Kitab Gundul, Kurikulum Pesantren yang Tak Lekang Oleh Zaman

Kitab Gundul, Kurikulum Pesantren yang Tak Lekang Oleh Zaman

PeciHitam.org – Dalam dunia pesantren, merupakan suatu keniscayaan bahwa memadukan pembelajaran ilmu al-Quran dan pengkajian kitab gundul dengan tanpa mengutamakan salah satunya. Sebab, al-Quran, sejatinya tidak sebatas mampu dibaca dan dihafalkan saja, tetapi tahapan terpentingnya adalah dipahami untuk kemudian diamalkan dalam keseharian. Melalui kitab gundul inilah santri belajar mengenai tafsir untuk memahami isi kandungan al-Quran.

Sistem pengajaran pesantren di Indonesia atau dulunya disebut Nusantara, memang awalnya merujuk pada pembelajaran agama di Timur Tengah. Melalui pesantren pula, siapapun orangnya, baik yang dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa, dapat memperoleh pendidikan yang sama terutama dalam bidang agama. Hal ini tentu menjembantani hak belajar dan menuntut ilmu yang tadinya hanya dimiliki oleh kaum bangsawan, menjadi milik setiap masyarakat.

Bagi seorang muslim, memahami al-Quran merupakan bukanlah perkara yang mudah. Ia harus memahami gramatikal Bahasa Arab. Itulah sebabnya pada kelas diniyah (dasar), seorang santri dididik untuk mempelajari bahasa arab meliputi ilmu nahwu dan sharaf. Setelah mampu memahami ilmu alatnya, yaitu nahwu dan sharaf inilah, baru dilanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu kitab gundul (kitab kuning).

Baca Juga:  Sarung dan Santri; Dua Entitas yang Tak Terpisahkan

Pesantren menerapkan pendidikan berbasis kitab kuning. Penyebutan kitab kuning ini berdasarkan penggunaan kertas berwarna kuning dalam mencetak kitab tersebut. Meskipun sekarang ini banyak cetakan kitab yang menggunakan kertas berwarna putih namun tetap saja, disebut kitab kuning.

Karya-karya ulama klasik sekitar abad ke-16 yang dicetak dengan menggunakan kertas kuning ini, dibawa oleh ulama Nusantara yang belajar di Timur Tengah (Jazirah Arab; seperti Mekkah dan Madinah) untuk dipelajari di pesantren-pesantren. Karya-karya ulama ini mencakup keilmuan fiqh, al-Quran, hadis, tasawuf, gramatikal Arab, sastra, dan lain sebagainya.

Di pesantren inilah kitab turats digunakan sebagai acuan kurrikulum. Kitab yang berhaluan paham Ahlu as-Sunnah wa al-Jamaah (aswaja). Dalam kitab Naḥnu wa at-Turats, Muhammad Abid al-Jabiri juga menyebutkan bahwa ulama Nusantara terdahulu sudah menyaring kitab-kitab ulama klasik yang berpaham Ahlu as-Sunnah wa al-Jamaah.

Akhir-akhir ini, pesantren menyesuaikan diri dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat posisi pesantren yang dibutuhkan dalam menjadi banteng terakhir dalam menjaga keseimbangan duniawi dan ukhrawi. Ada dua macam pesantren jika dilihat dari pola pendidikannya, yaitu pesantren salafiyyah dan pesantren khalafiyah.

Baca Juga:  Hubungan Antara Pesantren, Santri dan Kyai, Apa Sajakah Itu?

Pesantren salafiyyah ialah pesantren yang masih menerapkan pola pembelajaran tradisional atau tetap memegang teguh tradisi (kultur) awal pesantren. Sedangkan pesantren khalafiyyah ialah pesantren yang sudah menerapkan atau menambahkan pola pembelajaran modern.

Hal yang membedakan antara pesantren, khususnya pesantren tradisional dan sekolah-sekolah formal yaitu pada kultur yang dibangun, mengenal istilah khidmah (mengabdi pada masyayikh) yang dipercaya mampu mendapatkan keberkahan. Hal ini dipadukan dengan kultur masyarakat Jawa yang begitu hormat menjunjung tinggi tata krama dengan orang yang lebih tua atau yang lebih berilmu.

Tradisi ini mengadopsi hubungan antara guru dan murid di Timur Tengah yang penuh ketawadhuan. Tidak hanya itu, pengajiannya menerapkan konsep sorogan (individu) dan bandongan (kolektif) juga mengadopsi konsep dari sana.

Baca Juga:  Bisakah Bu Nyai Menjadi Penguasa di Lingkungan Pesantren?

Baik al-Quran maupun kitab kuning ini, dapat kita pelajari sepenuhnya secara paripurna hanya didapat melalui pembelajaran di pesantren. Sebab jelas bahwa keilmuan pesantren merupakan sumber dan sanad keilmuannya muttasil (tersambung) hingga sampai ke Rasulullah.

Sehingga dengan kata lain, keilmuannya dapat dipertanggungjawabkan melalui proses bimbingan yang intens antara guru dan murid. Tidak heran jika pemahamannya mampu berimbang antara pemahaman nushush (makna tersurat) dan maqashid (makna tersirat).

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG