Kitab Al Minhaj, Syarah An Nawawi Ala Muslim

syarah an nawawi ala muslim

Pecihitam.org – Nama Asli kitab ini adalah Al-Minhaj (المنهاج). Lengkapnya adalah Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim ibni Al-Hajjaj (المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاح). Hanya saja, dimasayarakt lebih tenar dengan nama Syarah An-Nawawi ‘ala Muslim” (شرح النووي على مسلم).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kitab ini adalah syarah untuk kitab hadits yang paling shahih setelah Shahih Bukhari yakni Shahih Muslim. Di antara sekian banyak syarah Shahih Muslim, syarah An-Nawawi inilah yang paling populer dan paling banyak manfaatnya.

Kitab ini juga termasuk kitab rujukan utama ulama-ulama mazhab Asy-Syafii. Tepatnya, dari sisi kekuatan, kitab ini menempati posisi setelah kitab “Al-Masa-il Al-Mantsuroh” yang merupakan kitab yang menghimpun fatwa-fatwa An-Nawawi.

Dalam muqoddimah kitab ini, Imam An-Nawawi mengawali dengan mengingatkan betapa aktivitas belajar dan menuntut ilmu itu adalah di antara cara beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah yang paling afdhol. Setelah itu beliau menekankan bahwa di antara sekian ilmu itu, yang terpenting di antaranya adalah ilmu memahami hadits-hadits Nabi baik secara riwayah maupun diroyah. Kajian hadits sangatlah penting karena sebagian besar hukum itu digali dan dijelaskan dari hadits. Bagi mujtahid, baik qodhi maupun mufti, mempelajari hadits-hadits hukum adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditinggalkan.

Imam Nawawi berpendapat bahwa kitab hadits yang paling shahih, bahkan kitab yang paling shahih di antara semua kitab (selain Al-Qur’an) hanyalah dua, yaitu Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Oleh karena itu, menjadi wajar jika dua kitab ini mendapatkan perhatian serius dalam hal syarah. Untuk Shahih Al-Bukhari, An-Nawawi sedang dalam proses menulis syarahnya saat menulis muqoddimah kitab “Al-Minhaj” ini dan beliau berharap Allah memberikan pertolongan-Nya untuk menyempurnakannya. Untuk Shahih Muslim, setelah beristikhoroh An-Nawawi berniat membuat syarah yang bersifat mutawassith (pertengahan). Tidak terlalu panjang yang membosankan dan tidak terlalu singkat yang bisa merusak makna.

Baca Juga:  Musnad Imam Asy Syafii Kumpulan Hadits Riwayat Imam Syafii

Imam Muslim sendiri dipuji oleh Imam Nawawi sebagai imam yang tiada tandingannya oleh siapapun setelah era dan zamannya. Ulama yang hidup semasa beliau pun juga sangat jarang yang menyamai, bahkan hanya mendekatinya sekalipun. Keutamaan Imam Muslim akan diketahui bagi siapapun yang serius mengkaji Shahih muslim kemudian meneliti bagaimana cara imam Muslim dalam menuliskan sanad, mengurutkannya, menyusunnya, membuat metode dalam melakukan tahqiq dan tadqiq, berhati-hati dan bersikap wara’ dalam meriwayatkan, kepiawaiannya dalam meringkas dan menghimpun, banyaknya telaah dan keluasan riwayat, dan semua hal yang tergolong keajaiban Imam Muslim.

Saat mensyarah Shahih Muslim ini akan kelihatan betul sedalam dan seluas apa ilmu yang dimiliki An-Nawawi. Kedalaman dan keluasan ilmu An-Nawawi bisa kita bayangkan ketika beliau mengatakan bahwa seandainya bukan karena lemahnya semangat belajar kaum muslimin yang berakibat tidak tersebarnya tulisan beliau, niscaya beliau akan menulis syarah Shohih muslim ini sebanyak 100 jilid lebih! Perkiraan syarah setebal 100 jilid pun ini semuanya penuh ilmu. Tidak ada tulisan yang bersifat pengulangan materi dan tidak ada tulisan yang bersifat sia-sia!

Adapun metode An-Nawawi dalam mensyarah, maka secara ringkas penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pertama-tama di awal kitab, An-Nawawi menuliskan muqoddimah penting terkait Shahih Muslim. Muqoddimah disusun berbentuk sub-sub bab agar mudah dipahami. Isinya secara umum adalah resensi An-Nawawi terhadap Shahih Muslim. Di dalamnya dibahas tentang sanad Shahih Muslim sampai zaman Imam Nawawi, keutamaannya dibandingkankitab hadits lainnya, kehati-hatian Imam Muslim dalam meriwayatkan dan lain sebagainya. Siapapun yang mengkaji dan mendalami ilmu mustholah hadits, pasti akan mendapatkan banyak manfaat dan ilmu baru saat menelaah muqoddimah An-Nawawi dalam kitab ini.

Setelah itu An-Nawawi membuat judul-judul bab sebelum memulai mensyarah satu hadis. Sebagian peneliti menyimpulkan bahwa penulisan judul bab dalam Syarah An-Nawawi ini diadopsi menjadi judul bab dalam cetakan Shahih Muslim. Hal itu dikarenakan manuskrip asli Shahih Muslim tidak didapati judul-judul bab pada kumpulan hadits-haditsnya. Oleh karenya ini dapat menunjukkan judul-judul bab itu dibuat bukan oleh Imam Muslim sendiri tapi ulama setelahnya dan ulama tersebut menurut sebagian peneliti adalah An-Nawawi.

Baca Juga:  Kitab Shahih Ibnu Hibban Karangan Imam Ibnu Hibban

Kemudian An-Nawawi mulai menjelaskan makna hadits. Dalam penjelasan makna ini, An-Nawawi akan menjelaskan makna lafaz yang diperkirakan perlu dijelaskan, menjelaskan nama perawi, melakukan dhobth lafaz, menjelaskan nama-nama orang yang populer dengan kunyahnya, menjelaskan nama-nama moyang perawi, menjelaskan nama-nama mubham, menjelaskan hal-hal terkait perawi yang jarang dibahas, menjelaskan dhobth nama muk’talaf -mukhtalaf, dan hal-hal yang terkait dengan sanad dan matan.

Jika ada hadis, nama orang, atau lafaz yang berulang maka An-Nawawi memberi syarah luas dan detail pada lokasi pertama kali ditemukan. Selanjutnya, di lokasi lain beliau hanya akan memberi notabene bahwa hal tersebut telah dibahas sebelumnya di bab atau subbab tertentu. Jika babnya terlalu jauh maka An-Nawawi biasanya tidak menyebut di bab apa, tapi hanya memberi isyarat bahwa hal tersebut telah dibahas sebelumnya.

Jika An-Nawawi menukil nama tokoh atau menukil sighat bahasa tertentu atau menjelaskan dhobth lafaz musykil tertentu atau menjelaskan makna hukum dan nukilan-nukilan lainnya, maka jika hal-hal tersebut termasuk informasi yang masyhur beliau tidak menisbatkan pada orang tertentu (karena akan terlalu banyak jika disebutkan semua). Adapun jika hal-hal tadi termasuk informasi yang tidak masyhur maka An-Nawawi akan menyebutkan siapa yang mengucapkannya.

Setelah itu An-Nawawi akan masuk pada penjelasan makna hadis secara lebih spesifik. Pada bagian ini, An-Nawawi menjelaskan hukum induk, hukum cabang/rincian, menjelaskaan adab, menjelskan ilmu zuhud, menjelaskan dasar-dasar kaidah syar’i, mengkompromikan hadits-hadits yang dhohirnya bertentangan, menjelasakan aspek-aspek praktis dalam hadits, dan menjelaskan dalil-dalil topik tertentu secara singkat (kecuali dalam kondisi tertentu yang perlu panjang lebar). Dalam menulis syarahnya An-Nawawi selalu berusaha menyajikannya dengan bahasa yang ringkas dan sejelas mungkin.

Baca Juga:  Kitab Sunan Al Kubra Karangan Imam Al Baihaqi

Kadang-kadang An-Nawawi juga membahas nilai dan kualitas hadits sebagai pelengkap takhrij secara lebih mendalam. Kadang-kadang beliau juga membahas persoalan mushtholah hadits seperti saat membahas “ziyadah tsiqot”. Beliau juga membahas “jarh” dan “ta’dil” perawi.

Dalam mensyarah, An-Nawawi meskipun bermazhab Asy-Syafi’i tetapi beliau tidak segan-segan menguatkan pendapat mazhab selain Asy-Syafi’i jika memang kuat dalilnya seperti pada kasus persusuan yang berkonsekunsi membuat hukum mahram.

Sejumlah ulama ada yang membuatkan muktashornya, membuat komentar singkat, bahkan ada juga mengkritik sebagian isinya. Di antara yang membuatkan mukhtashornya ialah Al-Qunawi yang bermazhab Hanafi (w. 788 H). As-Sakhowi dalam “Al-Jawahir wa Ad-Duror fi Tarjamati Syaikhi Al-Islam Ibni Hajar” menyebut bahwa Ibnu Hajar juga mengarang catatan-catatan kecil (nukat) untuk syarah An-Nawawi ini. Hanya saja karangan tersebut tidak tuntas

Manuskrip kitab Syarah An-Nawawi Ala Muslim bisa ditemukan di sejumlah tempat, di antaranya Perpustakaan Markaz Al-Malik Faishol li Al-Buhuts wa Ad-Dirosat Al-Islamiyyah di Riyadh; Saudi Arabia, Khizanatu Qozwin, di Fas; Maroko, dan lain-lain. Sebagian orang berpendapat terbitan Dar Al-Ma’rifah yang ditahqiq oleh Kholil Ma’mun Syiha adalah terbitan terbaik untuk kitab ini. Sebagian lagi berpendapat yang bagus adalah terbitan At-Turkiyah.

Silahkan download kitab tersebut pada link dibawah ini:

Syarah An-Nawawi ‘ala Muslim

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *