Kisah Mistik Kanjeng Sunan Kalijaga dalam Lakon Jamus Kalimasada

Kisah Mistik Kanjeng Sunan Kalijaga dalam Lakon Jamus Kalimasada

Pecihitam.orgSunan Kalijaga yang mempunyai nama asli Raden Said dan lahir pada tahun 1450 M. Ia lahir di lingkungan keluarga Kerajaan. Ayahnya bernama Tumenggung Arya Wilatikta atau Raden Sahur seorang yang menjabat sebagai Adipati di daerah Tuban. Raden Sahur juga merupakan keturunan dari seorang pemberontak di Majapahit yang bernama Ronggolawe.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun jika kita turut nasabnya ke atas maka akan bertemu dengan Aria Teja IV keturunan dari Arya Teja III. Aria Teja III mempunyai ayah yang bernama Aria Teja II dan Aria Teja II mempunyai ayah bernama Aria Teja I atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ardi Andikara atau Ronggolawe pendiri dari kerajaan Majapahit.

Sebutan Sunan Kalijaga muncul setalah Raden Said bertemu dengan Sunan Bonang atau Raden Syarifuddin putra Sunan Ampel. Kita ketahui, Raden Said dulu adalah seorang yang sangat cerdas dan lihai dalam mempermainkan peran seni di dalam masyarakat.

Pada waktu yang bersamaan, masyarakat Tuban masih cenderung menyukai kesenian baik dalam musik maupun budaya. Karena masyarakat sangat menyukai musik tradisional dan budaya, akhirnya banyak masyarakat yang terlalu over dan akhirnya mengakibatkan perselisihan.

Baca Juga:  Hubungan Islam Dan Politik, Haruskah Dipisahkan?

Sunan Kalijaga selain terkenal dengan kesenian musik dan sastranya, juga ahli dalam bidang arsitektur bangunan. Hal tersebut terbukti ketika ketika Raden Fatah memintak bantuan Sunan Kalijaga untuk membuat suatu bangunan Masjid di kota Demak.

Setelah konsep bangunan jadi, kemudian Sunan Kalijaga bersama para wali lainya mencari bahan-bahan untuk membuat Masjid. Mulai dari kayu, jerami, dedaunan, dan pohon-pohon yang telah tumbang mereka semua memanfaatkan untuk membangun Masjid.

Sunan Kalijaga bersama Santrinya diberikan tugas untuk mencari sebuah songgo Masjid atau penyangga Masjid Demak. Sunan Kalijaga bersama para santrinyapun masuk kehutan untuk mencari sebuah pesangga Masjid.

Setelah berada di tengah hutan, ada seorang santri yang melihat seperti kayu namun berbeda yang berada disamping pohon besar. Seketika santri tersebut memanggil Sunan Kalijaga.

Setelah Sunan Kalijaga diberikan informasi oleh santri tentang benda yang aneh dibawah pohon, kemudian Sunan Kalijaga dengan para santri mendatangi benda aneh itu.

Setelah mereka berada di dekat, Sunan Kalijaga dan para santripun terkejut. Hal tersebut dikarenakan yang dilihat oleh mereka bukan sebatang kayu namun sebuah tulang belulang yang berantakan. Setelah diamati, ternyata tulang belulang tersebut meninggalkan sebuah mahkota emas.

Baca Juga:  Tradisi Saprahan; Makan Bersama ala Masyarakat Melayu

Mahkota tersebut diambil dan dibuka oleh Sunan Kalijaga dengan seketika terdapat satu buah lempengan tipis yang di dalamnya terdapat sehelai kertas tipis yang telah usam.

Sunan Kalijaga kemudian menggambil kertas itu dan membacanya, tanpa disadari bahwa ternyata kertas tersebut bertulisan syahadatain yang ditulis dengan menggunakan bahasa Arab.

Melihat kejadian tersebut, Seketika itu Sunan Kalijaga bermunajat kepada Tuhan yang maha kuasa untuk mencari tahu tabir yang terdapat pada tulang-belulang manusia yang kondisinya masih hidup ini.

Dengan izin Tuhan yang maha kuasa Sunan Kalijaga mengetahui dan memahami ternyata tulang-belulang yang ada dihadapanya adalah tulang-belulang raja Amartapura yaitu putra sulung dari lima bersaudara yang lazim biasa disebut Pandawa Lima.

Tujuan Raja Amartapura tersebut ingin mencari guru suci yang dapat menyempurnakan hidupnya untuk menyatukan diri kepada sang pencipta. Karena, sudah berabad-abad belum bisa bertemu dengn titik kematian yang sempurna.

Baca Juga:  Tiga Datuk Penyebar Islam di Sulawesi Selatan

Setelah sekian lama menunggu maka bertemulah ia dengan guru suci tanah Jawa yaitu Sunan Kalijaga. Dari sinilah beliau Sunan Kalijaga terinspirasi bahwa setelah  pembukaan shalat jum’at pertama di masjid Demak, Sunan Kalijaga akan mementaskan pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon “Tumurune Wahyu Jamus Kalimasada” sesuai dengan apa yang didapat Sunan Kalijaga melalui cerita yang diceritakan tulang-belulang raja Amartapura kepada Sunan Kalijaga.

M. Dani Habibi, M. Ag