Kisah Perempuan yang Ingin Membakar Surga dan Memadamkan Neraka

Rabiah Al Adawiyah

Pecihitam.org – Nama Rabiah Al Adawiyah dalam jagad dunia tasawuf cukup melegenda. Selain seorang wali perempuan, ia juga dijuluki Syahidatul ‘Isyqil Ilahi (wanita yang syahid oleh kerinduan ilahi).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Rabiah Al-Adawiyah lahir dan meninggal di Basrah, Irak. Banyak versi mengenai tahun lahir dan wafatnya. Namun yang jelas, sufi wanita yang sangat terkenal ini hidup di abad ke-2 Hijriah. Adapun orang pertama yang mendokumentasikan kisahnya adalah Al-Jahizh dalam kitab Al-Bayan wa al-Tabyin.

Dr. Rasyid Salim Al-Jarrah pernah menulis tentang biografi Rabiah al Adawiyah ini. Disebutkan bahwa kehidupan pahit Rabi’ah sudah ia jalani sejak masa kecil ketika sang ayah meninggal dan ia tak punya apa-apa untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Dari situ kemudian dikisahkan Rabi’ah menjadi seorang budak, walaupun memang belum ditemukan sumber bagaimana awal mula dan sebab ia menjadi seorag budak. Ketika menjaid budak, Rabiah memiliki majikan yang dzolim. Kemudian hari majikan tersebut menjualnya pada seorang lelaki yang ternyat lebih dhalim lagi.

Baca Juga:  Kisah Ulama Indonesia Selamatkan Makam Nabi Muhammad yang Mau Dibongkar

Pada suatu malam, sang majikan baru ini mendengar suara menggema dalam rumahnya, ia lalu keluar kamar mencari dari mana sumber suara, yang ternyata bersumber dari kamar Rabi’ah. Kedua matanya lalu melihat hal yang tak dapat ia cerna dengan akal. Majikan itu takjub karena melihat dan mendengar Rabi’ah yang sedang bermunajat dengan memancarkan cahaya iman.

Keesokan harinya, sang manjikan langsung membebaskan Rabi’ah dari status budaknya. “Engkau kini merdeka dan telah bebas, Rabi’ah. Kau boleh tinggal di sini atau pergi ke mana kau suka” katanya. Rabi’ah pun memilih pergi.

Mengenai ilmu ikhlas Rabiah banyak dinukilkan di berbagai kitab tasawuf. Ia dikenal dengan keikhlasannya dalm beribadah hingga tak ada lagi di relung hatinya untuk takut terhadap neraka ataupun mengharap surga.

Al-Zabidi dalam Syarh Ihya ‘Ulumuddin menceritakan kisah tentang Sufyan Al-Tsauri dan Rabi’ah. Al-Tsauri bertanya perihal hakikat iman Rabi’ah,

“Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka dan menginginkan surga seolah aku menjadi buruh tak patuh. ‘Jika takut majikan ia akan bekerja, jika dibayar ia baru akan bekerja.’ Aku menyembah-Nya karena cinta dan rinduku pada-Nya”.

Baca Juga:  Kisah Khalifah Umar bin Khattab Ketemu Calon Menantu

Tentang ikhlas ini ada sebuah kisah, bahwa suatu siang Rabiah al-Adawiyah tengah berjalan di Kota Baghdad sambil menenteng air dan memegangi obor di tangan kirinya.

Seseorang pun bertanya kepadanya hendak dikemanakan air dan obor tersebut? Rabiah al-Adawiyah pun menjawab: “Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air ini. Agar orang tidak lagi mengharapkan surga dan menakutkan neraka dalam ibadahnya.”

Keikhlasan ibadah Rabiah al Adawiyah adalah bukti bahwa jiwanya hanya ada Cinta dan Rindu kepada Allah semata tanpa tendensi yang lainya. Rabiah sudah tidak takut dan tidak merisaukan atas imbalan-imbalan ibadah yang dilakukan. Baginya, mencintai, menjalankan perintah dan mendekat kepada Allah adalah segalanya.

Allah berfirman dalam Alquran surah ar-Ra’d ayat 28-29 berbunyi:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَـَٔابٍ

Baca Juga:  Karomah KH Bisri Musthofa, Meralat Tafsir al Ibriz Setelah Wafat

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”

Meniru keikhlasan ibadah layaknya Rabiah al-Adawiyah memang terlihat berat bagi hamba seperti kita. Namun kisah tersebut seharusnya menggugah hati kita untuk lebih mendekat dan terus ibadah kepada-Nya.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik