Kitab Shahih Ibnu Hibban Karangan Imam Ibnu Hibban

kitab shahih ibnu hibban

Pecihitam.org – Sebelum menjadi kitab yang berjudul Shahih Ibnu Hibban yang dikenal saat ini, judul asli dari kitab ini ialah At-Taqasim wa Al-Anwa. Nama lengkap kitab ini sesuai yang diberi oleh penulisnya ialah Al-Musnad Ash-Shahih ‘Ala At-Taqasim wa Al-Anwa min Gairi Wujud Qath’in fi Sanadiha wa La Tsubut Jarhin fi Naqiliha (Musnad yang shahih berdasarkan pembagian-pembagian dan jenis-jenis tanpa ada keterputusan dalam sanadnya dan tanpa tetapnya cacat pada orang-orang yang meriwayatkannya).

Dalam penamaan kitab ini, Imam Ibnu Hibban mengikuti gurunya, Ibnu Khuzaimah, Dan juga lebih di kenal dengan judul Al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibni Hibban. Namun, kitab Shahih Ibnu Hibban saat ini telah tercetak dengan judul Shahih Ibnu Hibban bi at-Tartib Ibni Balban (Shahih Ibnu Hibban dengan penataan Ibnu Balban), sebagaimana perincian dibawah ini;

  • Nama kitab: Shahih Ibnu Hibban bi at-Tartib Ibni Balban (صحيح ابن حبّان بترتب ابن بلبان)
  • Jumlah jilid: 18 Jilid
  • Tahun terbit: 1997
  • Penerbit: Muasasah ar-Risalah, Beirut, Lebanon

Kemudian dapat diketahui bahwa dahulu naskah kitab ini pertama terbit pada akhir abad ke-8. Penertbitan kitab tersebut dari Dar Al-Kutub Al-Mishriyah. Pada naskah tersebut, tidak terdapat nama dan tanggal penyalinan. Kitab tersebut berjumlah sembilan jilid.

Motivasi Penulisan Kitab

Ibnu Hibban mengatakankan bahwa motivasinya untuk menulis kitab ini ialah karena ia melihat jalur-jalur riwayat khabar yang sangat banyak, sedikitnya pengetahuan orang-orang tentang hadist-hadist yang shahih, kesibukkan mereka dengan khabar-khabar yang palsu dan menghapal khabar-khabar yang terbolak-balik dan salah. Selain itu, kebanyakan orangf-orang hanya bersandar pada apa yang ada di dalam kitab-kitab tanpa mau menghapalnya dan menyimpannya dalam hati mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Baca Juga:  Mengenal Kitab Tabyin al-Islah Karya KH. Ahmad Rifa'i

Mengapa Dinamakan Kitab Shahih?

Kitab ini ditahqiq oleh Amir Ala’uddin al-Farisi dengan diberi judul al-Ihsan Taqrib Shahih Ibnu Hibban. Karena penilaian shahih pada hadits-hadits ini berdasarkan kepada Ibnu Hiban dalam menilai tsiqah orang yang tertutup, sesuai dengan metode yang ditetapkan dan disyaratkan dalam penilaian hadis itu. Itu sebabnya penahqiq juga melakukan kajian ulang terhadap sanad dengan tujuan mengetahui sejauh mana kesesuaiannya dengan syarat hadits shahih menurut jumhur ulama. Salah satunya seperti syarat yang ditetapkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Dan penahqiq juga memberikan keterangan pada kitabnya, seperti ungkapan, “Sanadnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim”, “Berdasarkan syarat Bukhhari”, atau “berdasarkan syarat Muslim”.

Karena penyusunannya yang unik dan kekuatan penyusunannya yang menjadi sulit, sehingga sebagian banyak orang menjauhinya dan ceceran-cecerannya sulit ditangkap. Untuk itulah, kitab yang ditahqiq oleh amir Alauddin al-Farisi inilah yang menjadi landasan penerbit dalam menerbitkan kitab ini dan lebih dikenal dengan judul Shahih Ibnu Hibban yang diambil dari judul yang diberi oleh penahqiq sendiri.

Syarat-syaratnya Dalam Menentukan Status Perawi Hadits

Ibnu Hibban telah menetapkan syarat perawi dalam judul kitabnya, “Tanpa ada keterputusan dalam sanadnya dan tanpa tetapnya aib pada orang-orang yang meriwayatkannya.” Ibnu Hibban tidak mengambil hujjah padanya kecuali dengan hadits yang terhimpun lima sifat pada setiap syaikh perawinya. Lima sifat tersebut ialah:

a. ‘Adallah (agama dengan kondisi yang bagus atau sifat asli perawi)
b. Kejujuran dalam hadis dengan kemasyhuran dalam hal itu
c. Pemahaman terhadap hadis yang diriwayatkan
d. Pengetahuan tentang apa yang dapat mengalihkan makna-makna hadis yang ia riwayatkan.
e. Khabarnya terlepas dari tadlis.

Ibnu Hibban berkata: “Setiap orang yang padanya terkumpul lima sifat ini, maka dapat berhujjah dengan haditsnya dan mengutip riwayatnya. Dan setiap orang yang terlepas dari salah satu sifat dari lima diatas, maka tidak dapat di ambil hujjah darinya.”

Ulama banyak mengkritik kepada Ibnu Hibban tentang penentuan tsiqah atau tidak tsiqahnya perawi. Menurut mereka bahwa Ibnu Hibban terlalu keterlaluan dan berlebihan dalam menilai ketsiqahan perawi, sebagaimana Ibnu Hibban juga ditentang dalam menyatakan suatu cacatnya hadits..
Sebagian lain ada juga yang menganggap Ibnu Hibban terlalu longgar dalam menilai ketsiqahan perawi. Mereka menilai banyak terdapat tsiqah yang pantas dinyatakan cacat.

Baca Juga:  Kitab Ummul Barahin, Matan Sanusiyah Karya Imam as-Sanusi

Namun, pandangan ini dibantah oleh Al-Laknawi yang mengatakan bahwa Ibnu Hibban termasuk ke dalam orang-orang yang ketat dan berlebihan dalam menilai aib para periwayat dan tidak mungkin melakukan kelonggaran dalam menyatakan adil para periwayat. As-Sakhawi juga menentang pendapat di atas terkait dengan kelonggaran Ibnu Hibban. Dia mengatakan bahwa penisbatan kepada kelonggaran itu berdasarkan keberadaan hadits hasan dalam kitabnya, maka itu hanyalah pertentangan dalam terminologi, karenanya ia menamakannya sebagai hadits shahih.

Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Hibban menilai tsiqah orang yang kondisinya tertutup yaitu selama tidak ada penilaian aib dan penilaian ‘adil (‘adalah) terhadapnya. Setiap syeikh dan perawi yang meriwayatkan darinya adalah orang yang tsiqah, dan dia tidak pernah mendatangkan hadis yang munkar.

Sistematika Penyusunan Kitab Shahih Ibnu Hibban

Dalam menata kitabnya, Ibnu Hibban menerapkan sebuah metode asing yang dihasilkan oleh daya nalarnya yang diwarnai dengan kemampuan untuk menyusun dan berkreasi, serta diprogram dengan ilmu ushul dan ilmu kalam. Setiap qism mencakup nau’ (jenis-jenis) dan setiap nau’ mencakup hadis-hadis. Maksudnya dalam hal ini ialah adalah mengikuti penataan Al-Quran, sebab setiap Al Quran terdiri dari juz-juz. Setiap juz mencakup surah-surah. Dan setiap surah mencakup ayat-ayat. Sebagaimana sulit bagi seseorang untuk mengetahui tempat ayat tertentu dalam Al-Qur`an kecuali dengan menghapalnya, sehingga seluruh ayat akan berada di depan kedua matanya. Maka demikian pula sulit baginya untuk mengetahui hadits tertentu di dalam kitabnya apabila orang itu tidak pernah bermaksud untuk menghapalnya.

Baca Juga:  Kitab Al Hikam karya Syekh Ibnu Atthoillah Iskandari

Amir ‘Ala`uddin al-Farisi menanggapi bahwa keunikan pengerjaannya dan kekuatan penyusunannya menjadi sulit, sehingga banyak orang yang menjauhinya. Oleh karena itu, kebutuhan hadis shahih dalam kitabnya sangat dibutuhkan, para imam (ahli hadis) membuat berbagai strategi untuk mendekatkan dan memudahkan jalan-jalannya, dan membuka pintu-pintunya agar mudah di pahami. Mereka menempuh dua cara itu, yakni;

a) Pertama, membuat indeks berdasarkan penyebutan ujung-ujung hadisnya.
b) Kedua, menata kembali berdasarkan bab-bab fikih, sehingga bentuknya menjadi bentuk kitab-kitab sunnah lainnya, yang mudah untuk menemukan hadis apa saja di dalamnya.

Kekurangan dan Kelebihan Kitab Shahih Ibnu Hibban

Kekurangan yang terdapat pada kitab ini, yakni;
Penyusunan yang dilakukan oleh Ibnu Hibban aneh dan asing yang tidak pernah dipakai ulama ahli hadis lainnya sehingga untuk mencari hadis di dalamnya menjadi susah. Dalam melakukan istinbath, Ibnu Hibban kadang-kadang melakukan hal yang aneh dan asing mengenai apa yang dia simpulkan dan dan dipandangnya, sehingga dia mendapatkan dalam nash sesuatu yang tidak terlintas dalam hati seorang pun. Adapun kelebihannya ialah terlihat pada jalur riwayatnya (dalam hadits) tidak terjadi keterputusan sanad dan tanpa tetapnya aib pada orang-orang yang meriwayatkannya dan mengandung faedah-faedah yang langka.

Silahkan download kitab tersebut pada link dibawah ini:

Kitab Shahih Ibnu Hibban Karya Imam Ibnu Hibban

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.