Kisah Khalifah Umar bin Khattab Ketemu Calon Menantu

kisah khalifah umar

Pecihitam.org – Setiap orangtua pasti selalu menginginkan yang terbaik bagi anak mereka, termasuk juga mengenai masalah pasangan hidup. Umumnya di zaman sekarang para orangtua yang membebaskan putra atau putrinya untuk memilih sendiri pasangan hidupnya. Akan tetapi tidak jarang juga yang ikut serta dalam memlilihkan calon menantu tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terkadang banyak kriteria yang jadi pertimbangan dan diperhatikan oleh orangtua ketika memilihkan pasangan hidup untuk anaknya. Ada yang melihatnya dari agamanya, sifatnya, fisiknya, latar belakang pendidikannya, nasab keluarganya, pekerjaan dan lain sebagainya. Istilahnya bibit, bebet dan bobot kalau di masyarakat.

Namun ternyata bagi para orang tua yang ingin memilih menantu atau jodoh untuk anaknya, bisa mengambil teladan dari salah satu sahabat Rasulullah SAW yakni Umar bin Khattab ra. Seperti apa caranya? Berikut ini kisah selengkapnya.

Umar bin Khattab merupakan salah satu khalifah yang suka sekali melakukan “blusukan” meninjau langsung kehidupan rakyaknya. Dengan ditemani oleh ajudan, ia mengunjungi dan memantau kehidupan rakyatnya.

Baca Juga:  Hafshoh binti Umar, Istri Nabi yang Menjadi Pemilik Mushaf Pertama

Pada suatu malam ketika beliau sedang blusukan, Khalifah Umar memutuskan untuk beristirahat di samping sebuah rumah karena merasa lelah. Di kala istirahat bersama ajudannya inilah ia tidak sengaja mendengar percakapan yang terjadi antara ibu dan anak gadisnya.

“Wahai anakku, campurlah susu yang kamu perah tadi dengan air,” perintah seorang ibu.

Mendengar perintah ibunya tersebut, si anak gadis itu bukannya menjalankan malah menolak suruhan tersebut, “Apakah Ibu tidak pernah mendengar perintah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab kepada rakyatnya untuk tidak menjual susu yang dicampur air?”

“Iya, Ibu pernah mendengar perintah tersebut,” jawab sang ibu.

Namun, hal tersebut tidak membuat si ibu menyerah, ia lalu berkilah sambil mengatakan, “Dimana Khalifah? Apakah dia melihat kita? Ayolah anakku laksanakan saja perintah ibumu ini, agar besok kita jual dipasar bisa punya untung lebih!”

Baca Juga:  Kisah Qays bin Saad, Sahabat Nabi Yang Dermawan

“Dia tidak melihat kita Ibu, tapi Rabb-nya melihat kita. Dan demi Allah saya tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang ini dan melanggar seruan Khalifah Umar untuk selama-lamanya” Gadis tersebut menolak dengan yakin dan tegas.

Setelah mendengar percakapan dari gadis dan ibu tersebut, Khalifah Umar dan ajudannya langsung bergegas pulang meninggalkan tempat istirahatnya. Sesampainya di rumah, Umar bercerita mengenai pengalamannya blusukan malam itu dan meminta kepada putranya yang bernama ‘Ashim bin Umar untuk menikahi gadis shalehah tersebut.

Kemudian terjadilah pernikahan di antara keduanya. Dari pernikahan tersebut, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan yang bernama Laila atau lebih dikenal dengan Ummu Ashim. Dari Ummu Ashim inilah yang kelak kemudian lahir Umar bin Abdul Aziz khalifah kelima yang terkenal sangat adil, zuhud, dan bijaksana

Dari kisah diatas dapat dilihat, bagaimana seorang Umar bin Khattab yang merupakan khalifah terpandang, namun beliau bersedia menikahkan putranya dengan perempuan sederhana yang tidak memiliki harta. Hal tersebut menandakan bahwa Umar lebih menomor satukan agama dan akhlak dari calon menantunya tersebut.

Baca Juga:  Kisah Lengkap Nabi Sulaiman dan Kawanan Semut yang Diceritakan dalam Al-Qur'an

Nah, oleh sebab itu, bagi para orang tua yang ingin mencari menantu untuk jodoh anaknya, bisa meniru Khalifah Umar bin Khattab. Pilihlah calon menantu yang baik agamanya, baik akhlaknya bukan hanya memandang faktor fisik dan hartanya saja. Semoga bermanfaat.

*Kisah ini terdapat dalam Kitab Hikayatu Islamiyyah Qabla an-Naum, Karya Najwa Husain Abdul Aziz.

Lukman Hakim Hidayat