Kitab Sullamul Munawraq (Ilmu Mantiq), Karya Syekh Abdurrahman al-Akhdhori

kitab sullamul munawraq

Pecihitam.org – Ilmu Mantiq (ilmu logika) umumnya diajarkan di jenjang terakhir, dan wajib dihafalkan berbarengan dengan ilmu balaghah. Yaitu setelah santri belajar bermacam-macam ilmu, seperti nahwu-sharaf (gramatika bahasa Arab), fiqh dan ilmu ushul-nya, hadits dan ilmu musthalaah-nya, tauhid dan kitab-kitab lainnya. Umumnya ilmu mantiq dipelajari, setelah santri mengkhatamkan kitab Alfiyah Ibni Malik.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kitab ilmu mantiq yang lazim diajarkan di pesantren Indonesia adalah kitab Sullamul Munawraq karya Syekh Abdurrahman bin Muhammad al-Akhdhori, yang hidup di abad 10 H atau abad 16 M.

Ilmu mantiq dalam kitab ini diuraikan dalam bentuk nazam, yang baitnya berjumlah seratus empat puluh empat. Kitab ini sering dipelajari bersama kitab syarah-nya, seperti kitab Idhahul Mubham karya Syekh Ahmad al-Damanhuri dan kitab Taqrirat terbitan Pesantren Lirboyo.

Penulis kitab (Mushonif) mengawali kitabnya ini dengan memuji Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Kemudian menjelaskan pengertian sekaligus kegunaan ilmu mantiq.

Menurut penulis, posisi ilmu mantiq bagi pikiran layaknya ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab) bagi lisan. Orang yang menguasai dan menggunakan kaidah-kaidah ilmu mantiq akan terbebas dari berpikir yang salah. Dan terbuka baginya dari pemahaman yang rumit, seperti halnya orang yang mengusai dan menggunakan ilmu nahwu, akan terhindar dari kesalahan pengucapan dalam bahasa Arab. Dan mampu memahami kata-kata yang tersusun dalam bahasa Arab yang rumit.

Baca Juga:  Kitab Al Umm Karya Imam As Syafii, Kitab Induk Madzhab Syafii

Sebelum masuk pembahasan mengenai ilmu mantiq, Syekh al-Akhdhori lebih dulu memaparkan beberapa pendapat ulama perihal mempelajari ilmu ini.

Ibnu Shalah (1181-1243 M) dan Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi (1233-1277 M) mengharamkan. Sedangkan beberapa ulama lain menganjurkan, diantaranya Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (1059-1111 M).

Sebagaimana terekam dalam kitab Idhahul Mubham, Imam Ghazali bahkan pernah mengatakan, orang yang tak mengerti mantiq, pengetahuannya tak dapat dipercaya (tak dapat dipertanggungjawabkan).

Lalu, menurut pendapat yang masyhur lagi sahih, boleh mempelajari ilmu mantiq bagi mereka yang akalnya sudah sempurna dan betul-betul memahami al-Qur’an dan Hadits.

Mungkin pendapat ke tiga ini yang melandasi ilmu mantiq dipelajari di pesantren umumnya. Ketika santri telah mampu membaca Alquran dengan baik dan mempelajari ilmu fiqh. (Seperti kitab Fathul Qorib), ushul fiqh (seperti kitab Waraqat dan Lathaiful Isyarat) , ilmu nahwu (seperti kitab Alfiyah Ibni Malik), ilmu sharaf, hadits (seperti kitab Bulughul Maram), ilmu musthalahul hadits (seperti kitab Baiquniyah), ilmu tafsir , ilmu tauhid (seperti kitab Kifayatul Awam dan Fathul Majid) dan sebagainya.

Kitab Sullamul Munawraq, walaupun terbilang sangat tipis, namun memuat beberapa bab dan fashal yang cukup banyak. Di mulai dari membahas berbagai macam ilmu baru, dalalah wadh’iyah, pembahasan lafadz-lafadz, menyamakan lafadz pada makna, kully-kullyyat dan juz ’I-juz’iyyat, pembagian mu’arrif, qodhiyah dan hukumnya, tanaqudh, ‘aksil mustawa, qiyas, syakal, susunan dalam qiyas, dan terakhir pembagian hujjah.

Baca Juga:  Simpanan Berharga, Warisan Tuan Guru Bangil untuk Aswaja

Pada, bab pertama pembahasan macam-macam ilmu baru, dijelaskan perihal tasawwur dan tashdiq. Contoh praktik tasawwur dan tashdiq dapat kita temukan, salah satunya di kitab ilmu tauhid, Fathul Majid karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Beliau mengatakan, (memberi label) hukum atas sesuatu merupakan cabang dari penggambaran atau pembuahan pikiran (tasawwur) terhadap sesuatu tersebut. Itulah mengapa, sebelum menjelaskan sifat-sifat Allah dan rasul-Nya, beliau mengetengahkan pengertian ke tiga katagori itu.

Sebagai gambaran di era informasi sekarang ini, kadang kita terburu-buru melakukan tashdiq tanpa terlebih dahulu ber-tashawwur secara valid.

Padahal urutannya tashdiq itu setelah tashawwur. Shahih dan tidaknya tashdiq bergantung pada tashawur-nya. Praktik semacam ini membahayakan, karena sikap kita terhadap suatu hal berpotensi bertolak belakang dengan kenyataannya.

Ada pesan dari penulis kitab Sullamul Munawraq yang fenomenal ini. Yaitu satu hal relevan dengan kita yang sering terburu-buru. Pada bait-bait akhir, beliau meminta dimaafkan kalau terdapat kesalahan dalam kitabnya, dan supaya pembaca berkenan membetulkan.

Namun beliau mewanti-wanti, dalam memperbaiki tidaklah berdasarkan pembacaan yang sepintas tapi dengan angan-angan. Beliau juga mengutip pepatah: “Betapa banyak seseorang yang melakukan perubahan atas sesuatu yang telah benar, karena salahnya pemahaman”

Selain menulis kitab Sullamul Munawraq ini, Syekh Abdurrahman al-Akhdhori juga menulis karya lain yang banyak dipelajari juga di mayoritas pesantren Indonesia, yakni kitab Jauharul Ma’nun. Kitab ini menjelaskan tentang ilmu ma’ani, badi’ dan bayan (Ilmu Balaghoh), yang bisa membantu dalam memahami bahasa Al-Quran.

Baca Juga:  Mengenal Tafsir al-Iklil fi Ma’ani al-Tanzil Karya KH Misbah Mustofa

Syekh Abdurrahman al-Akhdhori juga salah satu sufi yang doanya mustajab, sebagaimana cerita Syekh Ahmad al-Damanhuri yang didengar dari gurunya, dan gurunya dari guru-gurunya. Satu lagi, beliau menulis kitab Sullamul Munawraq yang fenomenal itu, saat masih umur dua puluh satu tahun. Keren bukan?

Silahkan download kitab tersebut pada link dibawah ini:

Kitab Sullamul Munawraq karya Abdurrahman al-Akhdori

Penting: Kitab ini berbentuk digital, jika anda menemukan link download yang error atau isi kitab yang tidak sesuai dengan teks aslinya silahkan komentar dibawah atau kirimkan email ke redaksi. Dan disarankan lebih baik membeli kitab yang berbentuk cetakan asli dari penerbit terpercaya sebagai bentuk kehati-hatian. Terima kasih

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.