Kisah Karomah Mbah Soleh yang Meninggal Sembilan Kali

karomah mbah soleh

Pecihitam.org – Selama di Ampel, Raden Rahmat (Sunan Ampel) mengajarkan ilmu-ilmu agama ke seluruh pelosok Jawa, bahkan Nusantara.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Karena kiprahnya ini, ia mulai dikenal oleh masyarakat dengan nama Sunan Ampel. Ia mendapat izin dari Prabu Kertawijaya (raja Majapahit kala itu) untuk berdakwah dan menyebarkan Islam di wilayah kekuasannya tersebut.

Anehnya, padahal rajanya sendiri tidak bersedia untuk masuk Islam dan tetap mempertahankan ajaran agamanya. Sang raja memberikan syarat kepada Sunan Ampel bahwa dalam dakwah dan misi penyebaran Islamnya, tidak boleh menggunakan kekerasan dan dilakukan dengan tanpa paksaan.

Sunan Ampel menyepakatinya lantas ia mulai menjalankan misinya dan memiliki beberapa santri yang belajar terhadapnya.

Di antara santri Sunan Ampel yang masyhur di telinga kita sampai saat ini adalah Mbah Soleh. Selain gurunya, Mbah Soleh juga memiliki banyak keistimewaan dan karomah yang tidak dapat dijangkau oleh akal.

Fakta sejarah mengungkapkan bahwa di antara karomah Mbah Soleh adalah meninggal sembilan kali dan dikubur sembilan kali pula. Jadi, orangnya satu tapi kuburannya sembilan.

Betul, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian [QS. Al-Anbiya [21]: 35].

Tapi lazimnya, orang yang sudah meninggal, tidak dapat hidup kembali. Kejadian ini bukan hanya dongeng biasa, fakta sembilan kuburan Mbah Soleh dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri. Lokasinya terdapat di sebelah timur masjid Sunan Ampel.

Baca Juga:  Karomah Mbah Sholeh, Tukang Sapu Masjid yang Punya Sembilan Makam

Pada masa Sunan Ampel masih hidup, Mbah Soleh adalah petugas kebersihan masjid Ampel. Tidak ada yang aneh, lazim seperti masjid-masjid pada umumnya.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai petugas kebersihan masjid, Mbah Soleh senantiasa ikhlas dan khidmat seutuhnya. Ia senantiasa membuat masjid bersih, rapih, nyaman, tidak ada debu dan kotoran sedikitpun.

Ini hal yang membuat Mbah Soleh sebagai sosok yang istimewa menurut penilaian orang saat itu. Para jamaah yang shalat di masjid Ampel selalu merasa nyaman. Andaipun tidak memakai sejadah, mereka tetap menikmatinya karena tidak ada sesuatu pun yang menghalangi sampainya dahi ke lantai.

Namun seperti yang telah disampaikan di atas, bahwa setiap makhluk yang bernyawa akan merasakan mati. Begitu juga dengan Mbah Soleh. Setelah berkhidmat dengan penuh keikhlasan, pada saat yang ditentukan, Allah memanggilnya.

Ia meninggal dunia dengan menyisakan amal salih yang dikenang oleh masyarakat kala itu. Lantas ia dikuburkan di depan area masjid yang selalu ia bersihkan pada masa hidupnya dan petugas kebersihan masjidpun diganti oleh orang lain.

Benar saja, rupanya tidak ada orang yang mampu membersihkan masjid sebersih dan serapih Mbah Soleh. Meskipun para santri telah susah payah membersihkan masjid Ampel tersebut, tapi masjid masih saja terlihat kotor. Melihat kenyataan ini, Sunan Ampel berkata “andai saja Mbah Soleh masih hidup, tentu masjid ini akan tetap bersih”.

Baca Juga:  Kisah Zahid ra. Rela Gagal Nikah dan Mati Syahid Demi Allah dan Rasul-Nya

Selepas kalimat tersebut diungkapkan, ketika itu pula terlihat Mbah Soleh sedang membersihkan tempat imam (pangimaman-Sunda) shalat. Orang-orang merasa heran dengan apa yang sedang dilihatnya. Mereka bertanya-tanya, Mbah Soleh hidup lagi? Apakah ini nyata? Entahlah, mereka berusaha untuk tidak banyak bicara.

Yang pasti, kini masjid Ampel sudah kembali bersih, bahkan sangat bersih sebagaimana pada saat dibersihkannya oleh Mbah Soleh sebelum meninggalnya. Dan sekarang, kembali ia yang membuat bersih setelah ia hidup kembali.

Beberapa bulan setelah peristiwa tersebut, Mbah Soleh meninggal (kembali) dan dikubur di samping kuburannya yang pertama.

Lagi-lagi hal yang sama terulang kembali, Sunan Ampel melihat masjidnya yang kotor kemudian berkata hal yang sama seperti perkataan yang pertama, “andai saja Mbah Soleh masih hidup, tentu masjid ini akan tetap bersih”.

Kejadian yang sama kini terulang kembali, selepas perkataan Sunan Ampel tersebut sempurna, seketika itu pula sosok Mbah Soleh terlihat sedang membersihkan masjid dan masjid kembali menjadi bersih dan nyaman.

Baca Juga:  Sunan Ampel, Guru Para Wali Songo dalam Dakwah Islam di Pulau Jawa

Para jamaah kembali merasakan nikmatnya beribadah. Namun tak disangka, beberapa bulan kemudian Mbah Soleh kembali meninggal dan dikuburkan di samping kuburan sebelumnya.

Peristiwa yang sama terjadi dan terus berulang hingga akhirnya Sunan Ampel, guru Mbah Soleh meninggal sedangkan Mbah Soleh masih hidup setelah kematiannya yang ke delapan.

Beberapa bulan setelah meninggalnya Sunan Ampel, Mbah Soleh pun meninggal dan ia tidak hidup lagi sebagaimana sebelumnya. Barangkali ini disebabkan karena Sunan Ampel sudah tidak lagi mengucapkan kata-kata itu lagi (secara washilah), oleh karenanya Mbah Soleh tidak hidup lagi.

Demikian, semoga kita semua mendapatkan hikmah dari kisah tersebut dan keberkahan daru para wali Allah, lahum al-Fatihah. Wallahu a’lam bishshawaab.

[Masykur Arif, Kumpulan Karamah dan Ajaran Wali Songo, (Yogyakarta: Safirah, 2014), hal. 62-65]

Azis Arifin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *