Kitab Syiir Ngudi Susilo Karya KH Bisri Mustofa

Kitab Syiir Ngudi Susilo Karya KH Bisri Mustofa

PeciHitam.org – KH Bisri Mustofa semasa hidupnya dikenal sebagai seorang orator ulung, kritis, dan humoris. Beliau merupakan muassis (pendiri) Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, yang sekarang diasuh oleh putranya yaitu KH Mustofa Bisri.

Di masa mudanya, beliau mengenyam pendidikan pesantren dengan berguru kepada Kiai Cholil Kasingan Rembang yang kemudian menjadi mertuanya. Beliau juga pernah menimba ilmu ke Makkah.

Di Makkah, beliau berguru kepada beberapa ulama besar, antara lain seperti Syaikh Umar Khamcan, Syaikh Ali Maliki, Syaikh Hasan Masysyath, Sayyid Alawi Al-Maliki, dan lain sebagainya. Beliau termasuk ulama yang produktif, terbukti dengan adanya karya monumental beliau yaitu Tafsir al-Ibriz. Selain Tafsir al-Ibriz, beliau juga membuat karya sederhana sebagai buku pedoman santri yang disebut sebagai Syiir Ngudi Susilo.

Kitab Syiir Ngudi Susilo karya KH Bisri Mustofa yang ditulis di Rembang pada bulan Jumadil akhir 1373 H/ Februari 1954 M. Hal ini tercantum dalam kitabnya pada halaman 16, yaitu halaman terakhir kitab ini.

Pada bagian judul halaman pertama, tertulis kalimat dengan aksara pegon: “Syi’ir Ngudi Susila, suka pitedah kanthi terwela, dening Kiai Bisri Mustofa Rembang” (Syair Ngudi Susila,untuk petunjuk yang jelas, oleh Kiai Bisri Mustofa Rembang).

Baca Juga:  Islam Nusantara Anti Arab? Pahami Dulu Penjelasan Ini!

Kitab ini dicetak oleh penerbit Menara Kudus yang ditulis dalam aksara pegon (huruf Arab). Sesuai dengan judulnya, kitab Syi’ir Ngudi Susila ini fokus membahas persoalan budi pekerti (susila) pada suatu kurun historis di mana pada masa tersebut, KH Bisri Mustofa berada pada wilayah (arena) politik Indonesia jelang Pemilu 1955.

Bagian Pembuka isi kitab berupa lafadz basmalah dengan menggunakan huruf Arab. Di bawahnya terdapat dua baris shalawat Nabi. Dilanjutkan 24 baris syair beraksara Arab pegon.

Selanjutnya terdapat 9 bagian yang juga menggunakan huruf Arab pegon. 8 bagian itu adalah:

  1. Pembuka (muqaddimah) berisi 26 baris.
  2. bab ambagi wektu (bab membagi waktu) berisi 14 baris
  3. ing pamulangan (di tempat belajar), 12 baris
  4. mulih saking pamulangan(pulang dari tempat belajar), 4 baris,
  5. ana ing umah (berada di rumah), 10 baris
  6. karo guru (kepada guru), 6 baris
  7. ana tamu (ada tamu), 16 baris
  8. sikep lan lagak (sikap dan tindakan), 26 baris
  9. cita-cita luhur (cita-cita mulia), 46 baris.

Shalawat pada bagian pembuka dijadikan sebagai kunci nada, sehingga bait syair ini bersajak aa aa. Terdapat dua bait shalawat yang diulang. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pembaca dalam melafalkan dan memberikan irama syair tersebut. Berikut ini transliterasi bagian shalawat pembuka dalam kitab tersebut:

Baca Juga:  Ini Dia Karya Ulama Nusantara yang Dipelajari di Thailand

Shalaatullaahi maa laa hat kawaakib

‘ala ahmadu khairi man rakiban najaaib

Shalaatullaahi maa laa hat kawaakib

‘ala ahmadu khairi man rakiban najaaib

Tidak termasuk bagian pembuka, jumlah baris pada 8 bagian setelahnya adalah 134 baris. Adapun penutup hanya berupa tulisan kata‘tammat’ dalam huruf Arab. Dengan demikian, jumlah keseluruhan dalam kitab ini adalah 160 baris bait syair.

Ciri khas yang paling menonjol dari kitab Syi’ir Ngudi Susilo karya KH Bisri Mustofa yaitu syairnya bersajak aa bb, terkadang juga bersajak aa aa, sehingga baik para pembaca maupun pendengarnya dapat menikmati rima yang begitu indah dengan kedalaman makna yang luar biasa. Sebagai penutup, kami tuliskan syi’ir pada sub bagian kesembilan kitab ini:

Anak Islam kudu cita-cita luhur – Anak Islam harus bercita-cita mulia

Keben dunya akhirate bisa makmur – supaya bisa makmur dunia akhiratnya

Cukup ngilmu ngumume lan agamane – cukup ilmu umum dan agamanya

Cukup dunya kanthi bekti pengerane – cukup dunia hingga bakti kepada Tuhannya

Baca Juga:  Islam dan Pancasila, Mengapa Tak Perlu Dipertentangkan?

Bisa mimpin sedulure lan bangsane – dapat memimpin saudara dan bangsa

Tumuju ring raharjan lan kemulyane – menuju sejahtera dan mulia

Iku kabeh ora gampang leksananae – itu semua tak mudah jalannya

Lamon ora kawit cilik ta citane – jika tak sedari kecil cita-citanya

Cita-cita kudu dikanthi gumergut – cita-cita harus diraih sekuatnya

Ngudi ngilmu sarta pekerti kang patut – cari ilmu dan pekerti yang patut

Kita iki bakal tinggal wong tuwa – kita ini akan meninggalkan orangtua

Ora kena ora kita mesthi mowa – mau tak mau kita harus dewasa

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG