abdullah dengan sebilah pisau besar di tangannya. Abdul Muthalib melaksanakan nadzar ini tanpa sepengetahuan istri-istrinya. Dan ketika Fatimah dari Bani Makhzum (Ibu dari Abdullah, Abu Thalib, dan Zubayr) mengetahui hal tersebut, ia menentang keras keputusan sang suami.

Ketika Abdul Muthalib dan Abdullah sudah bersiap-siap melakukan pengorbanan, tumbal, Mughirah (Kepala Suku Bani Makhzum) berkata:

“Jangan korbankan dia, kita akan mencari penggantinya walaupun dengan seluruh kekayaan Makhzum.”

Seluruh orang yang hadir di Ka’bah pun sepakat untuk tidak mengorbankan Abdullah. Karena khawatir jika tradisi ini akan berlanjut dan diikuti orang-orang lain di kemudian hari.

Akhirnya, Abdul Muthalib setuju untuk mengkonsultasikan masalah ini kepada perempuan bijak di Yatsrib terlebih dahulu tentang persembahan lain yang dapat menggantikan putranya: Abdullah.

Setelah bertemu dengan perempuan bijaksana tersebut, Abdul Muthalib disarankan untuk menempatkan Abdullah di samping seluruh hewan peliharaannya (sepuluh ekor unta), lalu mengundinya.

Jika anak panah masih terjatuh atas nama Abdullah, maka tambahkan sepuluh ekor unta lagi dan begitu seterusnya hingga undian anak panah terjatuh pada unta-unta tersebut. Abdul Muthalib lalu kembali lagi ke Mekkah dengan hati sangat berharap kepada Allah agar merelakan pergantian pengorbanan tersebut.

Pengundian mulai dilakukan dan anak panah masih terjatuh di depan Abdullah, maka ditambahkan sepuluh ekor unta lagi. Pengundian dilakukan lagi dan anak panah masih terjatuh di depan Abdullah lagi. Begitu seterusnya, hingga jumlah unta yang terkumpul mencapai seratus ekor.

Baca Juga:  Kisah Habib 'Ajami, Taubatnya Pemakan Riba Hingga Menjadi Waliyullah

Dengan jumlah seratus ekor unta, barulah anak panah terjatuh di hadapan para unta. Abdul Muthalib tetap merasa perlu berhati-hati. Ia pun meminta pengulangan undian hingga tiga kali dan memang anak panah terjatuh di hadapan unta. Hal tersebut meyakinkan Abdul Muthalib bahwa Allah telah menerima penebusannya dan Abdullah tidak jadi menjadi tumbal.

Maka selamatlah Abdullah dari disembelih ayahnya. Setelah dewasa, Abdullah menikah dengan Aminah, yang kemudian memiliki putra dengan diberi nama Muhammad yang artinya mahluk yang terpuji. Nama yang tidak umum dan tidak pernah dipakai siapapun sebelumnya.

Dari peristiwa itu, orang arab sering menyebut Muhammad sebagai “anak dua orang sembelihan”. Nabi Muhammad Saw sendiri juga pernah berkata bahwa:

“Ana ibnu adz-dzabiihain” (Aku adalah keturunan dari dua orang bapak yang hampir disembelih).

Dua bapak yang hampir disembelih ini adalah Abdullah yang hampir disembelih Abdul Muthalib, dan Ismail As yang hampir disembelih Nabi Ibrahim As.

Ismail adalah putra pertama Nabi Ibrahim dari Hajar. Mereka menetap di padang tandus yang kemudian menjadi ramai setelah anak dan bapak ini membangun Ka’bah.

Ismail kemudian melahirkan bangsa Arab, sementara dari adiknya, Ishaq yang lahir kemudian (dari Sarah, istri pertama Ibrahim): lahirlah bangsa Israel (dari nama anak Ishaq yaitu Yaqub).

Muhammad kemudian menjadi Nabi dan Rasul (utusan Allaj). Dia kemudian melestarikan tradisi Nabi Ibrahim termasuk tradisi kurban dengan binatang ternak yang kemudian dagingnya disedekahkan untuk orang yang tidak mampu. Bahkan ini menjadi salah satu hari raya umat Islam: Hari Raya Kurban atau Idul Adha.

Meski memang setiap menjelang Idul Adha, selalu ada perdebatan siapa yang dikurbankan, Ismail atau Ishaq?

Taurat (yang ada saat ini) menyebut Ishaq. Sedangkan Al Quran memang tidak menyebut secara eksplisit nama putra Nnabi Ibrahim yang dikurbankan (nyaris disembelih). Al Quran tidak menyebut Ismail maupun Ishaq.

Baca Juga:  Kisah Syekh Nawawi yang Bermunajat Doa Pakai Bahasa Jawa di Mekkah

Namun pernyataan Rasulullah Saw bahwa beliau keturunan orang yang hampir disembelih, cukup jelas menunjukkan bahwa Ismail yang saat itu akan disembelih. Karena Nabi Muhammad ini adalah keturunan Ismail bukan Ishaq.

Selain itu, secara kronologis jelas peristiwa tersebut terjadi sebelum Allah menjanjikan anak kedua pada Ibrahim (dari Sarah, yaitu Ishaq), artinya itu anak pertama dan itu adalah Ismail.

Ini juga selaras dengan kisah bahwa Ibrahim lama tidak memiliki anak dengan Sarah. Hingga kemudian diizinkan menikah lagi dengan Hajar dan memiliki anak Ismail.

Begitu sayangnya dengan anak yang lama didambakannya, Ibrahim kemudian diuji oleh Allah untuk mengorbankan anak satu-satunya dan lama dinantikan itu. Tentu lebih berat mengorbankan anak satu-satunya yang telahclama dinanti kehadirannya, dibanding jika sudah memiliki dua anak.

Perintah Allah agar Nabi Ibrahim As mengorbankan anaknya adalah simbol mengorbankan apa yang paling dicintai untuk Tuhan. Nabi Ibrahim As pun melakukannya, dan kemudian Nabi Muhammad Saw melanjutkannya serta mengabadikannya dalam syariatnya. Sebuah ibadah yang berdimensi vertikal (ketaatan pada Allah) dan juga horizontal (sedekah dagingnya).

Begitu pentingnya ibadah kurban ini, Rasulullah Saw pun memperingatkan umatnya yang mampu namun tidak melakukannya:

“Barang siapa yang berkelapangan harta namun tidak mau berqurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat sholat kami!”

Wallahua’lam bisshawab

Sumber: “Muhammad” karya Abu Bakr Siraj Al Din

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik